Oleh : Ghinda Aprilia

Belum tentu setahun sekali saya meluangkan waktu untuk sekedar piknik bersama teman-teman. Tetapi pagi ini 31 Oktober 2021 hati tergerak untuk ikut gabung dengan Emak-emak dari KMF.

Dari Sham Shui Po menuju central kami bertemu dengan teman-teman yang lainnya. Keluar exit A nampak para kungyan lain dari Philipina dan Indonesia bergumul di depan Mtr Pak Dhe yang sedang sibuk razia.

Kami belok kanan naik eskalator, yang kebetulan tidak on, lumayan olahraga di pagi hari. Bernasib baik bekal yang saya bawa berpindah tangan, teman yang baik hati menenteng bawaan saya.

Jalan lurus mengikuti arah panah, hingga sampai di Dermaga Central, terlihat kumpulan Emak-emak berjilbab kuning sudah berkumpul.

Sampai di Dermaga langsung saya bagi-bagikan makanan untuk sarapan, tujuannya satu, biar tidak berat membawa. Sambil menikmati sarapan pagi dan menunggu teman yang lumayan jauh, kami bersenda gurau dan ambil foto dengan background Dermaga dan gedung-gedung pencakar langit.

Perut kenyang, waktunya siap-siap menuju Dermaga, kami antri naik First Ferry. Terasa cepat sekali Central – Cheung Chau, diselingi celoteh teman-teman, 50 menit kami sampai di tempat tujuan.

Kami ambil arah belok kanan, tiba saatnya makan siang di Resto Seafood. Perut belum terasa lapar, cuma karena rute yang akan kami tuju berbeda arah, jadi sekalian makan siang dulu.

Selesai menyantap nasi goreng Ham Yie, Salmon Krispi plus Sang Choi bertabur daging ikan. Kami belok kiri menuju Gembok Cinta, banyak cara untuk membuktikan rasa pasangannya. Menuliskan nama pasangan di gembok, kemudian mengaitkan gembok di tempat yang sudah disediakan. Dipercaya supaya cintanya abadi, kunci gemboknya dibuang.

Sekedar foto-foto, dan ada teman-teman yang mengabadikan namanya untuk di gantung di Gembok Cinta. Haha lumayan untuk 1 gembok kecil dibandrol dengan harga $40.

Selanjutnya rute perjalanan kami ke Pantai, lumayan indah melihat keindahan Hong Kong dari pulau lain. Pasir putih bersih, menambah indahnya pemandangan sekitar, suara deburan ombak menambah takjub akan kebesaran-Nya. Angin sepoi-sepoi, dan terik matahari yang tidak terlalu panas, karena ini pergantian cuaca winter.

Saya langsung ambil air wudhu menuju toilet di atas, kami ngampar di pantai tidak jauh dari toilet. Setelah itu saya melaksanakan shalat Dzuhur, ada sensasi yang lain ketika sujud, hembusan angin, suara ombak, serasa pengen lama-lama bersujud, memuji Asma-Mu.

Acara selanjutnya yaitu sharing dengan teman-teman KMF. Inilah tujuan utamanya saya ikut refreshing, bicara dari hati kehati tanpa kebisingan. Semakin siang di sela-sela kami sharing, ada bau pesing yang sangat menyengat hidung, mungkin itu dari wc. Mau pindah tanggung harus boyong-boyong amparan.

Setelah sharing beres, kami lanjutkan dengan terapi EFT. Mengajak teman-teman untuk rileks, belajar mengendalikan emosi.

Tak kalah seru sesi foto-foto, ada saja ulah Emak-emak yang spontan membuat kulit perut sakit, menahan ketawa. Sudah siap-siap eksyen tiba-tiba ada yang nyeletuk:

“Jangan dulu Bh (maaf) saya melorot.” 

Kami ngakak bersama dibuatnya. Baru kali ini melihat keseruan teman-teman dengan berbagai tingkah dan keunikan masing-masing.

Pukul 16.00 siap-siap kami menuju Dermaga, kapal yang membawa kami Sun Ferry yang cukup besar, toiletnya nampak bersih. Di lantai bawah terasa sekali deburan ombak dan kencangnya angin laut.

