Oleh: Devinarti Seixas

Kala 1999 tepatnya tanggal 17 Agustus 1999.Hari itu aku sekolah di SMP Negeri 3 Becora Dili Timor-Timur waktu itu belum menjadi Timor Leste.Bertepatan pada hari kemerdekaan RI saat itu.

Pada pagi hari aku masih sempat ke sekolah untuk mengikuti upacara bendera.Saat aku tiba,belum ada orang yang datang kecuali Bapak Semi si penjaga sekolah.Aku menunggu teman-teman aku yakni SAHABAT SEJATI aku Agung Ayu Maryati,Ana Pereira,Maria Herlina wati serta Cerita dan Elsa Maia karena kami adalah sahabat baik waktu itu.

Menunggu terlalu lama,akhirnya aku ingin pulang saja.Masih mondar mandir di depan gedung sekolah Pak Semi datang dan perkara,Dev kamu kenapa kayak orang tidak tenang ? Tanya Pak Semi Si penjaga sekolah.

Hmm aku lagi nunggu Ayu pak jawab aku.

Ah Ayu belum datang Dev kata pak Semi.

Ya makanya aku mau titip salam buat sahabat-sahabat aku jika aku tidak bakalan ikut upacara pak ?

Lho kenapa Dev emang kamu mau kemana ?

Hmmm oke aku mau ke hutan pak Semi terkejut  ! Ah mau ke hutan cari apa ? 

HM tidak aku mau ketemu para Gerilya Pak Semi  ah kok bisa kamu tidak takut ditembak  ? TIDAK pak jawab aku.

Why pelantikan suara kamu Dev awas ada yang dengar.

Ah kalau ada yang dengar berarti pak Semi dong yang kasih tahu  kan kita hanya berdua saja pak jawab aku semakin tidak sadar.

Awas ini anak kok cerewet bangat kata pak Semi.

Sambil aku mendekat dan berkata pak Semi aku mau ke hutan ketemu sama Bapak Lere Anan Timur.

Eh ini anak tidak takut ya di dengar orang.Ya pak Semi kang kita berdua saja pasti tidak didengar sama orang.

Awas pak Gabriel dengar Dev,Aku berbisik lagi ok nanti kasih salam aku ke Ayu dan Herlin bilang kalau perang selesai pasti kami bertemu lagi.

Ah Dev emang kamu tidak akan pulang lagi ya untuk sekolah? Tanya Pak Semi.

Ya setelah pulang dari hutan aku langsung ke Lospalos habis Pemilihan baru aku pulang pak,bantu salam ya buat Ayu bilang ciuman buat mereka berdua selama dua minggu.

Okey jalan sudah ini anak cerewet bangat jawab ba Semi yang baik hati dan tidak sombong.

Aku langsung pulang ke rumah dan yang seharusnya aku tidak ikut karena papa mama kecil aku takut soalnya aku anak ABRI saat itu.Pulang menuju rumah aku langsung melihat Mama kecil dan papa kecil Zanibal sudah berada di depan rumah dan mama kecil serta adik-adik semua pada mau berangkat.Di rumah aku hanya sendirian jadi aku juga takut karena situasi di Dili sudah tak aman lagi.

Aku pun bilang aku ikut akhirnya mama papa bilang,ambil tas kamu dan pakaian pengganti untuk dua hari.Aku langsung pakai baju dan rok sekolah berwarna biru dengan tas sama celana pendek satu sama panjang satu sama baju.

Semua buku raport dan Ijazah SD serta kamus dan buku Diary aku juga album foto masa remaja tidak aku bawah karena kata bapak hanya dua atau tiga hari.

Kami lalu dengan keluarga mama dan Papa kecil pun berangkat dan tiba di Baucau baru aku ganti rok dengan celana.Aku tidak tahu tujuan aku ikut itu mau kemana dan untuk apa.Yang jelas kami sangat menikmati perjalanan hingga ke Atelari .

Pemeriksaan satu persatu dari Laga,Sagadate,hingga Desa Atelari sampai pada Nautetu.Aku sangat terkejut waktu pertama kali.Kala aku melihat semua masyarakat pro kemerdekaan hadir semua.Aku bingung untuk apa semua orang ke puncak ini karena aku beneran tidak tahu.

