Oleh : Salawati Amin
Suatu sore, ketika sedang berjalan-jalan dengan dua orang teman sambil berolah raga, kami melihat seorang nenek tua dengan pakaian yang kumal berusaha menawarkan buah dan sayuran yang sudah tidak segar lagi.
Sayuran-sayuran itu tampaknya seperti daun yang mulai mengering, warnanya kekuning-kuningan dan berlubang bekas gigitan serangga.
Teman saya, tanpa mengatakan apapun, membeli beberapa ikat sayuran dan buah. Orang tua itu dengan sangat menyesal menjelaskan : “Sayuran dan buah ini adalah tanaman saya sendiri, saya menanamnya di dekat rumah. Hujan tidak turun beberapa waktu yang lalu, hingga sayurannya dan buahnya mulai menguning. Saya sangat menyesal.”
Setelah kami berlalu, saya tanya teman saya,’ Apa kamu akan memakan sayuran dan buah ini di rumah ?”
Teman saya berkata ,”Tidak, sayuran dan buah ini tidak bisa dimakan lagi.”
“Lantas kenapa kamu beli ?
“Karena sayuran dan buah itu tidak akan dibeli oleh siapa pun juga. Jika saya tidak membelinya, orang tua itu mungkin tidak akan mendapat penghasilan apapun hari ini.”
Sangat terkesan dengan kebaikan hati teman saya ini, saya pun kembali ke tempat orang tua itu dan membeli sisa sayuran dan buahnya yang masih ada.
Kulihat wajah nenek itu sangat gembira,matanya berkaca-kaca.Kuambil beberapa lembar uang seratus ribu dan memberikannya pada nenek itu. “Nak,ini terlalu.banyak.”
“Sudahlah nek, ambil saja. Kembaliannya itu untuk nenek,”kataku.
Orang tua itu berkata dengan gembira, “Saya menjual semua sayuran dan buah saya sampai tak bersisa hari ini. Terima kasih atas pembeliannya nak. Semoga Allah membalasnya dengan rezeki yang melimpah.”
“Aamiin. Terima kasih doanya nek.”
Walaupun sayur dan buah yang dibeli tidak bisa untuk dimakan, saya memetik satu pelajaran yang berharga : Ketika sedang berada di titik terendah dalam hidup ini, kita menginginkan sebuah KARUNIA, sebuah keajaiban atas diri kita. Namun ketika kita MAMPU, apakah kita bersedia memberikan sebagian karunia yang kita dapatkan?
Watansoppeng, 17 Februari 2022
