MEMBACA KARYA PEMIKIRAN WS.RENDRA

Mengenang WS. Rendra.(7 November 1935,  6 Agustus 2009)

Di publish padaKegiatan Membaca, WS. RENDRA (ngobrol,pembacaan puisi musikalisasi. Sabtu, 19 November 2016.Aula fkip UPRI makassar

Tulisan ini merupakan bahan materi sebagai Narsum, saya repost ulang untuk BN, sebagai bahan bacaan yang bermanfaat, ws Rendra bersabda

Kesadaran adalah matahari,

Kesabaran adalah bumi,

Keberanian menjadi cakrawala, dan

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata

19 November 2016
  1. Mengenal WS.Rendra

 

WS Rendra adalah seorang penyair kenamaan yang dimiliki Indonesia. Ia dilahirkan di Solo pada tanggal 7 November 1935. Nama lahir WS Rendra adalah Willibrordus Surendra Broto Rendra, nama Muslimnya Wahyu Sulaeman Rendra, Panggilan Willy, dan Si Burung Merak., ayahnya bernama R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan ibunya bernama Raden Ayu Catharina Ismadillah. 

dokument pribadi

WS Rendra memang dilahirkan dikeluarga yang kental akan seni, tak heran jika darah seni sangat mudah merasuk dalam diri Rendra. Ayahnya adalah seorang dramawan yang merangkap sebagai guru Bahasa Jawa dan bahasa Indonesia di sebuah sekolah Katolik di Solo, sedangkan ibunya adalah seorang penari serimpi yang banyak di undang oleh Keraton Surakarta.

WS Rendra menghabiskan masa kecil hingga SMA nya di Solo dengan bersekolah TK hingga SMA di Sekolah Katolik St. Yosef. Namun sejak lulus SMA, WS Rendra berhijrah ke Jakarta demi meneruskan sekolah di Akademi Luar Negeri, akan tetapi malang nasibnya, setelah sampai di Jakarta ternyata sekolahan tersebut telah tutup. 

WS Rendra akhirnya meninggalkan Jakarta, kota impiannya dan menuju ke Yogyakarta. Pilihannya jatuh pada Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada. Di fakultas ini, bakat seninya semakin tertempa dengan baik namun ia tak bisa menyelesaikan studinya di sini.

Rendra kemudian mendapat tawaran beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA) untuk mempelajari lebih jauh tentang dunia seni tari dan drama, kesempatan ini tentu tak disia-siakannya. Iapun kemudian pergi ke Amerika pada tahun 1954 untuk mengambil beasiswa tersebut.

Di Amerika, Rendra tak hanya berkuliah namun juga sering mengikuti seminar tentang seni dan kesusastraan atas undangan pemerintah AS di Harvard University.

Sebenarnya, bakat seni dari WS Rendra sudah tampak saat ia masih SMP. Ketika itu, ia sering ikut mengisi acara sekolah dengan mementaskan drama, puisi serta cerita pendek. Rendra sering mementaskan drama hasil karyanya.

Drama pertama yang ia pentaskan di SMP berjudul Kaki Palsu. Ia juga kerap mendapatkan penghargaan , salah satunya adalah saat SMA WS Rendra menang sebagai juara pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta dalam dramanya yang berjudul Orang-Orang di Tikungan Jalan

Yang paling menonjol adalah bakatnya dalam membacakan puisi. Puisi-puisi WS Rendra pun kemudian dipublikasikan di majalah setempat, waktu itu adalah majalah siasat.

Awal kali ia menerbitkan puisisnya di majalah adalah saat tahun 1952, setelah itu hampir rutin tiap terbit majalah, puisinya selalu ikut menyemarakkan halaman majalah – majalah lokal tahun 60-an dan 70-an. Beberapa puisi WS Rendra yang tekenal adalah Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru.

