Kenapa kisah asmara Bung Hatta menarik diutas, karena prinsip beliau yang jadi fakta sejarah, dimana Bung Hatta,  tidak akan menikah sebelum bangsa Indonesia MERDEKA.

Bahkan istrinya yang dinikahi, adalah anak pertama dari  Anni (mantan kekasih Bung Hatta) yakni gadis yang berumur 19 tahun Rahmi Rahim usia Bung Hatta saat itu 43 tahun.

Sungguh sebuah kisah asmara yang sangat menarik.

Sumber : medsos


Berbicara Bung Hatta, sosoknya tidak hanya sebatas proklamator saja. Ia adalah sahabat setia Bung Karno, kutu buku, cendekiawan, dan sosok suami yang setia.

Menyoal yang terakhir, tidak banyak yang tahu soal kehidupan asmaranya. Padahal ia punya kisah cinta abadi yang cukup panjang.
Bung Hatta adalah pejuang, negarawan, ekonom, dan juga Wakil Presiden Indonesia pertama.

Bapak Koperasi lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 dan meninggal dunia pada 14 Maret 1980 di Jakarta.

Sangat jauh berbeda dengan Soekarno dimana ia sangat piawai dalam beretorika dengan kaum hawa dan dikagumkan.

Bung Hatta justru dikenal dengan sosok pemalu bahkan dengan wanita sekalipun.

Didalam buku “Seratus Tahun Bung Hatta” yang ditulis oleh putrinya Meutia Farida Hatta yang tercantum bahwa Bung Hatta yang sudah berjuang untuk kebebasan dan Kemerdekaan Indonesia sejak muda ini dengan resiko bagaimanapun telah bersumpah tidak akan menikah selama Indonesia belum Merdeka.

Foto keluarga Mohammad Hatta bersama sang istri, Ny. Rahmiati dan putrinya, Meutia Hatta pada tahun 1948-1950an.
----------
(https://t.co/85tzdevXeO) 
sumber : sejarah Nusantara

Dengan adanya sumpah ini ia terus memegang prinsipnya dengan kuat, walaupun begitu hal ini bukan isapan jempol semata, dikatakan Bung Hatta pernah mengenal beberapa wanita jelita pada masa itu dan saat bersekolah di Belanda juga terdapat banyak mahasiswi ingin mendekatinya.

Namun tetap saja Hatta tidak akan tergoda dengan ajakan menikah meskipun ada pula usaha teman temannya untuk menjodohkan dirinya dengan wanita lain yang dikira cocok.

Ia yakin bahwa pendidikan yang sedang ia tempuh merupakan pondasi baginya dalam melepaskan Indonesia dari belenggu penjajah.

Prinsip hidup Hatta muda itu nyatanya pernah menenggelamkan kisah cintanya dengan seorang perempuan cantik bernama Anni, anak Teuku Nurdin, penerjemah pemerintah Nangroe Aceh Darussalam.

Anni bukan perempuan biasa, ia adalah seorang nasionalis, aktivis perempuan yang juga ikut andil dalam Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung.

Keduanya lantas menjalin kasih hingga sudah bertunangan, namun Hatta dan Anni memutuskan untuk berpisah dan tak berjodoh hingga ke pelaminan karena pendirian Hatta yang masih kuat tentang pantang menikah sebelum Indonesia Merdeka akhirnya Anni kemudian menikah dengan kawan dekat Bung Karno, Abdul Rachim.

Dari pernikahan tersebut Anni dikaruniai dua orang putri, Rachmi dan Titi.

Ketika impian perjuangan Bung Hatta terhadap Indonesia Merdeka terwujud pada 17 Agustus 1945, maka perjuangannya saat itu sudah mencapai final dan beralih ke urusan lain dimana yang salah satu ikrar yang telah ia janjikan “tidak akan menikah sebelum Indonesia Merdeka”.

Setelah Indonesia Merdeka, Soekarno sempat khawatir dan gelisah melihat Bung Hatta yang masih terus lajang diusianya 40 tahunan bahkan ketika Indonesia sudah Merdeka.

Oleh sebab itu Soekarno tidak mau melihat sahabat perjuangannya itu harus lajang seumur hidup maka Soekarno melakukan cara agar Hatta bisa menikah.

