Semburat jingga di ufuk timur belum benar-benar merekah, namun dingin sisa embun semalam masih betah mendekam di sudut dapur.
Di ruang yang remang itu, Adi melangkah dengan amat hati-hati. Kakinya berjinjit di atas lantai keramik, berusaha mematikan suara sekecil apa pun.
Ia tahu benar, di kamar belakang, Maya, istrinya baru saja mengarungi alam mimpi setelah berjuang melawan kantuk sejak pukul dua pagi.
Semalam adalah malam yang panjang bagi Maya. Demi mendukung anak sulung dan adeknya yang dengan semangat membara ingin melunasi “hutang” puasa Ramadhan, Maya terjaga sendirian di dapur.
Ia meracik bumbu, memastikan hidangan sahur itu hangat dan menggugah selera, agar sang buah hati tak merasa terbebani meski harus berpuasa di luar bulannya. Baru setelah subuh berlalu dan anak-anak kembali terlelap, Maya membiarkan tubuhnya yang letih rebah di ranjang.
Adi memandang pintu pembatas kayu tua yang berdiri miring di depan sana. Pintu itu hanyalah sekeping gypsum bekas yang rawan, namun bagi Maya, itu adalah benteng pertahanan terakhir untuk menghalau tikus celurut masuk ke ruang tengah. Pintu itu punya rahasia: jika tidak diangkat sedikit saat digeser, akan beradu dengan lantai semen yang tak rata, menciptakan pekikan yang memilukan telinga.
Nahas, pagi itu fokus Adi terdistraksi oleh lamunan. Ia hendak keluar membuka pagar, dan tanpa sadar tangannya menarik pintu itu seperti biasa.
Geduk… geduk… brak!
Suara itu meledak di tengah sunyinya pagi, merobek ketenangan rumah yang sedang memulihkan diri. Adi membeku. Jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena rasa bersalah yang langsung menghujam dadanya.
Ia tahu, ia baru saja meruntuhkan satu-satunya waktu istirahat yang dimiliki istrinya.
Belum sempat ia melepaskan pegangan pintu, gordeng kamar belakang terbuka.
Maya muncul dengan rambut yang sedikit berantakan dan netra yang memerah. Di matanya, terpancar kelelahan yang luar biasa, sebuah keletihan yang melampaui fisik, lelah hati yang menumpuk karena kurangnya waktu untuk diri sendiri.
Selama ini, Maya lebih sering menghabiskan malam bersama anak-anak gadisnya.
“Kalau tutup itu angkat pintunya!” gertakan Maya memecah udara. Suaranya bergetar, perpaduan antara kantuk yang diputus paksa dan rasa pening yang menderu di kepala.
“Saya baru saja memejamkan mata! Kalau nutup pintu diangkat!,” tandasnya.
Adi terdiam, mematung di tempatnya. Bentakan itu terasa seperti luka tanpa darah di hatinya. Pedih, namun ia tak mampu membalas. Ia menatap wajah istrinya yang gusar, menyadari bahwa amarah itu bukanlah kebencian, melainkan jeritan raga yang butuh jeda.
Maya bertemperamen, namun hatinya adalah dapur yang selalu mengepulkan kasih sayang untuk anak-anaknya.
“Iya, maaf… ini salah saya. Maafkan saya, ya,” sahut Adi dengan suara serendah mungkin, mencoba menjadi air bagi api yang sedang berkobar. “
“Jangan ribut lagi, kasihan anak-anak sedang puasa,” ucap Adi pelan.
Maya tak menjawab. Ia berbalik, namun tak kembali ke tempat tidur. Ia justru melangkah ke dapur, mulai menyapu sisa-sisa air hujan yang merembes masuk semalam.
Di balik punggungnya yang tegap, Adi melihat sosok wanita yang tak pernah benar-benar bisa beristirahat.
Adi menatap pintu kayu tua itu dengan pandangan nanar. Sempat terlintas pikiran untuk membongkarnya, namun ia sadar, pintu miring itu adalah saksi bisu perjuangan seorang ibu. Pagi itu, Adi belajar bahwa di rumah mereka, mengangkat pintu bukan sekadar urusan teknis pertukangan.
Mengangkat pintu adalah bentuk penghormatan paling sunyi bagi lelapnya seorang istri yang telah memberikan seluruh hidupnya untuk keluarga.