Setelah menang dalam berbagai ajang seni dan drama serta puisi, WS Rendra semakin semangat menghasilkan karya-karya baru. Karya-karyanya tak hanya terkenal di dalam negeri, namun juga di manca negara dengan diterjemahkannya karya-karya beliau dalam bahasa asing seperti bahasa Inggris, bahasa Belanda, bahasa Jerman, bahasa Jepang dan bahasa India.

Untuk lebih memfasilitasi dirinya dalam berkarya serta menularkan kejeniusannya dalam bidang seni drama dan puisi, maka pada tahun 1967 WS Rendra mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta dan Bengkel Teater Rendra di Depok.(http://www.biografiku.com/2009/11/biografi-ws-rendra.html).

  • Tentang kehidupan Keluarga WS. Rendra

Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya itu. Ia memulai pendidikannya dari TK (1942) hingga menyelesaikan sekolah menengah atasnya, SMA (1952), di sekolah Katolik, St. Yosef di kota Solo. Setamat SMA Rendra pergi ke Jakarta dengan maksud bersekolah di Akademi Luar Negeri. Ternyata akademi tersebut telah ditutup. Lalu ia pergi ke Yogyakarta dan masuk ke Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada. Walaupun tidak menyelesaikan kuliahnya , tidak berarti ia berhenti untuk belajar.

Pada tahun 1954 ia memperdalam pengetahuannya dalam bidang drama dan tari di Amerika, ia mendapat beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA). Ia juga mengikuti seminar tentang kesusastraan di Universitas Harvard atas undangan pemerintah setempat.

Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat. Ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat.

Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an.

Pada umur 24 tahun, WS Rendra melabuhkan hatinya pada seorang wanita bernama Sunarti Suwandi yang kemudian memberinya lima orang anak yang bernama Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta.

Setelah menikah, WS Rendra bukannya menutup hati, ia malah kepincut dengan salah satu muridnya di Bengkel Teater yang bernama Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat yaitu putri Keraton Yogyakarta yang sering main dan belajar di teater Rendra. Jeng Sito adalah panggilan akrabnya. Jeng Sito sering berbaur dalam rumah tangga WS Rendra – Sunarti dengan ikut memandikan dan menyuapi anak-anak Rendra. Dari sinilah kedekatan itu terjalin.

Bahkan istri Rendra, Sunarti, mendukung dan ikut melamarkan Jeng Sito untuk menjadi istri kedua WS Rendra. Namun ayahanda Sitoresmi keberatan karena perbedaan agama. Rendra Katolik sedang Sitoresmi Islam.

WS Rendra pun membuat kejutan dengan bersedia mengucapkan dua kalimat syahadat di hari pernikahannya dengan Sitoresmi pada tanggal 12 Agustus 1970 dan dua rekannya yaitu Taufiq Ismail dan Rosidi sebagai saksinya.

Menjadi Muallafnya Rendra, membuat publik melontarkan komentar yang bernada sinis. Publik banyak yang mempertanyakan ketlusan niat Rendra memeluk Islam, banyak yang menganggap itu hanyalah sensasi Rendra agar dibolehkan poligami.

Menanggapi hal itu, WS Rendra mengungkapkan bahwa dirinya tertarik Islam sudah cukup lama yaitu ketika melakukan persiapan pementasan Kasidah Barzanji, beberapa bulan sebelum dirinya menikah dengan Jeng Sito. 

Menurut WS. Rendra, Islam telah berhasil menjawab kegalauan dirinya akan hakekat Tuhan. “Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai,” begitu katanya. Menurutnya lagi Allah lebih dekat dari urat leher seseorang, jadi jika ingin berdoa tak perlu perantara. 

Terlepas dari pro kontra ke-Muallaf-an Rendra, tudingan terhadapnya tentang publik figur yang haus publisitas dan gemar popularitas terus menuju padanya. Terlebih model rumah tangganya yang meletakkan dua istri dalam satu atap. 

