Oleh : Tammasse Balla
Di suatu malam yang digelayuti lampu petromak dan suara jengkerik yang bersahut-sahutan, ayahku sedang bermain domino bersama sahabat-sahabatnya. Di pangkuan ibu, aku mengaduh pelan, seolah-olah dunia yang kujejak baru saja berputar terlalu cepat. Tangisku memecah tawa para lelaki dewasa itu. Seorang dari mereka bertanya, “Mengapa si kecil itu menangis terus?” Ayahku, sambil meletakkan kartu, menjawab setengah bercanda, “Dia ingin juga duduk di sini, ikut main.”
Lelaki itu mendekatiku, menatap wajahku yang masih digelayuti air susu ibu dan masa depan yang belum menyatakan dirinya. Ia berkata, “Rawat anakmu ini baik-baik. Di wajahnya ada cahaya. Telinganya lebar—penanda panjang umur. Mulutnya bersinar, tanda “engka ure’napettu”—urat yang diputus, tinggal diarahkan.” Ia berkata seakan-akan sedang menerawang masa depanku yang hanya bisa dibaca oleh hati yang bening.
Kini, setelah lima dasawarsa berlalu, aku menyadari bahwa suara tangis kecil itu mungkin adalah awal dari mimpi panjang. Tangis yang bukan sekadar isyarat lapar atau haus, tapi barangkali kegelisahan jiwa yang ingin segera terbang, keluar dari gelap dunia balita menuju cahaya peradaban.
Aku adalah anak ceking, kurus, yang tubuhnya kalah besar dibanding mimpi-mimpinya. Aku sering diejek, dipanggil “Si Culun” oleh teman-teman yang tak tahu bahwa dari tubuh kecil ini, ada samudera harapan yang mengalir deras. Mereka menertawakanku, tapi tak pernah tahu bahwa aku sedang menulis puisi diam-diam dalam hati—puisi tentang kebangkitan, tentang membuktikan bahwa tulang rapuh tak berarti jiwa lemah.
Aku pernah menjadi anak yang dipeluk air mata ibu, dipayungi doa bapak. Waktu sekolah, aku berjalan kaki menyusuri pematang sawah di belakang rumah,menatap awan, dan berkata dalam hati, “Tunggu aku, langit, aku akan datang menemuimu suatu hari.” Tak ada satu pun batu yang kulewati tanpa kutanya, “Adakah jalan menuju bintang dari sini?”
Jalan itu benar-benar terbuka. Aku meraih prestasi demi prestasi, sepertinya semesta membalas semua tawa sinis yang dulu kutelan bulat-bulat. Aku menjadi Wisudawan Terbaik Universitas Hasanuddin tahun 1989. Hari itu, di podium, aku tidak berdiri sendiri. Di pundakku ada tangan-tangan tak kasat mata dari masa kecilku—ibu yang mengayun, bapak yang tersenyum di balik asap rokoknya, dan suara lelaki tua yang pernah berkata aku punya aura “engka ure’ napettu.”
Hidup membawaku menjadi dosen, dan bukan sembarang dosen—aku dipercaya menjadi Ketua Program Studi S2 di Fakultas Ilmu Budaya. Sebuah bukti bahwa mimpi bukanlah milik anak-anak kota besar dengan seragam rapi dan sepatu mahal. Mimpi juga milik si Culun dari pelosok kampung, yang telinganya besar dan tubuhnya kecil, tapi jiwanya ingin melompat ke cakrawala.
Sudah kubuktikan bahwa hidup tak berhenti di ruang kelas. Aku membangun klinik besar yang kini memperkerjakan lebih dari seratus orang. Klinik itu bukan hanya bangunan dari semen dan besi, melainkan rumah dari nilai-nilai: keberanian, tekad, dan cinta kepada sesama. Klinik itu adalah tubuh dari mimpi masa kecil yang menjelma nyata.
Allah Swt. menuliskan kisah cintaku dengan tinta paling indah: jodohku seorang dokter, perempuan tangguh yang bukan hanya menyembuhkan pasien, tapi juga hatiku. Anak-anakku mengikuti jejak ibunya, menjadi dokter. Di mata mereka, aku melihat diriku sendiri: si kecil yang dulu menangis di ayunan, kini hidup dalam senyum mereka yang menyentuh manusia lain dengan ilmu dan cinta.
Kadangkala aku menengok ke belakang, ke rumah papan tua, ke suara petromak, ke meja domino. Semua itu bukan kenangan biasa. Itu adalah semacam pintu rahasia tempat aku menyimpan roh masa kecilku. Aku ingin suatu hari anak-cucuku mendengar kisah itu dan tahu bahwa keberhasilan bukan diwariskan—ia dibangun dari luka yang disenyumi dan ejekan yang disulap jadi batu pijakan.
Kini, di titik ini, aku ingin terbang, tapi bukan ke langit yang jauh. Aku ingin terbang menembus dinding-dinding hati anak-anak muda yang hari ini mungkin merasa kecil, diremehkan, dan tak dihitung. Aku ingin berbisik pada mereka: “Kamu bukan Si Culun. Kamu adalah benih-benih langit yang sedang tumbuh. Jika kau sabar dan tak menyerah, maka kelak kau akan menyentuh matahari dengan tanganmu sendiri.”
Aku ingin terbang, bukan untuk meninggalkan bumi, tapi ingin memeluk lebih banyak jiwa yang nyaris menyerah. Aku ingin menjadi burung dalam sajak, angin dalam dada, cahaya dalam malam. Aku ingin menulis bukan dengan pena, tapi dengan hidupku sendiri. Agar kelak, ketika aku tak ada, anak-anak negeri ini masih bisa membaca jejakku, dan berkata: “Dia bukan hanya terbang, dia mengajak kami ikut bersayap.”
RM Soto Ayam Pak Wito, Semarang,
12 Juli 2025
Pk. 13.06 WIB
