Oleh: Gugun Gunardi*

Suatu ketika, saya melihat video di chanel Kang Dedi Mulyadi (KDM). Video yang diposting adalah dialog KDM dengan salah seorang penjual siomay. Penjual siomay itu mungkin menarik perhatian KDM karena postur tubuhnya yang agak aneh, yaitu punggungnya yang tidak normal, bungkuk, dan seperti bungkuk bawaan sejak kecil, dan bukan karena akibat mendorong roda siomay.

Dalam video itu terjadi dialog antara KDM dengan tukang siomay.
“Ari Amang bongkok kieu geus ti bubudak atawa lantaran ngadodorong roda siomay” ‘Amang bungkuk begini dari kecil atau akibat mendorong roda siomay’.
“Ohw, lain ti bubudak, tapi balukar murag tina tangkal nangka, kira-kira 6 meteran, waktu kelas 6 SD”.
‘Ohw, bukan dari sejak kecil, tetapi akibat terjatuh dari pohon nangka kira-kira 6 meteran, waktu kelas 6 SD’.

Berikutnya, tukang siomay menjelaskan bahwa akibat dari jatuh tersebut, selama dua bulan terbaring di tempat tidur, tidak bisa duduk, apalagi berdiri. Dia hanya mendapatkan pengobatan alakadarnya dengan dibalur menggunakan beras kencur. Selama dua bulan itu.

Setelah 2 bulan, dia sembuh, tetapi terjadi perubahan pada tubuhnya. Penggungnya menjadi bungkuk, dan tidak sembuh lagi. Hingga akhirnya terjadi perubahan struktur tubuhnya menjadi bungkuk hingga tua. Tukang siomay tersebut saat wawancara dengan KDM sudah berusia 70 tahun.

Menonton video di chanel KDM tersebut, ingatanku set back ke tahun 1964, ketika penulis duduk di Sekolah Dasar (SD) kelas 2. Penulis pun pernah mengalami kecelakaan yang serupa, yaitu jatuh dari pohon kelapa yang tingginya lebih kurang 10 meter.

Kejadiannya, saat itu penulis bermain di kebun yang empunya rumah persewaan bersama cucunya bernama Dang A (initial saya singkat). Saat itu di kebun tempat kami bermain-bermain berdua, terlihat betapa banyaknya burung ‘Manyar’ yang bersarang di pohon kelapa yang ada di kebun itu (satu-satunya pohon kelapa).

Penulis tertarik untuk mengambil anak burung manyar, yang ada di dalam sarang di pohon kelapa tersebut. Untuk dipelihara. Penulis meminta ijin kepada Dang A untuk memanjat pohon kelapa tersebut, untuk mengambil salah satu sarang manyar yang berisi anaknya.

Dengan bersusah payah penulis memanjat pohon kelapa tersebut. Hingga mencapai pelepah daun kelapa terdekat. Di sinilah musibah terjadi. Tanpa sadar penulis berpegangan pada pelepah yang terdekat dan sudah kering. Ketika penulis akan mengangkat tubuh untuk meraih pelepah berikutnya yang masih segar, pelepah yang penulis pegang terlepas, sehingga penulis terpelanting jatuh.

Tak ingat apa-apa… sepertinya pingsan selama beberapa menit… setelah sadar, di samping penulis ada yang jongkok. Ngga tahu siapa orang itu, sambil memegang perut penulis…
‘Masih hirup, masih hirup…’, katanya.
“Masih hidup, masih hidup …”

Penulis berusaha bangun dan berjalan sempoyongan… mereka melarang penulis untuk berjalan… kelihatannya mereka mau membopong penulis, tapi penulis menolak dan terus berjalan sempoyongan hingga sampai di rumah.

Di pintu rumah, Bapakku (alm) sudah berdiri sambil memandang penulis penuh kekhawatiran. Rupa-rupanya Beliau sudah tahu musibah yang menimpa penulis dari Dang A. Tapi tetap Bapaku bertanya…
‘Kunaooonnn…?’
“Kenapa….?”
‘Murag tina tangkal kalapa…’
“Jatuh dari pohon kelapa…”
‘Sok ka jamban…’
“Pergilah ke kamar mandi…”

Sambil masih sempoyongan, penulis menuruti perintah Bapakku… Sesampai di kamar mandi Bapaku mengisi bak mandi, dengan menimba air dari sumur di situ.
Penulis disuruh duduk, menunggu bak mandi penuh.

Kurang lebih 15 menit, barulah bak penampungan air penuh. Kemudian penulis disuruh mandi tanpa membuka pakaian. Diguyur… menghabiskan satu bak penuh, yang isinya kurang lebih 2 kubik air. Selesai diguyur, penulis dibawa ke rumah, mengeringkan badan dengan handuk, lalu berganti pakaian yang bersih, diberi minum air putih satu gelas, kemudian disuruh tidur sambil ditunggui oleh Bapakku.

Kurang lebih satu jam kemudian, penulis dibangunkan dan ditanya bagian badan mana yang terasa sakit. Penulis jawab tidak ada yang sakit.

Setelah itu, penulis malah disuruh main lagi, tapi penulis tidak segera beranjak dari rumah karena banyak orang yang datang ke rumah. Mereka umumnya kaget kok ada orang jatuh dari pohon kelapa tapi ngga kenapa-napa.

Pada umumnya mereka heran, kok jatuh dari pohon kelapa segera sembuh, dan ngga dibawa ke dokter.

Setelah kejadian itu, penulis merasakan ada ketegangan dan ngilu otot di pinggang selama sebulan dan kalau berjalan harus sedikit membungkuk karena rasa ngilu. Sembuhnya pun tanpa disengaja, tanpa melalui pengobatan dokter atau terapi lainnya melalui aktivitas bermain penulis dengan teman-teman.

Penulis bermain permainan anak ‘gampar’ namanya, lalu penulis kalah dan mendapat hukuman harus menggendong lawan main, tanpa sengaja lawan main penulis melompat ke atas punggung dekat pundak penulis. Penulis tidak bisa menahan beban badan dia, lalu terbungkuk dan saat itu terasa ada suara ‘gruuuuukkkkk’… penulis berteriak ‘aaawww’… suara itu seperti di pinggang penulis. Sejak itu, pinggang terasa ringan dan berjalan tidak harus agak membungkuk lagi.

Penulis sembuh dari musibah jatuh dari pohon kelapa. Sampai saat ini, teman-teman yang masih ada (hidup), dan tahu kejadian itu, masih penasaran dan sering bertanya bagaimana ajaibnya Almarhum Bapakku saat itu mengobati penulis tanpa mendapatkan perawatan dari dokter.

Subhanalloh. Allohagfirli wali wali daya warhamhuma kama robayani sogiro.
Semoga Almarhum menikmati tempat terindah di surga Allah.
Aamiin Yaa Rabbal Alammin.

*Penulis: Dosen Tetap Universitas Al Ghifari Bandung.

(Visited 76 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.