Ditengah maraknya tudingan miring akan dirinya dan model rumah tangganya, Rendra kedatangan tamu dari Australia. Ketika Rendra menemani tamunya yang dari Australia untuk berkeliling ke Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta, Rendra melihat seekor merak jantan yang lagi berjalan dengan diapit dua betinanya. Melihat itu, Rendra langusung berseru dengan tertawa terbahak-bahak Itu Rendra! Itu Rendra!. Mulai saat itulah julukan Si Burung Merak melekat pada dirinya.

Dari pernikahannya dengan Sitoresmi, Rendra dikaruniai empat anak yaitu Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati.

Rendra ternyata tak puas hanya dengan dua istri, naluri kejantanannya bertingkah lagi dengan menikahi seorang gadis bernama Ken Zuraida, akan tetapi pernikahan ketiganya ini harus dibayar mahal dengan mengorbankan dua istri terdahulunya yaitu Sitoresmi dan Sunarti.

WS Rendra harus rela menceraikan dua istrinya ini pada tahun 1979 karena tak menyetujui Rendra memiliki istri ketiga. Dari pernikahannya yang ketiga, Rendra mendapat dua anak yaitu Isaias Sadewa dan Maryam Supraba.

Puisi Terakhir WS Rendra

Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan?

Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan?

WS.Rendra

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tuhan, aku cinta padamu
~ Rendra menulis puisi ini saat ia terbaring di rumah sakit Mitra Keluarga, Depok, 31 July 2009.

Sumber postingan :http://lokalbahasasastra.blogspot.co.id/2012/05/biografi-singkat-wsrendra-1935-2009.html Posted by FerlianaFadli at 08.32

  • Karya Rendra tentang refleksi Dunia pendidikan Indonesia.

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing

di tengah kenyataan persoalannya?”

(Sajak Seonggok Jagung oleh WS Rendra)

WS. Rendra termasuk salah satu penyair yang peka terhadap masalah pendidikan di Indonesia. Beliau menanggapi problema dalam sector pendidikan ,kemudian melukiskannya menjadi karya-karya puisi /sajak

Jumlah sarjana setiap tahun selalu mengalami peningkatan. Hal ini menjadi kabar baik bagi bangsa Indonesia. Sebab, itu berarti angka buta huruf dan buta pendidikan terus mengalami penurunan. Demikian juga dengan tingkat pengangguran, dengan meningkatnya jumlah masyarakat yang memiliki pendidikan, seharusnya dapat menekan pengangguran. Di dalam Sajak Seonggok Jagung, Rendra memperlihatkan realita, yang mungkin saja pernah dialami oleh banyak orang. Ketika seorang pemuda merasa kasihan pada dirinya sendiri, dan di lain pihak, pendidikan justru menjadi alasan kehancuran seorang yang terdidik.

Di dalam puisi ini, WS. Rendra memperlihatkan point yang amat tepat: tentang seorang terdidik yang kikuk ketika kembali ke desanya.

  • PUISI : SEONGGOK JAGUNG

Seonggok jagung dikamar
Dan seorang pemuda
Yang kurang sekolahan
Memandang jagung itu
Sang pemuda melihat lading
Ia melihat petani
Ia melihat panen
Dan suatu hari subuh
Para wanita dengan gendongan
Pergi ke pasar………………..

Dan ia juga melihat
Suatu pagi hari
Di dekat sumur
Gadis-gadis bercanda
Sambil menumbuk jagung
Menjadi maisena
Sedang di dalam dapur
Tungku-tungku menyala
Di dalam udara murni
Tercium bau kue jagung
Seonggok jagung dikamar
Dan seorang pemuda
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
Otak dan tangan
Siap bekerja

Tetapi ini :
Seonggok jagung dikamar
Dan seorang pemuda tamat S.L.A
Tak ada uang, tak bisa jadi mahasiswa
Hanya ada seonggok jagung dikamarnya
Ia memandang jagung itu
Dan ia melihat dirinya terlunta-lunta
Ia melihat dirinya ditendang dari discotheque
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase
Ia melihat sainganya naik sepeda motor
Ia melihat nomer-nomer lotere
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal

Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
Di tengah kenyataan persoalanya?
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya mendorong seseorang
Menjadi layang-layang di ibukota
Kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
Belajar filsafat,teknologi,ilmu kedokteran,atau apa saja.
Ketika ia pulang ke daerahnya,lalu berkata :
“disini aku merasa asing dan sepi

*        Apa makna, arti di balik puisi seonggok jagung ini?

