Oleh : Aldo Jlm

Mentari menampakkan wajahnya di ufuk timur, tatkala penghuni bumi hiruk pikuk mencari nafkah di celah-celah kehidupan yang sibuk memenuhi kebutuhannya masing-masing. Dua sejoli manusia sedang memadu kasih di bawah pohon nyiur yang melambai-lambai seolah-olah ia turut bersukacita bersama jalinan kasih antara dua insan manusia ini.

Di bawah langit mendung rindu semakin syahdu untuk dirasa. Di saat itu juga aku sadar, rasaku tak mampu bersuara. Suara gemuruh guntur memecah kesunyian di antara kedua insan yang sedang memadu kasih. Kasih yang tak berkesudahan ini memecahkan kesunyian hati dua insan yang sendang dilanda kasmaran. Ketika dua hati dimaksudkan untuk satu sama lain, tidak ada jarak yang terlalu jauh, tidak ada waktu yang terlalu lama dan tidak ada cinta lain yang dapat menghancurkan mereka.

Cinta itu tidak hanya lewat tutur kata. Namun, diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, meskipun rintangan dan halangan menghantuinya, ia tak menghiraukannya. Rintangan itu ada pasang surutnya, ada saat pasang ada pula saat surutnya, tergantung pada gaya gravitasi bumi dan bulan yang menghantuinya. Cinta bukan kata untuk diucapkan. Cinta bukanlah permainan untuk dimainkan. Cinta tidak dimulai pada bulan Maret dan berakhir pada bulan November. Cinta itu kemarin, besok, dan selamanya. Apakah kamu mau menjadi milikku selamanya? Namun, jawaban dari pertanyaan ini hanya bertahan sesaat, kurang lebih hanya bertahan sembilan bulan. Seperti kata Tuhan, bahwa yang kelihatan tidak bertahan lama dan hanya sementara. Namun, yang tak kasat mata akan selalu hidup selamanya. 

Selagi masih memandang langit yang sama, ku rasa semuanya akan baik-baik saja. Jadikan menanti itu sebagai pembuktian cinta sejati. Kita jadikan cerita ini, sebagai fondasi cinta abadi, untuk anak cucu kita nanti. Namun cerita ini hanya tinggal memori kenangan pahit yang tak terlupakan seumur hidup. Karena tak ada anak cucu kita untuk meneruskan cerita cinta ini ke generasi muda berikutnya.  Bagaimana bisa aku melupakan semua tentangmu, kenangan itu tetap ada dan memori itu tetap tersimpan. Menjauh, itu bukan sebuah usaha untuk melupakan, tapi ini sebuah usaha untuk menghilangkan rasa

Tiada yang lebih indah dari dua raga yang saling menjaga. Tak bertemu namun saling menunggu. Tak berpapasan namun saling memantaskan. Cintaku tak sebesar gunung tak setinggi langit dan tak seluas samudera. Cintaku hanya seujung kuku yang kecil dan mungil namun akan selalu tumbuh meskipun dipotong berkali-kali. Itulah cintaku yang telah tumbuh dan bersemi sekian tahun lamanya namun tak pernah pudar ditelan waktu. Sebab hati ini melihat senyummu adalah kebahagiaan untukku. Sedangkan, memilikimu adalah anugerah terindah dalam hidupku. Namun, Tuhan berkehendak lain, dia lebih mencintaimu ketimbang cintaku padamu untuk memilikimu selamanya.

Aku memandang ke atas, menatap wajahmu bagai nebula yang menciptakan ribuan bintang di cakrawala. Tapi Samudra kehidupan ini terlalu luas dijelajahi sendirian. Jadilah nakhkoda dalam bahteraku hingga maut memisahkan kita. Engkau serupa fajar yang hanya bersamamulah kuingin selalu bersandar. Dan Engkau berupa senja yang tak pernah henti membuatku selalu jatuh cinta padamu.

Kasihku, cinta sejati tak datang begitu saja. Banyak proses yang harus dilalui bersamamu, menderita, menangis, dan tertawa bersamamu, dan itu yang aku rasakan dengan kamu. Separuh hatiku telah kau bawa sejak hari itu. Separuh jiwamu telah bersamaku sejak pertama kali kutatap matamu. Satu harapanku, setialah selalu. PR-ku adalah merindukanmu. Lebih sulit dari Matematika. Lebih luas dari Fisika. Dan lebih kerasa dari Biologi. Sulit dijelaskan lewat kata-kata, hanya hati yang menanggung beban ini sendirian hingga ke bukit Kalvari.

Sejauh apa pun aku melangkah, sedalam apa pun aku menyelam, dan selelah apa pun aku bertahan, akan ada selalu namamu di setiap bait doaku. Bukan karena parasmu, aku mengagumimu. Bukan karena sempurna bentukmu, aku menginginkanmu. Aku mencitaimu tulus tanpa syarat. Dan akan kucinta dirimu seutuhnya sampai akhir hayatmu. Aku bisa dengan mudah mengatakan bahwa aku mencintaimu sampai mati, tapi aku benar-benar ingin hidup selamanya dan mencintaimu selamanya.

Langit kosong, semua awan mencarimu, ingin jadi gerimis pertama yang jatuh padamu. Cintamu padaku lembut bagaikan salju, dan pandanganmu padaku indah bagaikan surga. Cinta itu ibarat lingkaran yang tidak ada titik lainnya. Aku harap, kita tetap menjadi lingkaran sampai maut yang memisahkan kita. Cintamu adalah keindahan. Memandangmu selalu tak membuatku jemu. Cintamu adalah nafasku, denganmu aku ingin hidup seribu tahun lagi, karena cintamu membuat hidupku sempurna. 

Sebab Cinta yang tulus tidak hanya melibatkan hasrat, tetapi juga komitmen dan kebijaksanaan. Jangan pernah berhenti mencintaiku, seperti matahari yang selalu menyinari bumi. Kamu adalah matahari di zamanku, angin di langitku, ombak di lautku, dan detak di jantungku. 

Terima kasih untuk cinta dan kasih sayang yang telah kamu berikan, aku hanya bisa membalasnya dengan kesetiaan. Setia menunggu hingga saat yang tepat menyusul ke duniamu yang penuh dengan kebahagiaan bersama sang empunya kehidupan ini.

By Aldo Jlm’22

Edisi, 061122

 
(Visited 94 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Aldo Jlm

Elemen KPKers-Lospalos,Timor Leste, Penulis, Editor & Kontributor Bengkel Narasi sejak 2021 hingga kini telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan ke BN, berupa cerpen, puisi, opini, dan berita, dari negeri Buaya ke negeri Pancasila, dengan motonya 3S-Santai, Serius dan Sukses. Sebagai penulis, pianis dan guru, selalu bergumul dengan literasi dunia keabadian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.