Tiba di Central kami pulang ke rumah masing-masing, sementara saya masih melanjutkan perjalanan ke Sky100 mumpung masih ada diskon dan mau menyaksikan Hong Kong di waktu malam. MasyaAllah sungguh indah, cahaya dari gedung-gedung pencakar langit. Menyaksikan Hong Kong di malam hari lebih romantis.

Lebih lengkap informasi Pulau Cheung Chau, saya kutip dari Wikipedia:

Cheung Chau (Long Island) terletak 12 km barat daya Pulau Hong Kong dekat dengan semenanjung Chi Ma Wan di Pulau Lantau. Pulau kecil berbentuk halter panjangnya kira-kira 2,5 km, secara efektif dari dua bukit granit  di seberang jalan ini menjadi kejutan bagi banyak pengunjung.

Untuk menuju ke Cheung Chau bisa naik feri dari Central Pier, Aberdeen dan juga layanan feri antar Pulau yang menghubungkan Cheung Chau, Chi Ma Wan, dan Mui Woi di Pulau Lantau dan Peng Chau.

Dioperasikan oleh First Ferry, ada dua jenis feri yang beroperasi di rute Hong Kong Island- Cheung Chau. “Fast Ferry”, katamaran meningkatkan dengan kapasitas penumpang antara 200-400 orang dengan perjalanan 35 menit. Dan “Ordinary Ferry” dengan kapasitas penumpang antara 1200-1700 dan membutuhkan waktu perjalanan 55 menit.

Feri biasa lebih disukai, feri ini memiliki dek yang dapat dilalui penumpang kelas deluxe ber-AC di dek atas dan dek luar ruangan. Pemandangan Pelabuhan Victoria yang sangat indah, pulau-pulau terluar dan segala jenis pelayaran di sepanjang perjalanannya.

Dari dermaga feri berjalan, di sepanjang Tung Wan Road di sebelah toko Circle K, ke Pantai Tung Wan dan dalam perjalanan (dekat supermarket Park N Shop, lihatlah ada pohon Banyan yang suci dengan kuil.

Ikuti jalan di sepanjang pantai bawah Warwick Hotel, di mana terdapat ukiran batu kuno berusia 3000 tahun.

Lanjutkan optimasi  jalan setapak, melewati pahatan batu ke Pantai Kwun Yam, ada Pusat Selancar Angin Cheung Chau berada dan satu-satunya peraih medali Olimpiade Hong-Kong. Lee Lai-Shan yang memenangkan emas untuk selancar di Atlanta pada tahun 1996.

Jalan-jalan sempit antara dermaga feri dan pantai Tung Wan dipenuhi dengan restoran dan toko yang menjual semua jenis barang termasuk makanan laut kering, buah, sayuran, pakaian, perhiasan, obat-obatan dan bunga.

Karnaval Cheung Chau Bun yang terkenal biasanya berlangsung pada akhir bulan April atau awal bulan Mei. Titik fokusnya di Kuil Pak Tai yang dihias warna warni, dinamai menurut dewa yang sama menjadi pelindung nelayan, penjaga perdamaian, dan pelindung militer.

Sorotan dari festival ini adalah Parade Piu Sik (warna mengambang). Menampilkan anak-anak mengambang dan final kompetisi Mengacak sanggul bambu yang tinggi.

Selama 2011 Festival Bun menjadi salah satu acara budaya di Hong Kong yang ditempatkan dalam daftar warisan budaya nasional Tiongkok.Karena Covid 19 Festival Cheung Chau Bun tahun 2020, 2021 dibatalkan.

Penasaran kan yang belum tahu indahnya pulang Cheung Chau? Yuk mumpung berada di Hong Kong, sekali-kali refreshing menikmati indahnya pemandangan di sana.

(Visited 99 times, 1 visits today)

By Ghinda Aprilia

Sebaik-baik hidup bisa berguna untuk diri sendiri dan orang lain.

One thought on “Tembok Cinta di Negeri Beton”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.