Oleh : Tammasse Balla

Di balik sebuah ponsel cerdas yang Anda genggam, tersembunyi sepotong jiwa bernama SIM Card (Subscriber Identity Modul Card)—selembar cip kecil yang menjadi saksi bisu dari jutaan percakapan dan isyarat kasih sayang yang tak kasat mata. Ia bukan sekadar benda, tapi identitas yang membuka pintu-pintu komunikasi. Seperti ruh yang merambat di balik nadi digital, ia menjembatani rindu dan menyambungkan makna antara aku dan kamu, kita dan mereka. Nah, sekarang bertanyalah pada hati masing-masing, sudah tertanamkah ,,”SIM Card” dalam jiwamu?

Dalam kehidupan, manusia adalah ibarat ponsel berjalan. Seringkali baterainya penuh semangat, tapi sinyalnya hilang arah. Ingat, tanpa SIM Card—tanpa keterhubungan sejati—ia hanyalah benda mati yang tak tahu kepada siapa harus bicara. SIM Card jiwa adalah kesadaran bahwa kita hidup dalam jaringan besar bernama kemanusiaan. Bukan hanya untuk berteman dengan orang baik, tapi juga untuk menyapa yang kerap tersisih, bahkan yang disalahpahami: para preman, pemulung, pedagang kaki lima, dan para pemimpin yang duduk di atas singgasana.

Kita terlalu sering menjadikan hati seperti daftar kontak yang disortir—diseleksi siapa yang dianggap layak disimpan, dan siapa yang dihapus. Padahal, Tuhan menciptakan manusia tanpa kasta sinyal. Tidak ada yang 4G, 5G atau EDGE dalam kemuliaan. Semua manusia adalah frekuensi-frekuensi makna, yang kadangkala jernih terdengar, seringkali harus dicari dalam diam. Pada saat-saat terdesak, justru yang kita anggap ‘gangguan jaringan’ itulah yang menyelamatkan kita dari putus total.

Suatu hari nanti, Anda akan butuh tangan kasar preman yang justru melindungimu saat engkau dikepung ketidakadilan. Pada lain hari, Anda akan butuh suara pejabat yang bisa membuka pintu dan memuluskan jalan yang tertutup. Jangan kau sembah yang satu dan kau remehkan yang lain. Harkat manusia bukan berdasarkan jabatan, melainkan pada fungsi keberadaannya dalam skenario besar kehidupan. Dalam panggung semesta ini, setiap tokoh punya peran, dan setiap peran punya tujuan.

Buya Hamka pernah menulis bahwa pergaulan adalah ladang akhlak. Bijaklah dalam bergaul. Sementara itu Emha Ainun Najib pernah berkata: jangan jadi elit dalam pergaulan. Jadilah rakyat di tengah rakyat. Jadi, SIM Card dalam jiwamu adalah daftar nama yang tak tertulis: ibu-ibu penjual gorengan, anak-anak jalanan, pengemis di perempatan, sopir angkot, sampai pejabat tinggi negara. Mereka semua adalah titik-titik cahaya dalam jejaring cahaya Allah. Bila kau matikan satu, kau kehilangan satu bagian dari wajah Tuhan.

Hati yang hidup adalah hati yang menyimpan nama-nama itu. Bukan hanya di memori, tapi di doa. Bukan hanya di kepala, tapi di rasa. Hati itu adalah telepon jiwa, yang selalu aktif untuk mendengar, tanpa perlu pulsa pamrih. Jangan biarkan hatimu seperti ponsel mati: tak bisa dihubungi, tak bisa menghubungi, hanya dipajang sebagai simbol harga diri.

Lihatlah semesta ini: bukankah Tuhan pun punya daftar kontak-Nya? Di dalam kitab-kitab, dalam suara azan, dalam kidung langit, Tuhan menyapa satu per satu: wahai manusia, wahai jiwa-jiwa yang tenang, wahai orang-orang yang lalai, bahkan wahai para pendosa. Tuhan tak pernah memblokir nomor siapa pun. Mengapa kau berani memblokir manusia hanya karena prasangka atau harga diri yang rapuh?

SIM Card adalah metafora tentang infrastruktur saling mencintai sesama makhluk. Betapa kita harus terhubung bukan hanya lewat kata, tapi juga makna. Demikian pula tentang bagaimana kita menyimpan nama orang lain dalam hati seperti kita menyimpan doa dalam diam. Dalam dunia yang makin bising ini, SIM Card jiwa adalah tempat kita kembali pada sunyi yang bersuara: bahwa tak ada manusia yang benar-benar kecil, dan tak ada manusia yang tak berguna.

Pasanglah SIM Card itu dalam jiwamu. Aktifkan layanan kasih sayangmu. Perluas jangkauan empati. Biarkan hatimu “roaming” ke segala penjuru: dari lorong-lorong gelap hingga istana megah. Karena suatu hari nanti, sinyal hidup ini akan padam, baterai akan habis, dan layar akan gelap. Yang tersisa hanyalah jaringan cinta yang pernah kaubangun di antara sesama. Itulah jaringan Ilahi—yang tak pernah terputus oleh maut sekalipun.


Makassar, 4 Juni 2025
Pk. 06.15 WITA

(Visited 25 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.