Oleh : Ruslan Ismail Mage

Pada tahun 1951, seorang arsitek bernama Mies van der Rohe menyelesaikan sebuah bangunan rumah di Plano Illinois yang merupakan lambang cita-cita modernisnya. Dengan struktur baja yang seluruhnya dikelilingi oleh dinding kaca, bangunan ini dengan sempurna menghubungkan pengguna dengan latar alamnya yang indah, dan telah dihormati sebagai mahakarya. Namun kisah yang kurang dikenal tentang karya tersebut adalah bagaimana pemiliknya Edith Farnsworth menolak dan berusaha menuntut arsiteknya.

Menurut laporan archdaily.com, kisah ini muncul di House Beautiful edisi April 1953 yang menggambarkan sang pemilik rumah kecewa sudah menghabiskan lebih dari $70.000 untuk membangun rumah satu kamar. Perselisihan pun berlanjut antara arsitek dan pemilik rumah sampai di ruang sidang. Mies sebagai arsitek menggugat Farnsworth pemilik rumah untuk biaya konstruksi sebesar $3.673,09, selain biaya sebesar $15.000 dan $12.000 untuk jasa arsitek dan pengawasan. Farnsworth menggugat balik atas dasar penipuan, dan mengklaim bahwa arsitek tersebut telah salah menggambarkan biaya rumah kepadanya, serta kemampuannya sebagai seorang arsitek, dan menuntut mengembalikan $ 33.872,10 jumlah yang sudah dibayarkan.

Namun dibalik tuntut menuntut yang menghebohkan di persidangan itu, muncul fakta lain yang disampaikan sejarawan Franz Schulze. Dalam penelitiannya yang mendalam tentang kasus ini, ditemukan data sebuah memoar pemilik rumah Farnsworth. Sebuah pernyataan di mana dia menggambarkan pertemuan dengan sang arsitek Mies untuk pertama kalinya di pesta makan malam. Efeknya luar biasa, di sini Farnsworth dengan canggung berperan sebagai klien wanita lajang yang terengah-engah dan mungkin tergila-gila pada arsitek hebat itu. Sesungguhnya Farnsworth tidak secara terbuka mencela rumah tersebut karena memiliki kekurangan yang sah, tetapi karena dia patah hati tidak mendapatkan arsitek di sampingnya, “romansa yang gagal”. Jadi ini bukan persoalan kualitas bangunan rumah kaca itu memenuhi standar atau tidak, tetapi ada kepentingan lain di dalamnya.

Rumah Kaca dan JIS

Cerita mengenai kasus rumah kaca tahun 1951 di atas serupa tetapi tidak sama dengan JIS (Jakarta International Stadium). Serupa karena sama-sama sebuah mahakarya yang kemudian dipersoalkan eksistensinya di ruang publik. Sama-sama bukan persoalan kualitas bangunan, tetapi kepentingan yang mengikutinya. Tidak samanya karena rumah kaca kepentingan romansa di dalamnya, sedangkan JIS kepentingan politik yang menyerangnya.

Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba ada Jaka Sembung bawa golok hendak potong rumput (tidak nyambung kompetensinya dengan rumput). Tiga menteri Jokowi, Menteri BUMN yang rangkap jabatan Ketua Umum PSSI Erick Thohir, Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo, dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, tiba-tiba sepakat menjadi pengamat rumput yang menilai layak tidaknya rumput JIS dipakai pagelaran Piala Dunia U-17 setelah mendengar keterangan dari pebisnis rumput golf.

Persoalan sederhana digoreng. Sederhana untuk menilai apakah rumput JIS memenuhi standar FIFA atau tidak, silakan datangkan FIFA sebagai lembaga paling tinggi yang berkompeten menilai. Begitu aja kok repot, kata mantan presiden keempat almarhum Gusdur. Namun karena ingin digoreng di panci elektabilitas capres, didatangkanlah pebisnis rumput golf untuk menggantikan posisi FIFA menilai rumput JIS tidak memenuhi standar FIFA. Publik pun bertanya, apakah ada tujuan lain selain mendegradasi Anies gagal membangun JIS berkualitas internasional.

Mereka tidak menyadari kalau golok Jaka Sembung terlalu tumpul untuk memangkas nama besar Anies di JIS. Anis dan JIS bagaikan dua sisi mata uang tidak terpisahkan di hati rakyat. Anies dan JIS sudah terpahat di hati seluruh rakyat. Biar JIS dirobohkan lalu dibangun kembali, tetap Anies yang diingat sebagai penggagas. Ini yang disebut “tidak ada ekor di kepala”, dan Anies dilahirkan menjadi kepala. Hal itu disaksikan ribuan pasang mata ketika Anies meresmikan pemakaian JIS yang kemudian diserahkan kepada rakyat Indonesia sebagai sebuah mahakarya anak bangsa.

