#KafeUrbanLink
Suasana temaram, musik klasik mengalun pelan, lampu berwarna jingga menjadi penerang ruang tak berdinding di lantai dua kafe Urban Link, bilangan jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar. Di sudut timur bagian depan kafe yang menghadap selatan ini, siluet tubuh Imam yang tambun nampak jelas. Dia duduk sendiri menghadapi meja yang nampak kosong, baik dari vas,maupun dari gelas minuman. Sudah empat puluh tujuh menit ditambah dua belas detik dia duduk di sana, tapi belum memesan apapun, dan tak bercakap dengan siapapun.
Beruntung, itu malam senin, malam yang paling dihindari oleh warga kota untuk kongko, sebab senin besoknya akan menjadi hari yang sibuk sejak pagi. Sepertinya warga kota memilih untuk lelap lebih dini, agar tak telat esok hari. Lain halnya dengan Imam, sejak kuliahnya selesai, maka selain menulis puisi, hanya aktivitas di Pemuda Muslimin Indonesia yang membuatnya sibuk. Dan itulah yang membuatnya mengalami dilema sekarang, mencerburkan diri ke dunia kepenyairan sepenuhnya, atau dia menempuh jalan dakwah, seperti pilihan Rustam dan Baihaqi.
Ya, sejak menyelesaikan kuliahnya, Baihaqi memilih mengabdi untuk umat dengan menjadi pengurus masjid Al Hikmah di kawasan Mallengkeri Makassar. Latar belakangnya sebagai aktivis Pemuda Muslimin Indonesia membuat dia cepat masuk ke jajaran dai yang mendapatkan kepercayaan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengisi majelis taklim dan pengajian – pengajian yang digelar oleh umat, sekelas ustaz Abdul Somad dalam skala lokal. Gaya hidupnya semasa mahasiswa yang urakan, sudah tak meninggalkan bekas.
Sementara itu, Rustam memilih menjadi ustaz milenial dengan mengelola akun @JomloBahagia di instagram yang pengikutnya sudah melampaui angka lima juta, popularitasnya sebagai ustaz gaul melebihi ekspektasi, sudah bisa disejajarkan dengan Hanan Attaki, Felix Siauw, atau adi Hidayat. Forum – forum pengajiannya banyak digelar di perkantoran elit, sampai di kafe dan warung kopi tempat nongkrongnya generasi milenial. Dia juga berhasil mendorong gerakan #GaulTapiHijrah
Kembali ke Imam. Orang tuanya berharap dia bisa menikah tahun ini, umur 27 tahun adalah usia yang tepat untuk merengkuh tanggungjawab yang lebih besar, menurut mereka.
“Waduh, kalau menikah saya tak boleh lagi nongkrong lama dengan teman – temanku di kafe atau warung kopi.” Sesal Imam.
“Ya, tergantung….” Kilah ibunya.
“Tergantung apa, Umi?”
“Tergantung istrimu nanti, mengizinkan atau tidak.”
“Kata umi harus menikah dengan Latifah.”
“Terus kamu menolak?”
“Ya tidak sih, tapi apa Latifah akan mengizinkan saya tetap nongkrong?”
“Apa kamu lebih memilih teman nongkrongmu dibanding Latifah?” Ibunya kembali mengejar.
“Latifah itu dari keluarga baik – baik, keluarganya terpandang di hadramaut dan di Indonesia, mereka keluarga Assegaf, Imam, assegaaaaf.” Lanjut ibunya.
“Iya, Umi. Iya.” Imam bersungut – sungut.
“Jangan bikin malu keluarga, kita ini keluarga al Atthos.” Ibunya berlalu.
Kenapa sih masih ada yang namanya perjodohan? Gumam Imam sambil mengetuk – ngetuk meja di depannya. Malam makin larut, pengunjung kafe tak juga berubah, hanya pengguna jalan yang kian berkurang. Imam merasa perutnya mulai keroncongan, memang dia sudah di sana sejak sore dan belum memesan apapun. Segera dia bunyikan bel untuk memanggil pelayan, dia memesan makan malam komplit, dan minta lampu di sekitar mejanya tetap dibiarkan redup. Imam memilih menikmati makan malamnya berselimut kelam.
* * *
#KantorHarianAmanah
“Ady, layout untuk edisi besok sudah oke kan?” Seru Abrar, Pimpinan Redaksi Harian Amanah yang baru.
“Sudah, Bang.”
“Bagus. Bagaimana menulis puisinya, lancar? Jangan cuma terbitkan di Amanah dong, sesekali di Kompas atau Tempo.”
“Wah, puisiku tak cocok dengan genre kedua media itu, Bang.”
“Loh, maksudnya?”
“Sekarang saya lebih banyak menulis puisi yang berbau kesufi-sufian, Bang.”
“Memang kamu ikut pengajian di mana sekarang?”
“Di Majelis Zikir Nizamiyah, Bang.”
“Oh, masih ada ustaz Rusmin di sana?”
“Masih, Bang. Tapi sekarang beliau lebih sering keluar daerah menggelar pengajian.”
“Ya, sudah. Tolong beritahu Hasan, redaktur sastra kita, bilang saya mau bertemu.”
“Iya, Bang.”
Sepeninggal Abrar, ruang redaksi Harian Amanah kembali menjadi riuh seperti kawanan lebah. Ady mendatangi Hasan menyampaikan pesan Abrar. Tasrif, reporter olahraga senior mendekatkan kursinya ke arah Ady.
“Bro, Abrar sekarang jadi lebih serius ya?
“Maksud Bang Tasrif?”
“Sudah susah melihat senyumnya, padahal kalau dia senyum, manis kan?”
“Ah, saya merasa biasa saja, Bang.”
“Biasa saja bagaimana? Dulu dia rajin ngerumpi di ruangan ini.”