Lalu kami tiba di puncak Nautetu & aku tak sadar lagi  jika aku anak ABRI yang aku tahu aku juga anak tanah ini jadi kami berjalan sambil bawa tas serta makanan dengan tak Nono dan pacarnya,mama juga sanak saudara.Kami dipersilahkan menetap dekat Bapak Komando Ponta -Leste .Aku menikmati acara sejak tanggal  17 hingga  20.

Pada momen upacara aku melihat teman-teman aku dari SMP 3 yakni Ato,Jhon,Elsa,Mira,Gil,karena mereka mengikuti kegiatan folklor dan tampil pada malam 20 Agustus.

Itulah hari pertama  aku dengar bahwa tanggal 20 Agustus merupakan hari FALINTIL.Ketika upacara berlangsung rasanya aku mau menangis karena ini hari bersejarah bagi aku secara pribadi meskipun tanpa izin ayah aku sudah ada di hutan yakni Puncak Atelari. 

Hari itu rasanya sedih bangat saat aku mendengar para FALINTIL dan seluruh masyarakat pro-kemerdekaan yang berpartisipasi  menyanyikan  lagu Foho Ramelau serta ketika kibaran Bendera FALINTIL.Para pejuang dan kami  yang hadir semua menikmati upacara bagi hari FALINTIL di saat itu. Regiaõ Ponta-Leste.Semua generasi pro kemerdekaan dari berbagai organisasi hadir memeriahkan pesta di hari itu hingga malam berikutnya.

Aku hanya tahu bahwa aku sungguh terharu dan bahagia ketika hadir pada saat itu. Nama-nama Saudara ayah aku seperti komandan Serasa & Konstan Lere Anan Timur  sudah akrab  di telinga aku sebelum aku berkunjung. 

Selesai pesta perayaan hari FALINTIL  semua orang mulai pulang masing-masing untuk mempersiapkan diri bagi  acara REFERENDUM. 

Tanggal 22 malam kami dan keluarga bersama dengan Bapak  Zanibal  &  Mama Lidya beserta mama Sabina  dan Papa Paulino juga adik-adik hendak makan bersamaan dengan  sang Komando Yakni Bapak Lere Anan Timor.

Malam itu aku panggil berdiri di depan untuk kasih tahu nama aku dan siapa nama ayah ku.Aku merasa ketakutan & jantungku hampir copot karena aku aku sadar jika aku adalah putri seorang ayah yang berprofesi seorang ABRI. 

Aku ditanya siapa nama kamu dan siapa nama ayah kamu. Aku takut tapi Almarhum mama Lidya bilang jangan takut jawab saja siapa tahu ini saudara ayah kamu.Aku sungguh takut  karena semua anggota gerilya berjenggot dan berambut panjang. Tapi suara hati ku menyadarkan aku untuk menjawab maka aku menjawab nama aku Devinarti  terus nama ayah aku adalah Filipi Seixas.Siapa ayah kamu aku langsung diam karena aku takut tapi aku harus jawab.

Lalu aku ditanya lagi kenal sama Bapak tidak ? Akhirnya aku jawab tidak tidak tapi aku sering dengar dari ayah katanya kakak Alu punya Bapak. 

Lalu aku di ajak duduk lagi tapi rasanya aku mau menangis karena aku pikir kenapa perang ini melibatkan saudara dengan saudara.Saat usai makan aku diajak oleh Bapak Lere untuk temani kakak buiiki untuk masak hingga  aku mendengarkan hasil referendum dan Timor-Timur pun dinyatakan merdeka. Ketika di Atelari nama ku dipanggil saja dengan kode  25 pertama kali oleh Bapak Lere Anan Timur sendiri  dengan  satu arti tersendiri dan aku bangga. 

Maka hari ini aku tak lupa UCAPKAN

SELAMAT HARI  ULANG TAHUN BAGI F-FDTL

(Visited 306 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Devinarti Seixas

Penulis dan Pendiri KPKers Timor Leste, dengan mottonya: "Kebijaksanaan bukan untuk mencari kehidupan melainkan untuk memberi kehidupan dan menghidupkan". Telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan berupa; berita, cerpen, novel, puisi dan artikel ke BN sejak 2021 hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.