Setelah Bona meminang Kiran, yang ada di benak kiran hanyalah beribadah pada Sang Khalik. Kiran tidak pernah berpikir bahwa Bona harus seperti A, B, atau C. Karena baginya hal itu sudah lenyap ditelan masa. Menurut Kiran percuma jika memiliki segudang persyaratan atau di awal terlampau mencintainya, namun tetap berakhir sebelum menua bersama dan pulang bersama pada Sang Pencipta, hal itu hanyalah omong kosong yang tak pernah berbekas. Jadi kiran betul – betul menerima Bona apa adanya. Setelah lama berjuang sendiri, Kiran tak pernah takut akan hidup yang dihadapi. “Karena takut pun jika memang akan terjadi, tetaplah terjadi, jika tidak maka tidak” sehingga kiran selalu berani dengan hidupnya.

Dalam hari pertama menjalani rumah tangga dengan Bona, tidak ada sesuatu yang berbeda. Bona adalah laki – laki yang tidak munafik, tidak banyak bicara langsung dengan tindakan, namun gamblang dalam menyampaikan nasihat dan hal yang diinginkan atau tidak diinginkan. Hal itu membuat Kiran mudah dalam menghadapi Bona, walau pun sesekali Kiran cukup tertanggu dengan wejangan Bona karena terlampau sering disampaikan.

Sayang, mau aku bikinkan kopi? Cetus Kiran pada Bona. Boleh(saut Bona).

Kiran : sayang, kamu hari ini langsung kerja?

Bona: iyalah sayang, kalau ga kerja kita mau makan apa, terus juga kita harus cepat kejar target – target kita

Kiran : oh iya, betul sayang….. Aku jg setuju. Ada yang bisa aku bantu?

Bona : untuk hari ini sepertinya belum ada. Tapi nanti ayang catat pengeluaran dan pemasukannya ya,

Kiran : oh iya sayang. Ok

Bona adalah laki – laki yang memberi ruang pada wanitanya untuk ikut andil dan sukses. Bona tidak pernah merasa underestimate/rendah diri dengan segala kemampuan yang dimiliki Kiran. Karena menurut Bona, perempuan itu adalah Srikandi yang bisa maju juga. Selain itu, Bona merasa sebagai laki – laki dia mampu memimpin perempuan bagaimana pun tinggi pendidikan atau hebatnya karir.

Bona sangat menyayangi Kiran, walau amat sangat jarang mengucapkan cinta. Bagi Bona, cinta itu tidak dalam ucapan. Namun dalam tindakan.

Satu, dua, tiga hari dan beberapa hari berjalan Kiran jalani kehidupan bersama Bona. Terkadang Kiran merasa lelah, dengan pekerjaan rumah tangga yang dihadapinya. Saat Kiran menginginkan karir yang melambung tinggi, Kiran harus beradaptasi dulu dengan kondisi yang ada. Kiran mencoba segala hal yang dia bisa sebagai bentuk usaha mencapai impiannya. Kiran sabar dengan ujian dan tantangan yang ada, berusaha selalu menghormati Bona sebagai suaminya, dan selalu meminta maaf ketika terjadi singgungan masalah dengan Bona. Karena dari awal Kiran hanya ingin beribadah atau mengharap Ridha Sang Khalik. Selagi Bona selalu mendukung karir Kiran, Kiran akan selalu bersedia mengikuti apa yang diinginkan Bona jika hal itu positif.

(Visited 24 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Uus Usnawati

Seorang perempuan yang selalu happy, berjuang untuk hidupnya, tak kenal lelah. Panggil saja Uuz happyday atau Miss Happy

One thought on “Hanya Berharap Ridhonya”
  1. Bagus eeeh mana ilustrasinya? Minta dibantu Bunsay Gusniwati saja nanda.
    Salam Literasi teruslah berkarya dengan banyak membaca dan belajar dari karya orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.