Oleh: Hamsah*

Sebenarnya beberapa hari ini saya kehabisan ide mau menulis tentang apa. Maklum kondisi tempat saya tinggal sering hujan dan mengakibatkan cuaca sangat dingin. Dinginnya seakan membuat panca indra menjadi beku, tidak terkecuali pikiran. Kendatipun demikian, tulisan ini tidak bermaksud untuk mengurai tentang cuaca, karena itu sudah ditangani oleh BMKG, dan itu boleh dilihat info updatenya sebelum bepergian.

Ada satu tema yang memantik saya untuk diuraikan dalam kesempatan ini, yaitu tentang “sunyi”. Ide ini muncul ketika saya melihat pementasan salah satu komunitas literasi yang di dalamnya terdapat beberapa anak muda yang berkarya untuk menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan dalam bentuk bait-bait puisi yang penuh makna.

Sepintas saya pun teringat dengan quotes dari sang inspirator bapak Ruslan Ismail Mage (RIM) bahwa, “Ketika hijrah dari karakter ikan lele pergi mencari air jernih, bersiaplah hidupnya berselimut sepi. Sesungguhnya kehidupan norma adalah sunyi”.

Bagi sebagian orang, sunyi dianggap sebagai suatu ketiadaan bunyi, sehingga sunyi identik dengan hening dan sepi. Karena itu, suasana sunyi sangat diperlukan dalam hidup kita. Dalam agama sering diibaratkan sebagai uzlah yaitu proses pengasingan diri demi memusatkan perhatian dalam beribadah. Dalam filsafat, ia seperti kontemplasi untuk merenungi diri, merenung untuk mendekati kebenaran yang mutlak.

Namun bagi penulis, sunyi adalah suatu kebisingan yang ribut, karena bunyi tidak lagi berjarak dengan kita. Ia adalah bunyi yang tak berbunyi yang berasal dari dalam diri. Ia akan nampak seperti ingatan, penyesalan, harapan, dan perenungan-perenungan lainnya. Karena itu, setiap orang membutuhkan sunyi untuk mendengarkan bunyi yang sulit didengar dalam kebisingan. Termasuk mendengarkan suara napas sendiri.

Banyak orang menggunakan sunyi dalam menemukan ide, memahami diri, merenungi diri, sampai pada memahami batas-batas hidup. Belajar dari para filsuf yang senantiasa menenggelamkan diri dalam kesendirian dan menghindari keramaian untuk mendapatkan ide-ide yang jernih.

Dengan sunyi kita akan paham dengan apa yang paling dekat dengan diri kita. Meminjam pandangan Imam Al Ghazali sebagai perenungan jiwa, bahwa yang paling dekat dengan diri manusia adalah kematian. Sementara kematian itu sendiri adalah sunyi yang sesungguhnya.

*Penulis adalah akademisi Universitas Negeri Manado

(Visited 113 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Hamsah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.