La Capila mulai terbiasa naik metromini di Jakarta. Suatu hari, karena tidak mendapatkan tempat duduk yang kosong, La Capila terpaksa berdiri. Metromini pagi itu memang sangat sesak. La Capila terpaksa berdiri di depan seorang lelaki seumurannya yang sedang duduk, lelaki itu memakai blangkon.

aaaaa

Tabeq nah Mas, berdirika’ di depanta’ kodong.” La Capila berbasa-basi.

“Nggak apa-apa, orang Bugis ya Daeng?” Jawab si Mas Blangkon.

Iyye’ saya dari Juppandang, tahu dari manaki’ Mas, kalau saya orang Bugis?” La Capila keheranan.

“Ya tahu aja Daeng, kentara dari logat.” Jelas si Mas Blangkon lagi.

aaaaa

La Capila diam saja mendengar sindiran dari si Mas Blangkon, dia merasa perlu merendah, toh dia memang pendatang di Jakarta, dan betul juga bahwa dia dari kampung, sebuah kampung kecil di sisi barat teluk Bone.

aaaaa

Mas Blangkon nyeletuk memulai percakapan,

“Daeng, kenal dengan Soekarno?”

Iyye’ saya kenalji, presideng pertama.” Jawab La Capila santun.

“Orang Jawa itu Daeng.” Jelas Mas Blangkon, La Capila diam saja.

aaaaa

Mas Blangkon bersuara lagi,

“Daeng, kenal dengan Soeharto?”

Iyye’ saya kenalji juga, presideng kedua.” La Capila kalem.

“Orang Jawa juga itu Daeng.” Klaim Mas Blangkon mantap. La Capila lagi-lagi hanya diam, meski hatinya memanas.

aaaaa

Kembali Mas Blangkon bertanya,

“Daeng, kenal dengan Gus Dur?”

Iyye’ pasti saya kenal iya, presideng keempat.” La Capila menjawab pelan.

“Itu juga orang Jawa, Daeng. Hehehe….” Mas Blangkon membusungkan dada, gejolak hati La Capila kian membuncah.

“Orang Jawa hebat-hebat kan?” Mas Blangkon bertanya lagi. La Capila mengangguk pelan, kesabarannya menuju puncak.

aaaaa

Tiba-tiba,

“Mas, ko kenal Mikel Jekseng!?” Suara La Capila terdengar pelan, tapi tegas.

“Kenal toh Daeng, yang King Of Pop itu kan?” Mas Blangkon menjawab.

“Orang apa bede’ Mikel Jekseng, Mas?” La Capila bertanya dengan suara lembut.

Lama tak ada jawaban.

aaaaa

Setelah sekian lama, si Mas Blangkon menjawab dengan suara bergetar,

“Michael Jackson orang Bugis, Daeng….”

Rupanya, ujung badik La Capila sudah menempel di dadanya.

(Visited 76 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Kasman McTutu

ASN yang mencintai puisi, hujan dinihari, dan embun pagi. Menerbitkan kumpulan cerpen Mata Itu Aku Kenal (LeutikaPrio, Januari 2012), Kumpulan artikel Reinventing Tjokro (Ellunar Publisher, Oktober 2020), dan kumpulan cerpen Adikku Daeng Serang (Pakalawaki, Maret 2021)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.