Puisi Seonggok Jagung sebenarnya cukup jelas memberi penegasan terhadap dunia pendidikan Indonesia saat ini. Pendidikan yang jauh dari kenyataan hanya menjadikan generasi penerus bangsa ini terkungkung dalam teori. Tersandera dalam lipatan-lipatan buku. Pendidikan yang tidak friendly terhadap anak didik menjadikan mereka terasing dari lingkungan

Puisi yang sangatlah dalam, puisi yang mapu membuka mata kita lebar-lebar ‘seharusnya’ tetapi kini, sulit di temui pemikiran-pemikiran demikian di kalangan anak muda dan para sarjana ‘pengangguran’. Siapa yang salah? Pendidikan. Pendidikan telah menutup mata kita, pendidikan telah membawa kita masuk dalam kepalsuan hidup, pendidikan telah membuat kita bodoh, dan pendidikan pula yang membuat sarjana-sarjana tidak mendapatkan kerja.

Tapi semata-mata bukan sepenuhnya salah dari pendidikan, tetapi diri kita sendiri dan para Guru dan Dosen seharusnya, bukan hanya terpaku kepada buku, dan membuat sang anak kaku, akan hidup.
Kehidupan bukan dari buku. Ketika anak-anak pergi ke sekolah, pergi les private, belajar kepada guru, guru mengajarkan apa hanya sebatas kesimpulan, seharusnya guru mengajarkan moral dan menanyakan!

“Apa masalahmu hari ini nak? ceritakanlah!”
“Apa yang kau dapat dari cerita kancil ini nak? Ceritakanlah!”

Seharusnya guru mengajarkan bagaimana jika kita turun langsung ke masyarakat. Pernahkah terfikir oleh anda, bagaimana bingungnya kita terhadap masalah yang melanda, seharusnya guru mengajarkan hal itu. Pendidikan telah memanipulasi kehidupan dan menyembunyikan  tonjolan dan menyamaratakan.

Ditangkap menjadi diamankan
Busung lapar menjadi gizi buruk
Miskin menjadi kalangan menengah kebawah

Terasa sekali kita di jauhkan dari kenyataan hidup sebenarnya, sehingga kikuk nantinya turun ke masyarakat, sarjana-sarjana banyak yang menjadi pengangguran apalagi masih lulusan SMA? Bagaimana kita memanfaatkan alam dan sekitar yang ada kini, itu sejatinya sulit di dapakan dari bangku sekolah, di mana peran pendidikan? (Sumber ttps://adlibidtum.wordpress.com/2014/10/20/seonggok-jagung).

Ternyata telah terjadi proses pengasingan (alienasi) dalam dunia pendidikan terhadap diri para pelajar, dimana seharusnya proses belajar merupakan sebuah proses yang menyenangkan dan membuat para pelakunya (baca : pelajar)  menjadi menemukan dirinya sendiri. Tetapi yang terjadi hari ini adalah pengaggapan bahwa proses belajar merupakan sebuah beban berat yang harus dipikul oleh para peserta didik. Pak Iwan mengindikasikan ada beberapa faktor yang menghasilkan hal tersebut, yaitu : guru yang tidak menumbuhkan semangat untuk belajar dan sistem yang tidak menunjang untuk menumbuhkan kesenangan dalam belajar.

