Oleh: Devinarti Seixas

Hari itu masih terlalu pagi.Saat terbangun dari tidur semalaman karena rasa capek berlebihan. Tiba – tiba mataku tertujuh pada layak kaca HP aku. Ah ada notifikasi chat masuk bahwa aku Mitra anda ingin bekerja sama dengan anda ! Hmmm maaf siapa ya, aku langsung membalas dengan santai ketika terbangun dari tidur. Ini aku seorang staf Bank Rakyat Indonesia di Dili Timor-Leste jawabnya. Oh ya maaf bisa tahu nama anda jawab aku ! Oh tentu kata pemilik nama itu,aku Subroto seorang staf BRI (Bank Rakyat Indonesia).

Maaf tujuan chat ke aku karena apa ya ? Tanya aku. Begini aku mau kita ada kerja sama tapi sebelum kita lanjutkan rencana kerja sama aku ingin kita meeting terlebih dahulu kata Pak Subroto. Okey aku setujuh jawab aku santai meskipun baru pertama kali kami chat. Ia aku tunggu anda sekitar jam 10 jika bisa kata mitra kerja yang sedang menawarkan kerjasama. Baik Pak jawab aku.

Tak tunggu lama aku langsung bergegas untuk mandi hingga berdandan lalu sarapan dan berangkat meujuh kantor. Tak sampai beberapa jam aku tiba di kantor BRI (Bank Rakyat Indonesia).

Hendak melangkah masuk ke kantor mitra kerjaku,tiba-tiba pandangan aku beralih ke jendela BRI (Bank Rakyat Indonesia). Feeling aku tidak enak,aku merasakan adanya rasa takut amat dalam.

Saat pandangan aku tertujuh ke jendela BRI ( Bank Rakyat Indonesia). Aku melihat ada seorang pria yang sedang menatap aku dari kaca mobil berwarna putih dengan serius. Namun aku terus masuk ke kantor hingga bertemu dengan mitra kerja yang mengundang aku untuk meeting.Seusai bertemu dengan mitra kerja dan selesai meeting sekitar jam 2 aku hendak pulang menujuh kantor karena masih jam kerja. Pria yang tadi aku tangkap bayangan lewat jendela BRI ternyata masih stop di garasi dengan pandangan yang sama.

Aku tak peduli hingga aku meninggalkan BRI ( Bank Rakyat Indonesia). Tiba-tiba perasaan takut kembali menguasai’aku. Ah siapa pria itu kok padanannya aneh bangat seperti seorang Intelegen tanya aku dalam hati. Hanya beberapa menit aku pun tiba di kantor aku. Terasa capek dan wajah aku terlihat pucat karena teringat bayangan paras tubuh pria di depan kantor BRI (Bank Rakyat Indonesia). Ketika aku melangkah masuk ke kantor, aku langsung melanjutkan pekerjaan aku. Saat menjelang jam 4 aku ingin berjalan ke tepian pantai letak kantorku. Saat hendak membuka pintu ku langsung terkejut karena paras tubuh pria yang tadi aku lihat di dari balik kaca di BRI tiba-tiba hadir lagi di tepian pantai. Akhirnya aku tidak lanjutkan lagi langkahku dan balik ke arah ruangan aku. Hmmm siapa gerangan pria itu ? Dari mana dia tahu kantor aku ? Rasa bingung mendominasi pikiran aku.

Duduk tak lama ada staf aku Jefa menjauh ke arah aku sambil berbisik Bu wajah Ibu kelihatan pucat bangat apakah ada masalah ? Tanya Jefa perlahan. Oh tidak Jefa jawab aku singkat.

Aku kembali menatap ke jendela kantor saat Jefa balik ke ruangannya ternyata Pria itu dengan mobil berwarna putih sedang berhenti di depan kantor dan menatap aku di balik kaca mobil berwarna putih itu.

Tak lama aku langsung beranjak menuju jendela dan menarik kain gorden agar pria itu bisa berlalu.

