Oleh: Aldo Jlm

Di tengah hiruk-pikuknya dan lalu-lalang kendaraan serta udara panas kota Dili yang menyengat tubuh, kucoba melangkah kakiku ke kantor Pusat Budaya Indonesia (PBI) untuk menerima sertifikat sebagai penulis online. Sertifikat atau piagam penghargaan ini diserahkan secara langsung oleh pendiri KPKers TL, Bu Devinarti (Kapten Bu Dev), di aula Demak KPKers PBI Dili Timor Leste. 

PBI sebagai Pusat Budaya Indonesia yang memperkenalkan budaya Indonesia pada dunia luar, salah satunya adalah Timor-Leste agar bisa mengenal lebih jauh budaya-budaya Indonesia, dan sebaliknya agar bisa menginkulturasi budaya-budaya yang alirannya sama, supaya dilestarikan pada anak cucu kita agar tidak punah di masa depan.

Aku sendiri sangat bangga menerima sertifikatku di tempat ini. Suatu tempat yang istimewa buat negara kami Timor-Leste yang baru meraih kemerdekaannya untuk mengikuti jejaknya. Mempertahankan budaya kita yang merupakan ciri khas dari suatu negara atau bangsa dimana kita berada.

Timor-Leste bisa juga mengikuti  jejak PBI, agar dapat pula memperkenalkan budaya Timor-Leste di negara-negara tetangga seperti Indonesia, dan negara-negara di ASEAN serta pada dunia umumnya. Budaya itulah yang menunjukkan ciri khas atau identitas suatu bangsa itu sendiri.

Bila di masa-masa yang akan datang, kalau finansial Timor Leste sudah mencukupi bisa mendirikan PBTL (Pusat Budaya Timor Leste) di negara mana saja yang telah ada dubesnya. Agar dunia bisa mengenal lebih jauh karakteristik, ciri khas dan identitas orang Timor Leste sebenarnya.

Dari budaya itulah kita bisa saling mengenal dan membagi satu sama lain budaya-budaya kita, atau bisa juga inkulturasi budaya luar pada budaya kita. Kadang ada budaya identik, yang kita bisa pertahankan, dan ada budaya  yang berbeda dan kita bisa pelajari dan dapat memperkaya budaya kita.

Dari tempat PBI inilah ku pelajari bagaimana cara menulis yang baik dan benar, dari apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan, di lingkungan kita berada. Salah satu motivasi yang membuatku menulis adalah buku “KUNCI SUKSES” menjadi penulis Kreatif dan Profesional karya Pak Jumari Haryadi bahwa, “Selama kita tidak menulis maka kita akan hilang dalam peradaban”. 

Untuk itu aku menghimbau pada kawula muda Timor Leste agar dapat membaca buku ini, agar dapat menulis sesuatu dari apa yang kita lihat, dengar dan rasakan, selama masih hidup di dunia ini. Kalau kita tidak menulis maka orang lain tidak akan tahu, peristiwa ilmu yang telah terlewati. Khususnya pada mereka yang telah mengikuti kursus online menulis ini, agar bisa menulis dari panca indera mereka sendiri. Karena dari hasil tulisan itulah orang dapat mengenal dan mendapat ilmu dari hasil karya penulisan kita. Karena kita menulis bukan untuk diri kita sendiri, tapi untuk orang lain.

Jika kita sudah mengikuti kursus online dan tidak menulis itu sama dengan perumpamaan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus di alkitab bahwa, “ada seorang tuan yang memberi uangnya pada orang-orang dekatnya untuk memperoleh hasil, tapi tidak berusaha dan menguburnya uang itu, maka hasilnya tidak ada, akhirnya tuan itu mengambil uangnya dan memberikan pada orang bekerja keras agar dapat menghasilkan hasil yang lebih banyak”. Jadi singkatnya karunia dan talenta apa saja yang telah kita terima dari Tuhan Yang Maha Kuasa, kita harus memproduksinya agar dapat berbuah lebih banyak dan berguna bagi orang lain.   

Aku sangat rindu ingin temui kalian semua, adik-adikku, dan kawan-kawanku penulis online di KPKers ini agar dapat membagi pengalamanku pada kalian semua, tapi waktu kita yang tidak sejalan untuk bertemu di PBI, tapi suatu saat yang tak terduga pasti kita akan bertemu di PBI tercinta ini. PBI yang membesarkan, mengasuh, membimbing agar kita  jadi penulis yang aktif dan kreatif, di masa kini dan masa-masa yang datang.

By Aldo Jlm

Edisi, 26012023

(Visited 113 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Aldo Jlm

Elemen KPKers-Lospalos,Timor Leste, Penulis, Editor & Kontributor Bengkel Narasi sejak 2021 hingga kini telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan ke BN, berupa cerpen, puisi, opini, dan berita, dari negeri Buaya ke negeri Pancasila, dengan motonya 3S-Santai, Serius dan Sukses. Sebagai penulis, pianis dan guru, selalu bergumul dengan literasi dunia keabadian.

One thought on “Memori Pertamaku di Pusat Budaya Indonesia Dili”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.