Oleh : Je Osland
Temaram senja sayup telungkup ke horizon lautan. Jingga bangkit, berdiri mematung sejajar dengan pohon cemara yang dikitari camar. Dia belum berani bergerak apalagi berlagak. Kali ini, dia harus benar-benar berhitung matang. Dia tidak ingin ditipu oleh ramahnya hamparan pasir, hamparannya menyimpan gumpalan penderitaan.
Dari kejauhan, dibalik onggokan pelepah kelapa yang mulai mengering. Jingga melihat anjing betina terbirit-birit, kengkengnya melengking-lengking ke andromeda, kaki kirinya menggaruk-garuk leher kurapnya yang di kerubungi lalat.
Jingga terbahak, terkekeh terpingkal-pingkal. “Sialan! Aku serupa anjing betina saja, terjebak pada tarian senja padang pasir ini…”
Jingga berteriak “Hei anjing betina, jangan kau samakan aku dengan kebodohan mu!!!!”.
Teriakannya masih saja berbungkus kepongahan, padahal hari ini kebodohannya lebih busuk dari binatang betina yang mulai rebahan.
Betina kurap tak peduli, dengan lidah terjulur percakan air liur dibuai angin beruk kemana-kemana, betina berlari ke karang harapan. Jingga ternganga, tatkala melihat betina berhasil mencapai karang dengan rumput tebal serupa tilam pembaringan. Disampingnya tumbuh pohon waru dengan daun lebatnya, tentu saja akan melindungi betina dari terik baskara dan hunusan badai.
Betina melirik Jingga seperti mencemooh, mata betina menyampai kata “Oiii… Manusia angkuh! Aku saja bisa mencapai asa…” Sembari air liurnya menampar pipi kanan Jingga yang masih membingung. “Puiihhhhh…” Liurnya laksana panah yang mematah arah.
Esoknya,selimut pagi disingkap cahaya mentari, Jingga mulai beringsut dari lelapnya. Entah kenapa, pagi ini dia merasa lebih baik dari kemarin. Jingga duduk sembari meneguk air minum dari kundika tanah liatnya.
Matanya kembali meraba hamparan samudera. Dia berdiskusi lagi dengan imajinasinya. “Samudera ini, pesisirnya dan segala yang ada dan tumbuh di atasnya adalah ruh-ruh yang akan menuntunku.”
Sembari bersedekap dia melanjutkan diskusinya. “Mulai hari ini, aku akan lebih ramah kepada pasir, menyapa gericik ombak dengan senyum, akan berlemah lembut kepada pohon-pohon yang menepis mentari. Yahhh! Mereka para kawan yang akan mengantarku”.
Jingga mulai mengangkat si badan diri dari silanya, berharap asanya berlabuh di pulau impian. Dia melangkah dan tak henti melangkah, menyapa pasir putih yang dibasahi deburan ombak, bercengkrama dengan kerikil kecil tempat bermain umang-umang. Sedepa, dua depa, bahkan berdepa-depa, Jingga berlari kian kemari, melompati batu karang, merancah buih ombak hingga bergelantungan pada dahan pohon waru.
Jingga dengan pemikiran barunya mungkin telah menakluk samudera, alunan iramanya mungkin telah senada dengan rentak pesisir. Tapi jingga tahu, ini adalah awal dari perjalanannya.
Jingga berdiri tegap. Rambutnya diusap angin tenggara pulau impian. Pergelangannya dipercik air laut laksana menitip dahaga bagi mimpinya. Kakinya seperti terbalur akar kokoh pohon ketaping.
Jingga menoleh ke belakang sembari berujar, “Aku yang berasal dari hulu, akan mengawali mimpi dari samudera”.
[bersambung]

Selalu suka…
Terima kasih ibu🙏
Terima kasih Ibu
Cerita yg menarik .dapat menginspirasi ,bahwa jangan pernah menyerah untuk menggapai satu impian ,seorang jingga akan mengawali mimpinya dri samudra nanluas..
Aku sangat terkesan dengan gaya bahasanya yang unik , seperti mengangkat badan diri dari silanya, terik baskara terik matahari kali ya atau apalah,tilam pembaringan ,umang umang sedepa waoo bener” gaya bahasa yg sangat menarik bagi saya pribadi
Siappp,
Terimakasih atas atensinya Bpk🙏
Jingga didekasi bagi para pemimpin yang bersimbah peluh merawat negeri ini.
Mengenai perbendaharaan kata, saya mencoba menjaga bahasa-bahasa baku agar tdk semakin termarjinalkan. Juga mencoba mengindonesiakan petitih-petitih Minangkabau dalam setiap tulisan
Suka sekali baca novelnya.. bikin penasaran …
Terima kasih atensinya pak🙏