Waktu terus berjalan akhirnya aku mengira apa yang aku rasakan serta lihat hanya kebetulan bukan sengaja. Suatu hari semua star libur,aku sendiri pergi menujuh kantor untuk merapikan dokumen aku. Aku tiba di kantor sekita jam 11 lewat. Aku serius mengerjakan pekerjaan aku.Tiba -tiba sekitar jam 14 : 00 aku rilex sedikit karena capek. Telinga aku mendengar ada suara orang sedang mengetuk pintu. Dengan gembira aku mengira ia dalah salah satu staf aku yang sempat chat dengan aku dan bertanya akan posisi aku yakni Livia. Aku pun beranjak ke arah pintu dan membuka pintu tersebut, ternyata yang muncul bukan Livia stafku tapi pria tersebut. Ah maaf siapa anda ? Tanya aku padanya. Bisakah aku masuk jawab pria itu. Okey silahkan jawab aku. Ketika aku persilakan pria itu masuk ke kantor belum sempat mempersilahkan duduk ia langsung duduk dan memperkenalkan namanya. Aku Boy kata pria itu. Aku Rosy jawab aku sambil mengucap thanks padanya.

Maaf minggu ini semua staf aku libur jadi aku sedang sendirian mengerjakan tugas yang tertunda ujar aku pada Boy. Ia aku tahu makanya aku berkunjung.

Kenapa anda berkata demikian jawab aku dengan rasa agak takut. Aku lalu duduk sambil diam menatap ke arahnya. Rosy wanita berbakat yang lahir pada tanggal 25 April bertepatan dengan Revolusi bunga di Portugalkan !

Maaf kamu siapa Boy ? Dari mana kamu mengenal aku, dan menghafal semua data pribadiku ujar aku agar marah.

Rosy kamu memiliki sejarah tersendiri dalam kehidupan begitu juga aku, tapi jujur kamu wanita luar biasa Rosy kata Boy sambil berjabah tangan dengan Rosy.

Hmmm jangan bercanda Boy siapa kamu please aku harus jujur pada mu Boy karena kehadiranmu hari ini tidak bisa membuat aku merahasiakan lagi sesuatu darimu.

Ah ada baiknya kamu lebih dulu jujur agar aku bisa membiasakan diri demi mengenal kamu seutuhnya ujar Boy.

Aku marah, wajah aku nampak pucat dan berpikir siapa Boy ? Dari mana ia mengenal aku bahkan data pribadi aku dan kedua orang tuaku. Apakah dia seorang pencuri atau intelegen negara kata aku dalam hati.

Boy langsung mendekat ke aku dan memegang erat tangan aku. Rosy aku tahu apa yang ada di pikiran kamu Ros …kamu jangan mengira jika aku adalah pencuri atau perampok bahkan Intelegen ujar Boy sambil menangis. Boy begitu marah akhirnya langsung memukul tembok hingga tangan nya berdarah.

Boy apakah kamu hantu ? Kenapa kamu begitu marah ketika aku berpikir demikian ke kamu Boy ! Kamu itu siapa sebenarnya sampai menghafal semua pikiran aku jika kamu bukan hantu.

Tanpa berkata apa-apa Boy langsung memeluk erat tubuhku sambil berkata aku merindukanmu selama bertahun -tahun Rosy aku tahu kamu sedang berpikir negatif ke aku Rosy tapi aku tidak salah satu di antara tiga point yang ada di pikiran kamu kata Boy.

Terus kamu siapa ? Boy tetap saja memeluk erat diriku dan menangis’ hingga aku pun turut menangis. Berarti sejak hari pertama feeling aku salah, jika feeling aku sala aku butuh mengerti dan mengetahui yang sebenarnya tentang Boy.

Ok Boy maaf jika aku salah. Boy akhirnya berkata peganglah tangankku dan ikutlah aku naik ke mobil itu Rosy agar kamu bisa mengenal aku seutuhnya seperti aku berjuang untuk mengenal kamu seutuhnya ujar Boy.

Ok baik Boy aku ambil tas dulu. Hari itu Bot membawa aku dengan mobil berwarna putih yang aku lihat dari bayangan di balik jendela BRI ( Bank Rakyat Indonesia) Dili.

Sesampai di pantai Boy masih berkata,Rosy kamu wanita luar biasa Ros ujar Boy sambil memegang erat tangan Rosy dan berjalan di tepian pantai hingga mengajak Rosy untuk berhenti sejenak sambil berkata Rosy di dunia ini orang -orang sering menjadikan cinta sebagai kambing hitam ketika mereka mulai saling memilih namun pada akhirnya banyak alasan menjadi benturan orang tak lagi yakin akan cinta ujar Boy.

Ya benar Jawab aku. Hanya aku tidak pernah merasakan apakah cinta itu akan abadi selamanya atau hanya bersifat semu karena aku belum pernah merasa jatuh cinta Boy jawab aku pada kata -kata Boy.