Guru, dan dosen sebagai salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam dunia pendidikan, memiliki andil yang sangat besar dalam menumbuhkan kesenangan siswanya dalam belajar. Namun, melihat salah satu faktor kenapa hal ini tidak terjadi adalah karena kebanyakan guru dan dosen tidak menyenangi subjek dari apa yang seharusnya dia ajarkan kepada anak didiknya, atau dengan kata lain, kebanyakan guru terpaksa menjadi guru. Sebagai contoh, menurut beliau kebanyakan guru matematika tidak menyenangi matematika, dan menjadi guru hanya karena tuntutan memenuhi kebutuhan hidup. Padahal, sebenarnya tugas utama guru adalah menumbuhkan kesenangan dan motivasi belajar siswa, karena tidaklah mungkin untuk membuat siswa menjadi pintar hanya melalui proses pengajaran. Yang dapat membuat siswa menjadi pintar adalah dirinya sendiri, sedangkan tugas guru adalah mendorong minat belajar pada diri siswa untuk menjadi pintar. Tapi bagaimana mau menumbuhkan kesenangan belajar matematika pada siswa jika gurunya sendiri tidak menyenangi matematika?

Faktor kedua yang menjadi penghambat adalah sistem. Sistem pendidikan di Indonesia tidaklah menunjang untuk membuat siswanya memiliki rasa ‘senang’ belajar. Menurut beliau, sistem-sistem seperti UN, alih-alih menumbuhkan minat belajar pada siswa, malah membuat siswa stress dan terpatok pada nilai saja. Oleh karena itu, sistem-sistem seperti tersebut menurutnya harus kita lawan dan hilangkan (beliau aktif dalam gerakan petisi Tolak UN).

Dari argumen-argumen di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa salah satu masalah terbesar dalam dunia pendidikan adalah tidak adanya kesenangan siswa dalam belajar yang berakibat siswa tidak meiliki motivasi dalam belajar. Atau dengan kata lain para pelajar telah teralienasi terhadap proses belajar yang seharusnya dapat membuat mereka lebih manusiawi. Mengingat pendidikan merupakan salah satu tolok ukur kemajuan suatu negeri, maka jika dunia pendidikan kita tengah bermasalah, sudah sepantasnya kita memberikan perhatian lebih pada masalah pendidikan ini.

sajak Sajak Seonggok Jagung Rendra lagi-lagi mengaskan bahwa pendidikan kita tak mampu memberikan apa-apa. Pendidikan kita hanya membuat siswa/mahasiswa terasing dan tercerabut dari kehidupan. Pendidikan hanya menambah pengangguran di Ibukota, dan dengan bahasa yang amat liris Rendra menyindir para mahasiswa yang setelah lulus malah merasa asing dan sepi ketika telah pulang ke daerahnya. Kata Rendra: Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan. /Aku bertanya: /Apakah gunanya pendidikan/ bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing/ di tengah kenyataan persoalannya?/Apakah gunanya pendidikan/bila hanya mendorong seseorang/menjadi layang-layang di ibukota/kikuk pulang ke daerahnya?/Apakah gunanya seseorang/belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,/atau apa saja,/bila pada akhirnya,/ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata: /“Di sini aku merasa asing dan sepi!” (1996).

