Oleh: Hamsah*
Sebenarnya tidak ada yang menarik dan istimewa, termasuk tulisan ini juga tidak menarik untuk dibaca. Ini hanyalah letupan pikiran yang mesti saya tulis agar mengurangi beban ingatan, meskipun sebenarnya ingatan itu tidaklah memiliki berat massa. Jadi boleh-boleh saja jika itu ditumpuk dalam pikiran.
Saya sendiri pun tidak ingat tentang apa di tanggal 15 April 2023, namun berkat satu teman memberikan doa terbaik di tanggal tersebut maka saya pun tersadar jika ini adalah hari lahir saya.
Yah saya pun aamiinkan semua doanya, dan saya berharap betul itu terjadi pada diri saya ke depan. Sebuah kesyukuran tahun ini, hari lahir bertepatan pada akhir-akhir bulan Ramadan.
Semoga saja keberkahan bulan Ramadan setetes saja mengalir pada sisa-sisa umur ini.
Momentum hari lahir bukanlah ulang tahun, karena sejatinya waktu tidak pernah berulang tetapi ia akan berlanjut secara terus menerus. Begitupun umur, ia tidak ada istilah kembali muda akan tetapi ia akan berjalan terus ke usia tua. Yah syukur-syukur jika bisa sampai tua, punya anak dan cucu.
Maaf lupa, yang utama harus punya istri dulu.
Lantas bagaimana harapan dengan momentum hari lahir ini? Sebenarnya ini bukan pertanyaan dari seseorang tetapi pertanyaan yang saya buat sendiri untuk saya jawab sendiri. Jadi pasti tidak ada salahnya. Hehe.
Jawabannya, harapan tentu tidak banyak, intinya bisa menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Untung saja itu jawaban saya sendiri, jika itu disampaikan oleh orang lain pasti saya akan komentari jika harapan itu terlalu abstrak dan tidak terukur.
Mengapa saya katakan tidak terukur karena kata “lebih baik” ini dia akan terus mereproduksi “lebih baik” yang tidak ada habisnya. Maklum manusia tidak mudah untuk puas. Jadi wajar segala pencapaian tidak ada yang terukur karena memang saya selalu membuat harapan yang sulit diukur.
Jadi yang lain silakan membuat harapan yang konkrit dan terukur, misal mau punya istri dan anak berapa, punya rumah dan kendaraan berapa dan lain-lain. Intinya, dalam bulan kelahiran ini sebisa mungkin menjadi pemantik bagi penulis untuk terus melakukan introspeksi diri, dan berusaha mengimplementasikan konsep cinta atau mahabbah dalam sisa umur ini.
*Penulis adalah akademisi Universitas Negeri Manado
