Kala hati dibelasah gelebah
Tak ada ruang untuk berkesah
Maka mari membandarkan cita
Pada doa yang memanjat di kala senja
Menyusur sulur cahaya temaram

Dari jauh kurambatkan hajat
Memalar rahmat pada Ia yang punya Iradat
Berharap terpilin jejaring rasa
Memiuh masa dalam renjana
Menautkan batin yang diperam rindu dendam

Ooo semilir angin di selasar riak
Tenang-tenanglah haru meribut
Di tubir lailatul bara’ah, kumohon magfirah
Berharap terhalau selaksa karut
Menaja hikayat cerlang cemerlang

Ooo jiwa-jiwa yang resah
Nan tak lekang dirajam cabaran
Bersimpuhlah pada penguasa lailah al-qismah
Mendaduk pertanda denai Sang Teladan
Menyusur titian yang disinari siraajan muniiran

Parepare, 13 Februari 2025

(Visited 30 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Kasman McTutu

ASN yang mencintai puisi, hujan dinihari, dan embun pagi. Menerbitkan kumpulan cerpen Mata Itu Aku Kenal (LeutikaPrio, Januari 2012), Kumpulan artikel Reinventing Tjokro (Ellunar Publisher, Oktober 2020), dan kumpulan cerpen Adikku Daeng Serang (Pakalawaki, Maret 2021)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.