Pertanyaan-pertanyaan yang sekaligus penegasan realitas tersebut adalah problem pendidikan nasional yang sulit terpecahkan. Keterasingan output pendidikan terhadap masyarakat diakibatkan oleh tidak ilmiahnya kurikulum yang diberikan. Istilah ilmiah menandakan bahwa pendidikan harus bisa dibuktikan kebenarannya. Ia harus direlevansikan dengan kebutuhan dan realitas masyarakat. Selama ini, kurikulum pendidikan nasional tidak begitu ilmiah, kurikulum banyak diisi ilmu-ilmu asing. Sehingga kadang-kadang tidak relevan dengan realitas yang ada. Tak heran jika hari ini rakyat Indonesia miskin di tengah alam yang kaya raya. Itu karena orang Indonesianya sendiri tidak paham bagaimana mengelolanya. Ketidakilmiahan itu diakibatkan oleh berkiblatnya pendidikan kita pada barat. Ditegaskan oleh Rendra dalam Sajak Pemuda: Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat. /Di sana anak-anak memang disiapkan /Untuk menjadi alat dari industri. /Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti./Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa? /Kita hanya menjadi alat birokrasi!/Dan birokrasi menjadi berlebihan/tanpa kegunaan-/menjadi benalu di dahan. /Gelap. Pandanganku gelap. /Pendidikan tidak memberi pencerahan. /Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan /Gelap. Keluh kesahku gelap. /Orang yang hidup di dalam pengangguran. /Apakah yang terjadi di sekitarku ini?../ (1996). Selain di wilayah paradigma, Rendra pun mengkritik realitas di wilayah kebijakan pemerintah. Pemerintah dianggap tak mampu memberikan akses pendidikan pada rakyat dengan mudah. Akibatnya masih banyak anak-anak yang tak bisa sekolah. Hal itu terdapat dalam sajak Sajak Sebatang Lisong: Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak /tanpa pendidikan. /Aku bertanya, /tetapi pertanyaan-pertanyaanku/membentur meja kekuasaan yang macet,/dan papantulis-papantulis para pendidik/yang terlepas dari persoalan kehidupan…/.Angka matematis tersebut bukanlah asal bicara. Hari ini saja, di mana pemerintah sudah mulai melaksanakan kewajiban menggratiskan pendidikan, angka putus sekolah masih tinggi.

Sebagai penegasan, dalam sajak yang berjudul Sajak Anak Muda, Rendra menamai angkatan pendidikan dengan waktu itu dengan angkatan gagap. Angkatan yang diproduksi oleh sistem yang salah, lantas menghasilkan angkatan yang pasti salah. Kesalahan tersebut menjadikan kita menjadi angkatan yang berbahaya.

Hal itu bisa dilihat dalam: Kita adalah angkatan gagap./Yang diperanakan oleh angkatan kurangajar./Daya hidup telah diganti oleh nafsu./Pencerahan telah diganti oleh pembatasan./Kita adalah angkatan yang berbahaya…/(1996).

Sebagaimana sebuah konsep, ia membutuhkan solusi-solusi sebagai antitesis dari kesimpulan yang ada. Rendra menyadari hal itu, maka Rendra pun tidak hanya berkeluh kesah. Dalam sajak Sajak Sebatang Lisong, Rendra merumuskan sebuah solusi untuk membawa pendidikan kita ke jalur kemandirian, tidak bergantung dan berkiblat pada Barat.Menurut Rendra solusinya adalahKita harus berhenti membeli rumus-rumus asing./Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,/tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan./Kita mesti keluar ke jalan raya,/keluar ke desa-desa,/mencatat sendiri semua gejala,/dan menghayati persoalan yang nyata…(1996).

Sesuai dengan pemikiran Rendra, keterpurukan Indonesia di atas alam yang maha subur ini diakibatkan oleh sikap negara yang bergantun pada barat. Tak terkecuali di sektor pendidikan. Pemikiran liberalisasi pendidikan pun muncul dan dilaksanakan di Indonesia. Maka untuk melaksanakan apa yang dikatakan Rendra, salah satu caranya adalah dengan menunjukkan keberanian untuk mandiri di segala bidang. Sebuah pesan puitis dari Rendra layak dialamatkan pada para calon presiden kita yang sekarang sedang sibuk bertarung.

Dalam sajak-sajak Rendra tampak begitu kuat ideologi penyair dalam memandang pendidikan. dalam hal ini Rendra menggunakan teori-teori pendidikan kritis. Dalam literatur akademik, Henry Giroux dan Aronowitz membagi paradigma pendidikan ini menjadi tiga: konservatif, liberal dan kritis. Sejauh ini, pendidikan nasional lebih suka menggunakan paradigma konservatif dan liberal. Sedang paradigma kritis hanya digalakkan oleh lembaga nonformal atau oleh para aktivis. Tujuannya untuk memberikan akses seluas-luasnya pada rakyat miskin untuk bisa cerdas, terbebas dari hegemoni dan dehumanisasi sistem kekuasaan.

