Oleh: Kharisma Andika*

Libur tiga hari tanggal 11 sampai 13 Mei kemarin, saya memanfaatkan waktu pulang ke Jakarta menemui orang tua. Seperti biasanya, bapak selalu mengajak berdiskusi tentang kehidupan kampus yang kujalani, sambil sesekali meminta pendapatku tentang kepemimpinan.

Entah kenapa satu bulan terakhir saya tertarik mengamati organisasi kampus, tertarik mempelajari kepemimpinan, terlebih pernah mendengar seorang bijak menasehati, “Menjadi mahasiswa tidak cukup hanya belajar disiplin ilmu yang digelutinya, tapi juga harus aktif organisasi kampus untuk memahami nilai-nilai kepemimpinan”.

Kalimat inilah yang sering datang menyapa pikiranku, bagaimana belajar sambil berorganisasi. Waktu libur tiga hari kemarin itulah saya memanfaatkan waktu bertanya ke bapak sebagai penulis buku-buku motivasi dan kepemimpinan. Apa ciri-ciri kepemimpinan yang baik dan bagaimana cara mempelajarinya?

Bapak kemudian menjawab singkat, “Belajarlah kepada Kang Dedi Mulyadi (KDM) Gubernur Jawa Barat”. Kalau ingin menjadi orang besar di catat sejarah, ada beberapa hal yang engkau harus pelajari dari kang Dedi. Beliau adalah guru kepemimpinan, guru kemanusiaan, guru mengelola anggaran, guru berbagi, guru memuliakan orang tua dan guru.

Pertama, belajarlah menjadi pemimpin amanah. Inilah yang disebut pemimpin dari rakyat oleh rakyat untuk kepentingan rakyat, selalu dikerumuni rakyatnya dimana pun berada walau sekedar hanya berfoto dengannya. Ia dirindukan rakyat dari segala lapisan, pelukan hangatnya melukis harapan di dada rakyatnya. Kehadirannya laksana air putih bening mengobati rasa haus rakyat yang selama ini diabaikan pemimpinnya.

Kedua, belajarlah bagaimana KDM memeluk kemanusiaan tanpa syarat. Sesungguhnya itulah inti dari nilai kepemimpinan, selalu hadir tanpa diundang untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi rakyat. KDM menjadikan rakyat sebagai majikan satu-satunya yang harus dilayani tanpa batas tanpa syarat. Bukan yang lain siapapun itu.

Ketiga, belajarlah memuliakan orang tua dan guru. KDM menyadari benar bahwa sumber keberkahan ilmu cuma dua, yaitu memuliakan orang tua dan menghormati gurunya. Kenapa ini penting? Karena masa depan adalah wilayah transendental di luar jangkauan pemikiran manusia. Artinya masa depan bukan hanya wilayah ijazah, tapi zona keberkahan ilmu.

Keempat, belajarlah bagaimana KDM mengelola anggaran dan berbagi. Anggaran negara dan daerah wajib dikelola dengan benar untuk kepentingan rakyat. Kemudian rejeki yang engkau dapat menurut Islam ada hak orang miskin. Jadi anakku bapak pesankan, jangan lagi mencari guru kehidupan selain dari KDM. Berbanggalah sebagai anak Nusantara, bersyukurlah bisa kuliah di kota Bandung, karena setiap saat engkau bisa belajar dari KDM yang engkau tidak dapatkan di buku ajar di kampus.

Terimakasih bapak tidak pernah jenuh mengajarkan menjadi manusia yang bermanfaat ke sesama. Terimakasih bapak telah menunjukkan KDM sebagai guru paripurna dalan menuju masa depan gilang gemilang. Insyaallah saya akan selalu bercermin adab kemanusiaan dan etika kepemimpinan kepada KDM sang Gubernur Jawa Barat yang selalu menabur cinta kepada rakyatnya. []

*Penulis, mahasiswa Telkom University Bandung

(Visited 48 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.