Saban hari tegap langkahnya menyapa lentera timur, derapnya serupa ilusi mendayu merdu ke kulit huma. Belum lagi ayun lengan hingga pergelangan, seumpama tari rentak di panen raya.

Jingga,

Dari hulu kisahnya bemula, terseok-terseok dibantaran bayu, dihempas bah hingga dihanyut gelodo. Jingga terus mendayung, belulangnya serupa baja menghardik sengsara. Di serebrumnya terpatri kuat, menang dan jaya atau membangkai di muara.

Jingga bukanlah senja,

sebenarnya ufuk timur seperdelapan helai rambut. Darinya asa berwujud, kompleksitas embrio berproses beribu hari. Wujudnya tak menjelma sempurna, namun isi sumsumnya melekat nyanyian nusantara.

Benderang ini Jingga menapaki hamparan pantai, matanya mengelus butiran pasir dari selatan hingga ke utara ilusi fatamorgana. Luas, lega, lapang lirihnya.

Kala tumitnya mulai menghenyak pasir, kayu laut menghujam tulang kering hingga terjungkal. Jingga tidak peduli, lambaian mimpi samudera lebih menggelegarkan asa dan ambisinya.

Baru juga beberapa depa membuai langkah kembali, teritik berkarat menyayat telapak kaki hingga menyembur darah. “Ahhhh… Hanya luka kecil saja! Kau kira mampu melemahkan riuh ku?” Umpat Jingga sembari berdiri. Berdiri kembali berlari, mengepak sayap-sayap asa ke tujuan.

Akar ketaping kokoh yang tak kalah oleh puting beliung, melilit pergelangan kaki Jingga hingga tempurung lutut. Jingga terhenyak, lama tersungkur di buliran pasir.

Mulutnya serupa disedekahi pecahan koral laut yang dihempas ombak. Namun kepalan tangannya masih menahan badan agar tak ambruk dilumat pasir. Otot lengannya menyemburkan urat, kokoh serupa mimpinya mencabik aral.

Jingga mulai berdialog dengan imajinasinya, sembari mengumpat nadanya meninggi. “Bangsat!!! Wahana luas ini tidak mungkin menarungku! Aku ini petarung, aku pemenang di pelbagai sayembara”. Jumawanya menggebu-gebu menghardik pesisir.

Sedikit tertatih, Jingga melepas sungkurnya. Mendudukkan badan dengan melipatkan tangan ke kedua lutut. Jingga kembali menyeka deburan ombak dengan kedua mata bebalnya. Nyalinya sedikit ciut tapi tidak sekarat. Simpul senyumnya sumringah melawan prahara.

Hari ini….

Mimpi Jingga mengerinyit terjaga, luas dan leganya wahana bukan jaminan keleluasaan langkah, perlu kehati-hatian telapak memilah pijakan agar tak kerontang. [Bersambung]

(Visited 269 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Je Osland

"Maka bermimpilah hingga gugusan antariksa terakhir dari bumi ini, setidaknya separuh dari planet ini akan terkunjungi"

One thought on “Kala Jingga Menyulam Raya (1)”
  1. ya benar jingga selalu mengepakkan sayapnya membawa mimpi dari samudera dan bekal dalam dunia nirwana.
    – bahasanya menyulam beban pikiran meruntut khas janji sang maha kuasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.