Lihatlah ke sana Rosy bahwa manusia hanya bisa memperkirakan batasan daratan di ujung lautan tapi dengan pandangan itu aku percaya bahwa cinta memang abstrak tapi bisa di buktikan lewat karakter buktinya aku merindukan seseorang selama bertahun – tahun sejak terjadi kecelakaan itu waktu aku masih berusia lima tahun namun Tuhan masih bisa mempertemukan aku dengan dia yang aku rindukan.

Stop Boy apa maksudnya kamu berkata demikian ? Tanya aku pada Boy.

Rosy dua puluh tahun lalu kala itu aku,kamu dan ada seorang lagi yang terlibat dalam kecelakaan maut ketika kedua orang tua kita berjuang menyelamatkan jumlah nilai mata uang dari BRI ( Bank Rakyat Indonesia) dalam jumlah yang besar ketika peristiwa pada tahun 1999.

Orang yang kamu maksud itu siapa Boy ? Tanya aku penuh rasa penasaran.

Oh ya apakah kamu yakin cinta itu bisa jadi kenyataan coba jawab.

Ia Boy masih terlintas di pikiranku bahwa waktu sebelum terjadi kecelakaan yang menimpa diriku juga adikku dengan seorang om dan tante bersama seorang putra dalan mobil yang kami tumpangi aku sangat menyukai sosok seorang teman kecil yang masih terbayang hingga detik ini sampai aku berjanji tak ingin mengenal dunia jatuh cinta hingga usiaku kini telah menjelang dua puluh lima tahun namun aku yakin jika dia adalah objek rasa dan pemikiran aku selama ini maka Tuhan pasti akan mempertemukan dia dengan aku. Boy dalam peristiwa kecelakaan itu aku kehilangan kedua orang tuaku juga adikku menghilang entah kemana. Orang tua dari seorang teman kecil yang ada dalam mobil itupun meninggal dalam kecelakaan maut tersebut.Kata dokter yang memelihara aku hanya kami bertiga yang selamat sedangkan kedua orang tua kami meninggal semua.

Boy yang paling menyakitkan adalah saat kecelakaan itu terjadi teman cowok seusia aku itu sedang meminta jam tangan aku dan aku sempat memberikan jam tangan itu ke tangannya dan ia pas memakainya mobil yang kami tumpangi pun mengalami kecelakaan. Sering aku berpikir andai waktu bisa di putar ulang aku ingin balik ke waktu yang sudah berlalu yakni 20 tahun lamanya. Sempat saling menatap tapi belum sempat bermain bersama hingga kecelakaan maut itu terjadi Boy kata aku sambil menangis .

Andai Tuhan menjawab doa -doa kamu dan mengahdirkan sosok teman kecil kamu itu apakah kamu yakin jika cinta itu nyata ? Tanya Boy pada aku.

Aku pasti wanita paling bahagia Boy jika itu terjadi sambil Boy berlari ke arah Boy.

Tanpa berkata Boy langsung memeluk erat tubuh aku ( Rosy ) dan mengajak aku untuk mengambil sesuatu di kanton jaket yang di pakai Boy.

Aku akhirnya memberanikan diri dan mengambilnya. Saat aku mencoba melepaskan pelukan Boy untuk melihat apa yang tengah ambil dari kanton Boy aku langsung menangis dan memeluk erat tubuh Boy karena takut kehilangan lagi saat benda yang aku lihat ternyata jam tangan yang dulu aku pasang ke tangan sosok teman kecil saat terjadi kecelakaan maut yang menimpah kami kala itu.

Seusai aku mengenal Boy akhirnya Boy mempertemukan aku dengan adik aku karena saat kecelakaan pihak rumah sakit mengirah adik aku adalah adiknya Boy.

Sejak hari itu kami hidup di dalam pengawasan dari pihak BRI ( Bank Rakyat Indonesia) atas jasa kedua orang tua kami yang sempat menyelamatkan Jumlah uang dari BRI (Bank Rakyat Indonesia).

Hari itu kami merasa sangat bahagia setelah kami saling mencari dan saling merindukan selama 20 tahun lalu. Terima kasih kepada pihak BRI. Akhirnya aku dan Boy pun menjalin hubungan dan kami mulai bersama seperti kerinduan sebelum kecelakaan maut yang merenggut nyawa orang tua kami

(Visited 39 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.