“Non scholae sed vitae discimus”

(Pepatah Latin : Kita belajar bukan untuk sekolah, melainkan untuk hidup)

  • Kesimpulan

Dari Puisi karya W.S Rendra dapat simpulkan adalah:

  1. setinggi-tingginya manusia menimba ilmu namun apabila manusia tersebut hanya berdiam diri di rumah yang diumpamakan seperti seonggok jagung, maka ilmu yang telah mereka dapatkan terasa sia-sia.
  2. Sangat mendalam makna yang terkandung didalam puisi karya W.S. Rendra diatas, beliau telah menulis puisi tersebut beberapa puluh tahun yang lalu dan itu yang benar-benar kita rasakan saat ini. Pendidikan sama sekali tidak membentuk karakter murid, hanya mengandalkan buku tanpa mampu berkarya dan mengolah bahan yang ada untuk dibawa kekehidupannya.
  3. Pendidikan hanya memberikan materi tanpa praktek, siswa hanya hafal tanpa memahami maksud yang sebenarnya dan siswa tidak dibekali kemampuan praktek sehingga siswa tidak memiliki keahlian yang dapat ia gunakan setelah lulus sekolah.
  4. Pendidikan haruslah membekali siswa untuk mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada dalam masyarakat, bukan hanya menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada dalam lembar soal.
  5. Setinggi apapun pendidikan yang kita tempuh, tidak akan ada gunanya jika tidak dapat dimanfaatkan dalam kehidupan kita dan dalam kehidupan bermasyarakat. Bagi calon pendidik dan para pendidik, mari kita tanamkan pada diri kita bahwa kita adalah panutan mereka, kita adalah penentu nasib mereka, kita harus mengubah cara berfikir murid, bahwa nilai tinggi saja tidaklah cukup. Kreatif dan Inovatif harus kita tanamkan pada diri mereka.
  6. Sudah saatnya kita berubah. Sistem pendidikan memang sangat berpengaruh namun pendidik jauh lebih berpengaruh. Lagu dibawah ini sangat tepat menggambarkan apa yang akan terjadi pada kita jika pendidik di Indonesia tidak benar-benar dibenahi..
  7. Sekolah telah menjauhkan kita dadi kehidupan nyata. Pelajaran hidup itu tidak ada keculi kita belajar dengan kerasanya hidup.
  8. Mengingat begitu ilmiahnya sajak-sajak Rendra, saya kira tepat gelar doktor honoris causa yang diraihnya dari UGM tempo lalu. (Jafar Fakhrurozi) Sepakat.
  • Referensi :
  • Hasil wawancara Indoprogress dengan Y Wasi Gede Puraka, Universitas Tidak Lagi Menjadi Pusat Sains, dalam http://indoprogress.com/lbr/?p=1511 (diakses tanggal 26 Oktober 2013)
  • Franz Magnis-Suseno, Pijar-Pijar Filsafat (Yogyakarta : Kanisius, 2005)
  • Franz Magnis-Suseno, Pijar-Pijar Filsafat (Yogyakarta : Kanisius, 2005)
  • Ignasius Harianto, “Martabat Manusia dan Keterasingan Dalam Pekerjaan”, dalam Jurnal Filsafat Driyarkara Th. XXXII, No.2 (2011)
  • http://www.biografiku.com/2009/11/biografi-ws-rendra.html)
  • http://lokalbahasasastra.blogspot.co.id/2012/05/biografi-singkat-wsrendra-1935-2009.html Posted by FerlianaFadli at 08.32
(Visited 169 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

0 thoughts on “Membaca Karya Pemikiran WS.RENDRA (1935-2009)”
  1. “Pendidikan haruslah membekali siswa untuk mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada dalam masyarakat, bukan hanya menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada dalam lembar soal”.

    Sangat bermanfaat, Terima kasih pak🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.