Pagi ini aku memang sengaja bergegas menyelesaikan pendaftaran ISBN. Untuk jaga-jaga saja. Biasanya, ISBN terbit sesuai janji Perpusnas: tiga hari kerja. Namun, belakangan ini sering molor, bisa sampai tujuh hari kerja.
Baru saja mematikan komputer, pesan WhatsApp masuk ke ponselku.
“Bro, lu di mana?”
“Di rumah. Tumben ente pagi-pagi nge-WA?”
“Haha, gue juga salat Subuh kali… Btw gue lagi di rumah Bu Merry nih. Dia minta dicariin orang yang bisa antar ART-nya PP ke pesantren. Hari ini dia minta izin jenguk anaknya dulu di pesantren. Ojeg motor aja.”
“Terus?”
“Lu sibuk, nggak?”
“Wah, nggak enak nih kedengerannya…”
“Please? Lumayan lah uang ganti bensinnya.”
Et dah, book publisher diminta jadi babang ojek? Tapi nggak ada salahnya juga sih. Lagian hari ini aku memang nggak ada rencana ke mana-mana. Baru beresin buku, tadinya mau nyantai aja.
Tiba-tiba aku teringat nasihat seorang teman, “Sekecil apa pun rezeki, jangan ditolak.” Akhirnya aku ambil juga tawaran itu. Lumayan lah, siapa tahu dapat bahan tulisan dari pengalaman sehari menjadi babang ojek, hehe.
Sambil nunggu Si Mbak di parkiran pesantren, aku duduk di motor dan buka-buka ponsel. Tiba-tiba ada santri laki-laki menghampiri.
“Pak, boleh ikut nelepon?”
“Oh boleh, mau nelepon siapa?”
“Nelepon Ibu.”
Sesaat kemudian, aku perhatikan anak itu sibuk menelepon ibunya. Ada rasa cemas terlihat dari raut wajahnya.
“Pak, boleh ikut nelepon sekali lagi?”
“Oh boleh, mau nelepon siapa?”
“Nelepon Bapak.”
Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya anak itu mengembalikan ponselku.
“Nggak aktif, ya?”
“Iya, Pak.”
Raut wajahnya berubah sedih. Sepertinya anak ini belum ditengok oleh orang tuanya.
“Kamu punya uang?”
“Ada, Pak.”
“Bener kamu punya uang?”
Anak itu hanya diam. Aku teringat akan janji nominal fee ngojek Si Mbak. Tanpa pikir panjang, aku rogoh isi dompetku dan mengeluarkan uang sejumlah janji nominal fee ngojek tersebut. Biarlah, sepertinya uang itu bukan rezekiku. Mungkin hanya numpang lewat saja.
“Ini pegang, buat kamu.”
Anak itu kebingungan.
“Ambil. Jaga-jaga kalau orang tua kamu belum bisa datang menengok”.
Setelah tiba di lokasi semula, Si Mbak turun dan memberiku uang Rp 200.000.
“Makasih ya, Pak?”
“Iya, sama-sama, Mbak. Sebetulnya hari ini Mbak sudah menyedekahkan uang dua ratus ribu.”
Si Mbak tampak bingung. Aku pun segera pamit dan berlalu.
“Bro, lu di mana?”
“Baru beres anter Si Mbak ke rumah Bu Merry. Wah, ente durhaka, Bro!”
“Lha, kenapa?”
“Ente bilang lokasinya di kecamatan sono. Nyatanya, belok kanan dan lanjut naik bukit. Beda kecamatan itu.”
“Waduh, gue nggak tau. Si Mbak bilangnya di kecamatan sono. Tapi uang ganti bensinnya masih cukup, kan?”
“Boro-boro!”
Lalu aku pun menceritakan pengalaman di pesantren beberapa waktu sebelumnya.
“Haha, nggak nyangka lu masih berhati malaikat!”
“Subhanallah, ente pikir ane sedurjana apa?”
“Hehe, sorry. Nggak usah berkhotbah dulu, ya? Sini ke Wastukencana, gue traktir lu makan bakso iga.”
“Nah, kalau yang begini ane demen… Otw 10 menit!” []

Real Fact yg dikemas secara ringan dan menarik…
Wahhh inspirasi yang mencerahkan…