Undangan itu tergeletak anggun di meja tamu. Nama saya tertulis rapi di sana. Kakak senior saya—rekan mengajar yang sudah saya anggap sebagai kakak kandung sendiri—datang langsung dari Kota Padang ke Surantiah hanya untuk mengantarkannya. Padahal, perjalanan Pesisir Selatan ke Padang bukanlah jarak yang dekat.

“Adik harus datang, ya. Kakak tunggu di Padang,” pesannya waktu itu dengan senyum tulus. Kalimat itu bukan sekadar undangan, tapi panggilan rindu seorang kakak kepada adiknya.

Niat yang Menyimpang

Sebagai adik, saya ingin memberikan yang terbaik. Saya ingin membuat beliau bangga melihat kesuksesan saya sekarang. Saya pun menyiapkan sebuah songket mahal yang kilaunya sanggup memalingkan wajah siapa saja. Di dalam hati, terselip keinginan kecil untuk pamer, untuk menunjukkan bahwa “adiknya” ini sudah mapan. Tanpa sadar, sifat ujub mulai membungkus niat suci saya.

Namun, rencana Tuhan jauh lebih indah. Saat saya hendak mengenakannya, saya menemukan kain itu telah rusak. Tikus telah menggerogoti bagian tengahnya hingga berlubang besar.

Seketika, saya lemas. Ada rasa malu yang luar biasa. Bagaimana mungkin saya menghadap kakak senior saya di gedung mewah di Padang dengan pakaian seadanya? Saya sempat merasa “jatuh harga diri” jika tidak tampil mentereng.

Tamparan Kesadaran

Di tengah kekalutan itu, saya teringat wajah beliau saat mengantarkan undangan ke Surantiah. Beliau tidak menempuh perjalanan berjam-jam demi melihat songket saya. Beliau datang karena ia menyayangi saya sebagai adiknya.

“Ya Allah, ampuni hamba,” bisik saya dalam hati. Saya tersadar bahwa rasa bangga berlebihan ini hampir saja merusak niat silaturahmi saya. Alhamdulillah, lewat perantara tikus itu, Allah menyelamatkan saya dari sifat sombong. Saya pun memutuskan berangkat ke Padang dengan batik sederhana, membawa hati yang jauh lebih lapang.

Pelukan di Kota Padang

Gedung pernikahan di Padang itu tampak megah. Saat saya melangkah masuk, mata saya langsung mencari sosok kakak senior saya. Begitu beliau melihat saya, wajahnya nampak sangat bahagia. Beliau tidak mengomentari pakaian saya. Beliau justru menggenggam tangan saya erat dan merangkul pundak saya layaknya seorang kakak kepada adik bungsunya.

“Terima kasih sudah datang jauh-jauh dari Surantiah, Dik. Kakak senang sekali kamu ada di sini,” ucapnya tulus.

Di saat itulah saya menyadari, saudara memang tidak harus sedarah. Hubungan kami yang dibangun bertahun-tahun saat mengajar bersama jauh lebih mahal harganya daripada songket mana pun.

Pulang dengan Hati yang Tenang

Perjalanan pulang menuju Surantiah terasa sangat damai. Saya tidak lagi memikirkan songket yang rusak itu. Saya justru bersyukur; jika bukan karena kejadian itu, mungkin saya akan terjebak dalam rasa bangga diri sepanjang acara.

Ternyata, pakaian terbaik untuk menghadiri hajatan seorang kakak bukanlah emas atau sutra, melainkan ketulusan dan kerendahan hati. Saya pulang ke Pesisir Selatan dengan sebuah pelajaran berharga: harta bisa habis digigit tikus, tapi kasih sayang persaudaraan akan tetap utuh selamanya. []

(Visited 66 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.