Oleh: Gusnawati Lukman

A. Latar Belakang

Pernahkah kita sebagai seorang guru meluangkan waktu sejenak membayangkan atau pun memperhatikan satu persatu murid di kelas kita? Bagaimana karakteristik setiap anak? Bagaimana gaya belajar, minat, dan keterampilan mereka? Apakah kita sebagai seorang guru sudah mengetahui dan memahami kekuatan atau potensi yang mereka miliki? Apakah kita sudah mengetahui anak-anak kita yang pintar berhitung? Pintar dalam hal berbahasa, ataukah pintar di bidang seni?

Selama pengabdian kita sebagai seorang guru, kita sudah merasakan pahit manisnya menghadapi peserta didik atau murid dengan beragam karakter, minat, gaya belajar dan keterampilan. Keberagaman ini merupakan seni mengajar tingkat tinggi dan juga tantangan.Tanpa disadari, kita dihadapkan oleh keberagaman yang begitu banyak bentuknya. Seiring dengan banyaknya tantangan tersebut, kerap kali guru harus memutuskan banyak hal dalam satu waktu. Keterampilan ini banyak yang tidak disadari oleh seorang guru, karena begitu naturalnya hal ini terjadi dalam setiap proses pembelajaran di dalam kelas dan betapa terbiasanya guru menghadapi hal semacam ini. 

Berbagai usaha kita lakukan yang tentu saja semua ini tujuannya adalah untuk memastikan setiap murid di kelas kita sukses dalam proses pembelajarannya. Untuk menjawab semua tantangan tersebut, dan untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik, guru harus terus belajar mengembangkan kompetensi dirinya. Banyak menggali ilmu yang bermanfaat bagi diri, anak didik, dan lingkungan sosialnya. 

Mengetahui dan memahami makna pembelajaran berdiferensiasi juga merupakan hal yang perlu dan mutlak bagi seorang guru, agar keberagaman yang dihadapi di lapangan tidak menjadi hambatan dalam pelaksanaan proses pembelajaran dan untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didiknya.

B. Apakah itu Pembelajaran Berdiferensiasi?

Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk
memenuhi kebutuhan belajar individu atau serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid.

Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

1. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.

2. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas.

Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.

3. Penilaian berkelanjutan.

Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.

4. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya.

Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.

5. Manajemen kelas yang efektif.

Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.

Diferensiasi Konten: Diferensiasi konten merujuk pada strategi membedakan pengorganisasian dan format penyampaian konten. Konten adalah materi pengetahuan, konsep, dan keterampilan yang perlu dipelajari murid berdasarkan kurikulum.

Diferensiasi Produk: Merujuk pada strategi memodifikasi produk hasil belajar murid, hasil latihan, penerapan, dan pengembangan apa yang telah dipelajari.

Diferensiasi Proses: Merujuk pada strategi membedakan proses yang harus dijalani oleh murid yang dapat memungkinkan mereka untuk berlatih dan memahami isi (content) materi.

C. Memetakan Kebutuhan Belajar Murid

Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek.

Ketiga aspek tersebut adalah:

1. Kesiapan belajar (readiness) murid

2. Minat murid

3. Profil belajar murid

Sebagai guru, kita semua tentu tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar). Lalu jika tugas-tugas tersebut memicu keingin tahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat), dan jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar).

  1. Kesiapan  Belajar  (READINESS)

Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman mereka, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi baru tersebut.

  1. Minat Murid

Kita tahu bahwa seperti juga kita orang dewasa, murid juga memiliki minat sendiri. Ada murid yang minatnya sangat besar dalam bidang seni, matematika, sains,drama, memasak, dan sebagainya. Minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran. Tomlinson (2001 : 53), menjelaskan bahwa mempertimbangkan minat murid dalam merancang pembelajaran memiliki tujuan diantaranya:

  • Membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan
  • keinginan mereka sendiri untuk belajar;
  • Menunjukkan keterhubungan antara semua pembelajaran;
  • Menggunakan keterampilan atau ide yang familiar bagi murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang familiar atau baru bagi mereka, dan;
  • Meningkatkan motivasi murid untuk belajar. Sepanjang tahun, murid yang berbeda akan menunjukkan minat pada topik yang berbeda. Gagasan untuk membedakan melalui minat adalah untuk “menghubungkan” murid pada pelajaran untuk menjaga minat mereka. Dengan menjaga minat murid tetap tinggi, diharapkan dapat meningkatkan kinerja murid.

Beberapa contoh ide yang dapat dilakukan untuk meningkatkan da mempertahankan minat diantaranya misalnya:

• Meminta murid untuk memilih apakah mereka ingin mendemonstrasikan pemahaman dengan menulis lagu, melakukan pertunjukan atau menari atau bentuk lain sesuai minat mereka.

• Menggunakan teknik Jigsaw dan pembelajaran kooperatif.

• Menggunakan strategi investigasi kelompok berdasarkan minat.

• Membuat kegiatan “sehari di tempat kerja”. Murid diminta mempelajari bagaimana sebuah keterampilan tertentu diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Mereka boleh memilih profesi yang sesuai minat mereka.

  1. Profil Belajar Murid

Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor, seperti: bahasa, budaya, kesehatan, keadaan keluarga, dan kekhususan lainnya. Selain itu juga akan berhubungan dengan gaya belajar seseorang. Menurut Tomlinson (dalam Hockett, 2018: 8) profil belajar murid ini merupakan pendekatan yang disukai murid untuk belajar, yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar belakang, jenis kelamin, dan lain-lain. Tujuan dari mengidentifikasi atau memetakan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien. Namun demikian, sebagai guru, kadang-kadang kita secara tidak sengaja cenderung memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita sendiri. Padahal kita tahu setiap anak memiliki profil belajar sendiri. Memiliki kesadaran tentang ini sangat penting agar guru dapat memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka.

Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi pembelajaran seseorang. Berikut ini adalah beberapa yang harus diperhatikan:

• Lingkungan: suhu, tingkat aktivitas, tingkat kebisingan, jumlah cahaya.

• Pengaruh Budaya: santai – terstruktur, pendiam – ekspresif, personal -impersonal.

• Gaya belajar visual: belajar dengan melihat (diagram, power point, catatan, peta, grafik organisator).

• Gaya belajar Auditori: belajar dengan mendengar (kuliah, membaca dengan keras, mendengarkan musik).

• Gaya belajar Kinestetik: belajar sambil melakukan (bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands on, dan sebagainya).

Berdasarkan pemaparan diatas, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa untuk mengoptimalkan pembelajaran dan tentunya hasil dari pembelajaran murid,diperlukan pembelajaran yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan belajar murid. Dengan pengetahuan yang dimiliki seorang guru tentang pembelajaran berdiferensiasi, maka dipastikan bahwa tujuan pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid akan tercapai. Semoga bermanfaat.

Salam guru penggerak

Salam merdeka belajar

Sumber: Modul CGP oleh: – Oscarina Dewi Kusuma, M.Pd

        – Siti Luthfah, M.Pd

Watansoppeng, 4 April 2022

(Visited 96 times, 1 visits today)
One thought on “Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: