Apa yang saya rasakan ketika buku pertama terbit dan dijual di toko buku ternama? Senang dan bangga. Begitu pula ketika buku kedua terbit. Lalu, apa yang saya pikir ketika buku-buku tersebut banyak dijual di marketplace? Sepertinya buku saya laris.
Hingga pada suatu hari seorang penulis senior mengatakan, “Bukan laris, Kang… Bukumu sudah dibajak!” Seketika itu saya terdiam. Betapa polosnya saya.
“Mengapa tidak menerbitkan sendiri bukumu?”
“Hah, bagaimana caranya menerbitkan sendiri buku saya, Pak?”
Singkat cerita, saya pun banyak belajar bagaimana caranya menerbitkan buku. Berbagai pelatihan saya ikuti. Bahkan, sertifikat kompetensi sebagai penulis dan editor pun sudah saya kantongi. Lalu, bagaimana selanjutnya?
Sejalan dengan itu, ternyata Allah Swt punya skenario yang indah. Melalui sebuah webinar di akhir tahun 2020, saya mengenal sosok inspiratif bernama Ruslan Ismail Mage atau yang akrab dipanggil Bang RIM.
“Siapa sih Bang RIM? Nggak terkenal juga.”
“Akademisi, ya? Banyak lah yang jadi penulis dan narasumber.”
Awalnya, saya pikir Bang RIM ini sama saja seperti kebanyakan akademisi dan narasumber lainnya. Mereka bisa begitu karena mereka akademisi. Namun, banyak juga yang (maaf) hanya teori saja, kan?
Kami pun mulai berkomunikasi intensif melalui WhatsApp. Cara dia memanggil “Dinda superku” terasa beda. “SUPER? Apanya yang super dari diriku?” Saya tidak pernah berpikir sebagai orang yang super.
“Diksimu indah, Dinda superku!”
Diksi? Apakah Bang RIM mengamati tulisan-tulisan saya? Sepertinya tulisan-tulisan saya biasa saja. Apalagi saya bukan tipe orang yang suka menulis fiksi seperti cerpen atau novel.
Sejak itu, saya pun mulai mengikuti tulisan-tulisan Bang RIM di akun media sosialnya. Hingga pada suatu hari saya membaca kutipannya, “Sahabat itu menjadikanmu pegangan, bukan pijakan.” Saat itu, saya merenung lama.
“Dinda itu ibarat mutiara yang terpendam. Muncullah ke permukaan. Ayo Dinda superku, kita berpegangan tangan menciptakan rumah jiwa di angkasa!”
Ajakan Bang RIM seperti menghipnotis saya. Kami pun membuat grup WhatsApp Bengkel Narasi pada tanggal 23 April 2021. Sehari kemudian, dibantu oleh sahabat Andrian Nur Prabawa, situs web menulis daring www.bengkelnarasi.com pun langsung tayang.
Prosesnya sangat cepat, membuat orang-orang terperangah. Bengkel Narasi pun mulai menjadi buah bibir di kalangan pegiat literasi.
Tidak berhenti di situ, Bang RIM pun meminta saya menyiapkan Pena Anak Indonesia (PAI) sebagai rumah jiwa di angkasa bagi para pelajar sebagai penerima tongkat estafet perjuangan literasi kami di Bengkel Narasi. Masya Allah!
Ada satu hal yang menarik di sini. Sejak proses perkenalan hingga kami tuntas mendirikan Bengkel Narasi dan Pena Anak Indonesia (PAI), juga menerbitkan dua puluh lebih buku berlabel Bengkel Narasi, belum pernah satu kali pun kami bertemu tatap muka! Bagaimana bisa? Sementara orang-orang perlu banyak rapat.
Kuncinya di “manajemen satu rasa” yang diajarkan Bang RIM. Fisik kami boleh berjauhan, tetapi rasa di hati kami sudah menyatu dalam cinta literasi. Hingga pada akhirnya tanggal 11 November 2021 kami pun bertatap muka untuk pertama kalinya. Saya harus menyembunyikan air mata haru ketika bertemu dengan Kanda superku Bang RIM yang saat itu ditemani oleh “Bapak ASN” Bengkel Narasi, Mas Sumardi.
Sungguh, bagi saya Bengkel Narasi adalah komunitas pecinta literasi yang berani tampil beda. Ibarat universitas kehidupan, mata kuliahnya adalah menulis sambil memeluk kemanusiaan, menulis sambil mengurus kehidupan, dan menulis sambil berbagi dan menginspirasi. Nilai kelulusannya bukan berdasarkan tinggi pangkat dan jabatan, bukan dari seberapa banyak kekayaan, dan bukan dari seberapa banyak gelar akademik mengapit nama, melainkan dari seberapa rendah hati kita. Tidak heran jika Bang RIM tidak pernah satu kali pun mencantumkan gelar doktornya.
Di Bengkel Narasi, Bang RIM tidak pernah mengajarkan untuk megumpulkan modal finansial. Dia mengajarkan untuk mengumpulkan modal sosial. Setiap anggota diperlakukan sebagai subjek, bukan sebagai objek.
From zero to hero, teori “muncul ke permukaan” yang diajarkan Bang RIM telah menjadikan saya orang yang “gagah” sebagai insan kepenulisan. Begitu pula dengan sejumlah anggota Bengkel Narasi yang sudah berhasil muncul ke permukaan dengan karya-karyanya. Faktanya, panggung literasi bukan hanya milik orang-orang di perkotaan. Bersama Bengkel Narasi, orang-orang di balik bukit atau di perdesaan sekalipun bisa tampil di atas megahnya panggung literasi. Terima kasih kepada Kanda tercinta Bang RIM. Ibarat kata, “RIM tanpa Iyan buta, Iyan tanpa RIM lumpuh.”
Hari ini, 27 Juli 2022, saya sengaja me-recycle tulisan ini untuk mengucapkan selamat milad kepada saudara tak sedarah, Bang RIM. Kau lebih dari keluarga. Kau sedih tatkala adikmu ini sedih. Kau bahagia melihat adikmu ini bahagia. Kau adalah “rumah jiwa” bagi kami. Semoga Allah Swt senantiasa melimpahkan segala kebaikan bagimu dan keluarga tercinta, amin.

Aamiinnnn……..yra semoga banf RIM senantiasa berkah mewarnai perjalanan hidupnya,,kesuksesan dan kebahagian akan selalu bersamanya
BNers ini bagiku sudah seperti keluarga besar. Padahal belum pernah jumpa satu pun para anggotanya.
Bang RIM menyapaku dengan panggilan Bunda super, duhai….
Iyan yang kupanggil Aa pun gercep kalau kumintai bantuan mulai dari urusan postingan, sampai menerbitkan buku Menoreh Janji di Tanah Suci. Sabar ya untu kcetak Jejak Cinta Sevlla, sponsor belum cairkan dananya. Jadi maluuuuu….saya teh da…