Oleh : Gusnawati Lukman
Happy Weekend Everyone…..
Hari Minggu ini Pena Anak Indonesia Soppeng mengadakan acara yang bertajuk bincang-bincang literasi(BBL) . Acara ini diadakan di Taman Kalong setelah Car Free Day (CFD).
Udara pagi yang sejuk dengan hembusan angin sepoi-sepoi, membuat jiwa begitu tenang, damai menikmati olahraga, olah jiwa, dan olah rasa. Alunan musik yang menghentak dari alun-alun tempat CFD berlangsung, serentak membuat suasana begitu ramai. Warga masyarakat yang hari ini menggunakan waktunya untuk melenturkan otot-otot persendian yang sudah mulai kaku akibat rutinitas pekerjaan yang padat, monoton, seakan-akan melampiaskan semuanya dengan bergoyang mengikuti irama musik. Sekali-kali irama musiknya berubah menjadi mendayu-dayu, anggun, diikuti dengan goyangan instruktur senam yang gemulai,indah disertai dengan senyum manis di bibirnya yang mungil.
Oh ya, kita flashback lagi ke Pena Anak Indonesia. Rumah jiwa di angkasa untuk anak-anak Indonesia ini merupakan ide brilian dari Bang Ruslan Ismail Mage (RIM) yang tergerak hati dan jiwanya untuk menyediakan panggung literasi bagi anak-anak generasi emas bangsa. Menyalakan lilin- lilin kecil yang kelak akan membesar seperti matahari yang menyinari seluruh semesta. Pena Anak Indonesia (PAI) merupakan rumah karya terbesar dan terindah bagi anak-anak yang ingin berjuang dan mengembangkan potensi dirinya dalam berliterasi membaca dan menulis. Karya-karya yang akan menjadi momentum mereka dalam “ self branding,self promotion, self confidence, dan high building creativities. Karya-karya besar yang akan menjadikan mereka terkenal. Mereka menulis untuk mendunia, mengukir peradaban agar tidak ditelan masa. Kelak, karya-karya mereka akan menjadi sebuah kitab besar, menjadi sebuah buku dan mencatatkan nama mereka dalam sejarah literasi. Mereka akan dikenang selamanya.
Dan begitu pula halnya dengan anak-anak cerdas dan kreatif di Bumi Latemmamala, Watansoppeng. Kehadiran rumah jiwa di angkasa ini seakan- akan menjadi embun penyejuk dikala mereka kehausan untuk menuangkan ide-ide baru, gagasan-gagasan luar biasa yang selama ini cuma terpendam di kedalaman yang tak terjangkau. Betapa banyak hal yang dirasakan, betapa banyak peristiwa yang terjadi, disaksikan terang benderang dengan mata kepala sendiri, didengar tanpa ada kebohongan, akhirnya hanya lenyap begitu saja. Mereka tidak punya wadah yang bisa menjadi tempat mencurahkan semuanya. Begitu PAI muncul, hanya dalam hitungan 3 bulan berdirinya, sudah ramai dan dipenuhi dengan karya – karya mereka yang imajinatif, visioner, dengan kreativitas tingkat tinggi. Sungguh mengagumkan.
Hari ini dalam acara bincang-bincang literasi yang mengangkat tema “hambatan dalam menulis”, mereka mengungkapkan kegembiraannya menjadi bagian dari keluarga besar Pena Anak Indonesia. Mereka bahagia karena sudah bisa menuangkan semua yang dirasakan, dilihat dan didengar dengan coretan-coretan penanya yang tidak pernah kering lagi. Pikiran-pikiran yang selama ini memenuhi otaknya, akhirnya bisa menjadi sebuah karya menarik yang dinikmati oleh khalayak.
Namun setelah berdiskusi panjang lebar, mereka pada umumnya mengeluhkan bahwa hambatan/ kendala mereka dalam berkarya adalah masalah waktu. Manajemen waktu yang kurang. Membagi dan mengatur waktu antara mengerjakan tugas-tugas sekolah yang tiap hari harus mereka selesaikan, sementara disisi lain mereka juga harus terus berkarya.
Ketika terjadi hal seperti ini, kita bisa pahami bersama karena mereka adalah seorang pelajar yang harus lebih mengutamakan belajar dan menyelesaikan tugas-tugas keilmuannya. Saat ini, menuntut ilmu dan mendapatkan pengetahuan di bangku sekolah adalah prioritas utama. Dan sesungguhnya, kita semua bangga dan kagum karena di sela-sela kesibukannya belajar, mereka masih menyempatkan diri untuk berbagi, berkarya dan menginspirasi teman-temannya untuk mengikuti jejak mereka. Semangat mereka tidak pernah kendor. Harapan besar yang mereka ungkapkan hari ini bahwa mereka akan selalu berada di rumah jiwanya untuk belajar, berkarya dan berprestasi.
Anak-anakku, jangan biarkan panggung itu kosong. Jangan biarkan lilin-lilin itu redup. Kalian adalah penerus perjuangan kami. Ketika kami harus istirahat, jiwa dan raga sudah lelah, engkaulah pelanjut tongkat estafet itu. Dan percayalah, doa kami akan selalu mengiringi langkah-langkahmu.
Watansoppeng, 5 Desember 2021