Saat Soekarno menanyakan sosok perempuan yang memikat hatinya, nama Rahmi Rachim pun muncul yaitu anak pertama dari mantannya sendiri yaitu Anni.

Bung Hatta sempat ragu untuk mengungkapkan niatnya untuk meminang gadis pujaannya kepada sang sahabat, tetapi Soekarno demi cintanya Hatta maka Soekarno pun langsung melamar Rachmi untuk Bung Hatta.

Ditemani oleh R. Soeharto, keduanya mendatangi rumah Anni yang tentu terkejut karena lelaki yang dulu memutuskan kisah cinta dengannya kini justru melamar putrinya.

Terlebih usia Bung Hatta dan putrinya terpaut cukup jauh, Bung Hatta kala itu berusia 43 tahun dan Rachmi baru menginjak usia 19 tahun. Bung Hatta tak ubahnya seperti om atau bahkan ayah bagi Rachmi.

Ia kemudian meminta waktu untuk berdiskusi dengan anak perempuannya tersebut sebelum menjawab lamaran. Sebelum berpamitan, Bung Karno kembali meyakinkan Anni, “Hatta orang yang baik.

Ia pemimpin yang baik dan ia adalah teman baik saya sendiri.” Bung Karno juga menutup kunjungannya dengan berpesan pada sang calon, Rachmi, “Dia laki-laki yang baik dan berprinsip tinggi. Yakinlah kamu tidak akan kecewa.”

Akhirnya lewat bantuan sahabatnya yaitu Soekarno, Hatta pun mendapatkan pasangan hidupnya dimana keluarga Anni telah menerima lamaran tersebut.

Keduanya menikah pada tanggal 18 November 1945 di Bogor, Bung Hatta telah menepati janjinya pada Indonesia yang berisi pantang menikah sebelum Indonesia merdeka.

Kisah cinta Bung Hatta tak berhenti di situ saja, Mahar yang ia berikan pada Rachmi sungguh istimewa.

Buku jadi salah satu sumber energi dan kebebasan bagi mereka yang haus akan ilmu pengetahuan

Drs.Moch.Hatta.

Sebuah buku berjudul Alam Pikiran Yunani, buku itu ia tulis ketika ia diasingkan di wilayah Digul sekitar tahun 1934.

Aku rela dipenjara asalkan bersama buku karena dg buku aku bebas.

Drs. Muhammad Hatta

Rachmi memahami bahwa buku dan Hatta ibarat kepingan koin selalu bersama dan bersisian.

Rachmi tak heran juga bahwa suaminya terkenal di Jepang dengan sebutan Gandhi dari Jawa.

Bukan hanya pintar, Hatta juga merupakan seseorang yang sangat romantis.

Saat istrinya hendak melahirkan anak pertama, ia masuk ke kamar bersalin sambil membawa roti isi buatannya.

Hatta juga selalu memberikan tempat di dalam mobil yang bebas dari terpaan sinar matahari saat berpergian dengan Rachmi. K

eduanya telah dikaruniai 3 orang anak perempuan yaitu Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta, dan Halida Nuriah Hatta.

Kisah cinta romantis Bung Hatta. Salut buat prinsip dan komitmennya pada negara! dan yang sangat patut kita teladani adalah Bung Hatta, pecinta literasi.

Kegemaran Bung Hatta yang utama adalah membaca. Boleh dikatakan, ia tak dapat dipisahkan dari bahan bacaan.

Karena itu sangat menghargai buku. Buku-buku itu dipeliharanya dengan baik. Di hari tuanya ia mempunyai perpustakaan pribadi. Jumlah buku lebih dari 30.000 buah.
Sebagian dari uang belanjanya di pakai untuk membeli buku.


Orang setia adalah pecinta buku. Buku saja dipelihara apalagi keluarganya.


Makassar, 02.02.2022.
Diberdayakan untuk dikenang bagi generasi bangsa.


Sudirman Muhammadiyah
(Penyunting).

Referensi Bacaan :
– Noer, Deliar. (2012). Mohammad Hatta: Hati Nurani Bangsa. Jakarta: Buku Kompas.
–  Meutia Fardia Hatta. “Seratus Tahun Bung Hatta” (Jakarta. Kompas 2002).


(Visited 127 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.