Oleh : H. Tammasse Balla*
Seorang wanita muda tengah duduk santai di dalam bis yang melaju ke tengah kota. Di satu pemberhentian bis, seorang wanita tua yang cerewet dan berisik naik ke dalam bis dan duduk di samping wanita muda tadi. Mulut wanita tua itu tak pernah diam. Segalanya diprotes di dalam bis. Tas-tas bawaannya pun yang berat ditumpuk begitu saja di atas kursi, membuat wanita muda itu harus menggeser duduknya sambil setengah terjepit di antara tas-tas berat dan jendela bis. Wanita muda itu sabar mendapat perlakuan tidak sebagaimana mestinya dari wanita tua itu.
Seorang pemuda yang duduk di bangku sebelah melihat kejadian itu dengan kesal. Pemuda itu tidak sabar melihat kelakuan wanita tua itu. Ia lalu bertanya kepada wanita muda itu, “Mengapa kamu tidak bicara saja, katakan pada wanita tua itu bahwa kamu jadi terganggu…”
Wanita muda itu menjawab sambil tersenyum:
“Aku rasa tidak perlu bersikap kasar dan beradu argumentasi untuk sesuatu yang sepele seperti ini. Perjalanan bersama kita ini terlalu singkat. Saya juga akan turun di halte bis berikutnya di depan sana”.
Jawaban wanita muda tadi sangat pantas ditulis dengan huruf dan tinta emas: “Kita tidak perlu berdebat untuk sesuatu yang sepele. Perjalanan kita bersama amat singkat.”
Alangkah indahnya kalau masing-masing kita bisa menyadari bahwa perjalanan hidup kita di dunia ini sangat singkat. Kita perlu menikmati setiap detik kebersamaan ini. Kita tak perlu membuang waktu membuat perjalanan hidup kita jadi suram dengan macam-macam perdebatan, atau dengan adu argumentasi yang sengit dan tajam. Apalagi hanya debat kusir yang ujung-ujung tak ada hasil. Kalah jadi abu, menang jadi arang, kata peribahasa.
Kalau kita tahu bahwa perjalan hidup ini begitu singkat, maka kita tidak akan mau membuang tenaga dengan terus mengeluh, merasa tidak puas, bersikap mencari-cari kesalahan. Jangan banyak membuang waktu unruk hal yang kurang penting dalam perjalanan singkat ini.
Apakah seseorang sudah melukai bahkan menghancurkan hatimu? Tetaplah tenang, perjalanan hidupmu terlalu singkat.
Apakah seseorang sudah mengkhianati kamu, mengejek-ejek kamu, menipu atau bahkan menghina kamu? Tetaplah tenang, maafkan mereka, karena perjalanan hidup kita amat singkat.
Apa pun masalah yang dibuat oleh orang lain terhadap kamu, mari kita selalu mengingat bahwa perjalanan hidup ini sangat singkat.
Tidak seorang pun yang tahu kapan perjalanan hidupnya akan berakhir. Tidak ada orang yang tahu kapan dia akan tiba di perhentian bis yang berikutnya. Perjalanan hidup kita bersama sangat singkat.
Sahabatku, mari kita saling memberikan kebahagiaan kepada keluarga dan teman-teman kita. Mari kita saling memberi hormat, saling berbuat baik dan saling memaafkan satu dengan yang lain. Mari kita isi hidup ini dengan rasa syukur dan bersukacita selalu.
Kalau saya pernah menyakiti hati kamu, saya mohon dimaafkan. Bila kamu pernah menyakiti hatiku, tanpa perlu minta maaf, saya lebih duluan memaafkanmu.
Karena perjalanan hidup kita amat singkat.
“Life is short, and it is up to you to make it sweet.” – Sarah Louise Delany
*Kaprodi S2 Bahasa Indonesia FIB Unhas
