Oleh : Rosmawati*

Banyak yang bertanya, bagaimana membagi waktu antara rutinitas yang mekanis dan dunia literasi? Jawabannya sederhana: bagi saya, “menulis adalah mesin yang membuat hidup terus menyala”. Dalam deru rutinitas, kata-kata adalah cara saya membebaskan diri dan mengajak siapa pun untuk ikut merayakan kehidupan melalui goresan pena yang bermakna.

Menulis memberiku sayap untuk melompat melampaui rutinitas kantor, membawa pembaca menjelajahi dunia pemikiran yang luas. Ini adalah sebuah perjalanan lintas ruang yang hanya bisa ditempuh melalui kekuatan kata-kata yang merdeka dan jujur, di mana imajinasi tidak lagi terbelenggu oleh jam kerja atau tumpukan berkas administratif.

Semoga kehadiranku di dunia literasi dapat mendorong setiap orang agar tidak hanya menjadi penonton di balik rak buku, tetapi tergerak untuk menjadi pelaku sejarah. Literasi bukan sekadar koleksi benda mati, melainkan sebuah ekosistem hidup yang membutuhkan nafas dari pikiran-pikiran kritis dan hangat dari tangan-tangan yang mau menulis.

Saya ingin setiap pengunjung perpustakaan dan pembaca karyaku berani masuk ke “lantai dansa literasi”. Jangan ragu untuk mengambil pena, mulai menuliskan jejak pengabdian sendiri, dan biarkan dunia melihat bahwa setiap pengalaman hidup, sekecil apa pun itu memiliki nilai yang sangat berharga jika diabadikan dalam tulisan.

Satu tulisan yang lahir dari ketulusan adalah cahaya yang tak akan pernah padam, sebuah obor yang akan terus menerangi jalan bagi generasi setelah kita. Ketulusan dalam merangkai kalimat adalah kunci agar pesan yang kita sampaikan mampu menembus relung hati pembaca dan menggerakkan mereka untuk melakukan perubahan nyata.

Lima tahun terkahir menikmati hidup dengan perpaduan unik, antara mekanik di Bengkel Narasi, penjaga gudang ilmu, dan penari aksara yang lincah sebagai penulis. Selama hayat dikandung badan, mesin di Bengkel Narasi akan tetap berderu kencang dan tarian pengabdian di Dinas Perpustakaan akan terus berlanjut tanpa kenal lelah demi kemajuan literasi kita.

Bagiku, hidup yang paling bertenaga adalah hidup yang terus menyala tanpa batas, membagikan energi penggerak bagi siapa saja yang haus akan perubahan. Mari kita gunakan kekuatan aksara sebagai senjata untuk mencerahkan dunia dan membuktikan bahwa melalui tulisan, kita hidup selamanya.

BNsiana dan Koordinator Pena Anak Indonesia Kolaka Utara

(Visited 26 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.