Mengecewakan yang Pesimis

Dalam sambutannya di Acara Grand Launching Jakarta International Stadium (JIS) yang diselenggarakan pada Minggu, 24 Juli 2022 mulai pukul 16.30 WIB, Anies menyampaikan pidato singkatnya yang menggetarkan jiwa kawan terlebih pembencinya. Berikut sambutannya yang dihimpun dari berbagai sumber.

Alhamdulillah, pada malam hari ini kita sama-sama hadir menuntaskan sebuah fase perjuangan, di tempat ini telah lama ditanamkan, telah lama dijanjikan, dan pada malam hari ini janji itu ditunaikan. Saat ini bukan saja kita menyaksikan sebuah bangunan mahakarya, tapi tempat ini juga membuktikan bahwa mimpi itu bisa dicapai lewat kerja keras, lewat kerja tuntas. Mimpi yang oleh sebagian orang ditanggapi dengan pesimis. Mohon maaf, terpaksa kami sampaikan bahwa kami telah mengecewakan mereka yang pesimis.

Hari ini mahakarya telah berdiri di Jakarta, dipersembahkan untuk the jak mania, untuk warga Jakarta, dan untuk Indonesia. Mahakarya ini adalah 100 persen dibangun oleh anak-anak bangsa dari keringat orang-orang Indonesia, yang dilahirkan dari rahim-rahim ibu Indonesia. Perjuangan ini diawali dengan modal pertama dukungan dari the jak mania. Dari mulai direncanakan, saat janji diungkapkan lima tahun lalu membangun stadion ini, dan the jak mania bersedia mempercayai janji itu, bersedia mengawal janji itu. Hari ini the jak mania memenuhi stadion yang dijanjikan itu.

Bangunan megah ini adalah kerja kolosal, bukan kerja satu orang, tapi kerja ribuan orang siang dan malam menuntaskan sebuah proyek mahakarya. Karena itu, izinkan saya menyampaikan terima kasih kepada para pekerja yang tidak pernah tampak di layar mana pun, tetapi keringatnya yang membuat stadion ini bisa berdiri. Kepada seluruh jajaran Jakpro yang mengawal dari mulai persiapan rancangan sampai penuntasannya, begitu juga kepada jajaran Pemprov DKI, kepada seluruh BUMD, kepada dukungan pemerintah pusat khususnya kepada presiden, yang memungkinkan proyek ini berjalan hingga tuntas.

Anak-anak Indonesia yang bekerja dalam proses ini tidak terlihat wajahnya, tetapi yakinlah mereka memiliki jejak di bangunan luar biasa ini. Mereka kelak akan bercerita kepada anak cucunya bahwa kami yang telah membangun stadion megah ini yang membawa kebanggaan bagi Jakarta dan Indonesia.

Pada acara grand launching ini berkumpul para tamu kehormatan yang datang dari Jakarta maupun para kepala daerah dari berbagai wilayah seluruh Indonesia. Ada gubernur, bupati, walikota. Hal ini menandakan bahwa Jakarta adalah rumah bagi semua, dan Jakarta International Stadium bisa juga menjadi rumah bagi semua, dan masyarakat Betawi menjadi tuan rumah yang mempersatukan semuanya.

Terakhir sebagai penutup, hari ini saya menyerahkan Jakarta International Stadium kepada the jak mania, kepada warga Jakarta, dan kepada Indonesia. Jagalah tempat ini sebaik-sebaiknya, ini rumah kita tempat mempersatukan kita. Dalam kesempatan ini, izinkan saya menyampaikan bahwa sekarang adalah bulan-bulan terakhir penuntasan masa tugas lima tahun di Jakarta, karena tiga bulan lagi akan menuntaskan tugas di Jakarta sebagai gubernur. Setelah itu saya akan datang di sini bukan duduk sebagai gubernur lagi, tetapi akan duduk sebagai the jak mania. Jaga stadion kita ini, jaga kebanggaan tempat ini. Tunjukkan bahwa bukan hanya stadionnya megah tetapi suporternya adalah suporter teladan bagi semua. Terima kasih untuk semua.

Luar biasa dahsyat sambutan Anies di atas saat Grand Launching Jakarta International Stadium (JIS). Setiap diksi dan narasinya mengandung energi penggerak. Setiap katanya bermakna dan kalimatnya bertujuan, terus mengalir bagaikan sumber mata air yang tidak pernah kering tanpa teks. Itulah ciri pemimpin sejati, dalam kepalanya tidak ada kepala orang lain. Jadi teringat ungkapan bijak Soekarno, “Bunga mawar tidak pernah mempropagandakan harumnya, namun keharumannya dengan sendirinya menyebar melalui sekitarnya.”

*Inspirator dan penggerak, penulis buku-buku motivasi dan politik

(Visited 42 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.