“Tentulah Bang, karena ruang kerjanya juga di sini.”
“Ah, kau juga sama saja.”
Sementara itu, di dalam ruangan Pimpinan Redaksi, Abrar duduk berhadap – hadapan dengan Hasan.
“Kamu tahu kabar Imam?”
“Wah, tidak tahu, Bang. Ada apa memangnya?”
“Dia itu punya ceruk pembaca tersendiri di pelanggan kita. Kalau lama tak menayangkan tulisan Imam, biasanya para pembaca akan menghubungi kita.”
“Betul, Bang. Sudah ada beberapa email yang masuk menanyakan soal itu, Bang.”
“Kemana anak itu ya? Tak biasanya dia betah tak menulis.”
“Perlu saya hubungi nomor kontak atau saya sambangi ke alamatnya, Bang?”
“Tidak usah, nanti saya yang coba menghubunginya sendiri.”
“Kalau begitu, saya kembali ke ruanganku, Bang.” Hasan berdiri, lalu merapikan kursinya kembali.
“Tunggu, Bagaimana rencana pengajian gen milenial bulan depan?” Abrar memanggil Hasan kembali.
“InsyaAllah, semua sudah beres, Bang. Tinggal penataan ruang dan penyiapan konsumsi yang menunggu hari kegiatan.” Terang Hasan yang kembali duduk.
“Oh ya, ustaz Rustam bersedia hadir, kan?”
“Sudah, Bang. Sudah ditangani sama ukhti Reina.”
“Kalau begitu, tolong dibuatkan tampilan iklannya ya, nanti kita tayangkan sepekan sebelum kegiatan, sudah ada beberapa merek yang siap jadi sponsor.”
“Oke, Bang. Siap.” Hasan menjura lalu keluar.
* * *
#MasjidAlHikmah
Tengah malam, lampu dalam ruangan di samping mihrab masjid Al HIkmah masih benderang, sesekali terdengar suara orang berbincang, meski sayup. Ustaz Baihaqi lagi menerima temannya yang numpang menginap, Isbah. Sejak lamarannya ditolak oleh orang tua Isabella, kehidupan Isbah difokuskan pada aktivitas advokasi. berbeda dengan teman – temannya yang mengambil jalur dakwah, dia memilih menjadi aktivis sosial. Namanya menjadi legenda di tengah – tengah perbincangan para aktivis muda Makassar.
“Ada apa akhi? Kenapa kusut begitu?” Tanya Ustaz Baihaqi sambil meletakkan mushaf al Qurannya.
“Ternyata jadi aktivis itu melelahkan juga.”
“Luruskan niat. Lagipula jalan yang antum tempuh itu juga jalan yang mulia di sisi Allah.”
“Tidak bisakah aktivis juga punya kehidupan sosial yang normal?” Isbah mendesah.
“Maksudnya?”
“Ya, seperti orang lain, menikah punya anak, ya begitu.”
“Siapa bilang aktivis tak boleh menikah?” Selidik Ustaz Baihaqi.
“Faktanya, tak ada orang tua yang percaya saya bisa dijadikan menantu!”
“Istighfar akhi, istighfar.”
“Kenapa tak mencoba ikut pengajian Ustaz Rustam, bukankah kaliah sudah seperti saudara? Siapa tahu ada jamaah pengajiannya yang siap jadi istrimu.” Jelas Ustaz Baihaqi.
“Boro – boro membantu, Rustam juga belum menikah.”
“Tapi itu bukan masalah kan? Sama saja dengan saya, antum curhat ke saya yang juga belum menikah, hehehehe….”
“Pokoknya………”
“Assalamu alaikuuuuum…” Terdengar salam dari arah pintu samping masjid. Entah siapa yang datang bertamu di pukul dua dinihari.
“Assalamu alaikuuuuuum… Ustaz Baihaaaaqiiiii….”
“Waalaikum salaaaaam… Siapa yaaaaaa?”
“Saya ustaz, Imam.” Mendengar itu, Ustaz Baihaqi dan Isbah saling pandang, ada apa penyair tambun itu datang malam – malam, ke masjid pula. Biasanya dia cuma mengajak janjian di kafe atau warung kopi, paling banter perpustakaan kampus.
“Eh, masuk akhi.” Ustaz Baihaqi membuka pintu menyilakan Imam masuk.
“Wah, kamu ngapain di sini?” Imam menunjuk Isbah.
“Justru saya yang mau bertanya, saya kan lebih dulu di sini.”
“Sudah… Sudah… ayo duduk.”
Baihaqi lalu menyiapkan secangkir teh hangat untuk Imam, punya dia dan Isbah sudah tinggal separuh.
“Dari mana ini penyair kita, tumben muncul di masjid, mau ajak kita salat lail bareng?” Baihaqi mencandai Imam.
“Atau jangan – jangan mau minta izin untuk deklamasi puisi di halaman masjid, ustaz.” Isbah ikut menimpali.
“Ledeklah aku sepuas hatimu, atau bila kau perlu, fitnahlah aku…” Seru Imam mengikuti langgam lagu dangdut.
“Hehehehe…”Ustaz Baihaqi dan Isbah tertawa berbarengan.
“Serius ini Imam, dari mana saja antum ini?” Ustaz Baihaqi kembali bertanya.
“Besoklah aku cerita, malam ini saya cuma mau tidur di sini.” Imam merebahkan tubuh tambunnya di atas matras. “Habiskan dulu tehnya sebelum tidur.” Baihaqi mengangsurkan cangkir ke arah Imam yang langsung disambutnya dalam sekali teguk. Tak lama, Isbah dan Baihaqi harus menutup kedua telinga karena dengkur Imam yang lumayan mengganggu.
<<Sebelumnya Selanjutnya>>
