Cinta sering dituduh buta. Ia dituding sebagai biang kelam dari segala kebodohan manusia. Betapa banyak orang yang menukar logika dengan rasa, yang menukar masa depan dengan sekejap debar di dada. Namun, apakah benar cinta itu buta? Bisa pula justru manusialah yang menutup matanya sendiri agar tidak melihat kebenaran yang menyakitkan?
Cinta tidak lahir dari kegelapan. Ia lahir dari cahaya yang paling murni dalam diri manusia. Ketika Allah meniupkan ruh ke dalam diri kita, Ia menyelipkan setetes cinta yang menjadi alasan segala kehidupan. Namun, manusia, dalam perjalanan panjangnya di bumi, sering mencemari cinta itu dengan ambisi, nafsu, dan keinginan untuk memiliki. Dari situlah butanya cinta bermula — bukan karena cinta tidak bisa melihat, melainkan karena manusia menutup pandangannya sendiri.
Ada perempuan cantik yang menikah dengan laki-laki tua, beranak lima, bahkan rela dimadu. Orang-orang menatapnya dengan tanya, mencibir, lalu berbisik: “Cinta memang buta.” Padahal barangkali, ia tidak buta, hanya melihat dengan mata yang lebih dalam — mata hati. Ia melihat ketulusan, perlindungan, atau mungkin bayangan dirinya sendiri yang membutuhkan cinta.
Cinta sejati tidak memandang bentuk, harta, atau usia. Ia memandang ke arah yang tak terlihat — ke dalam getar jiwa yang bersentuhan di balik kulit dan daging. Ketika dunia menertawakan pilihan seseorang dalam cinta, sesungguhnya dunia sedang menertawakan sesuatu yang tidak mampu dipahaminya.
Namun pada sisi lain, ada pula cinta yang diselimuti kabut ilusi. Cinta yang lahir bukan dari keikhlasan, melainkan dari kehausan akan perhatian. Ia menyeret manusia ke jurang ketergantungan, menuntut, memaksa, bahkan melukai. Inilah cinta yang buta — bukan karena ia tidak tahu arah, tetapi karena ia kehilangan cahaya hatinya.
Berapa banyak yang mengakhiri hidupnya hanya karena cinta ditolak? Berapa banyak yang mengorbankan martabatnya demi cinta yang tak sepadan? Mereka semua bukan korban cinta, melainkan korban dari kebodohan yang mengaku bernama cinta. Cnta sejati tidak pernah membunuh, tidak pernah memaksa, dan tidak pernah meminta yang bukan miliknya.
Cinta yang benar justru menumbuhkan kehidupan. Ia seperti matahari — memberi hangat tanpa meminta imbalan. Ia seperti air — mengalir lembut namun mampu menembus batu. Ia menumbuhkan taman-taman dalam jiwa, bukan membakar hutan keyakinan dalam dada.
Betapa sering kita salah memahami cinta. Kita kira cinta adalah kepemilikan, padahal ia adalah pengabdian. Kita kira cinta adalah rasa memiliki seseorang, padahal ia adalah kesediaan untuk membiarkan seseorang menjadi dirinya sendiri. Buta bukanlah sifat cinta, tetapi akibat dari ketidaktahuan kita akan maknanya.
Cinta tanpa bimbingan akal adalah lautan tanpa kompas. Ia luas, indah, dan menenggelamkan. Akal tanpa cinta adalah padang pasir — kering, keras, dan tak berbuah. Karena itu, cinta dan akal 2harus berjalan beriringan seperti dua sayap burung yang membawa jiwa terbang menuju langit kebijaksanaan.
Hati yang bersih adalah pelita cinta. Jika pelita itu redup, cinta berubah menjadi bayangan — samar dan menakutkan. Ia bisa menipu mata, membuat kita mencintai orang yang salah, memperjuangkan sesuatu yang seharusnya dilepaskan. Karena itu, sebelum mencintai siapa pun, bersihkan dahulu hatimu.
Cinta yang sejati tidak membuatmu kehilangan dirimu sendiri. Ia tidak membutakan, tapi justru membuatmu melihat lebih banyak — ke dalam dirimu, ke dalam dunia, ke dalam rahasia Ilahi. Cinta yang sejati membuatmu rendah hati, bukan kehilangan harga diri.
Ada juga masa cinta datang bukan untuk dimiliki, melainkan untuk mengajarkan sesuatu. Ia datang seperti hujan pertama setelah kemarau panjang — menyegarkan sebentar, lalu pergi meninggalkan pelangi di langit kenangan. Orang bijak tidak menyesali perginya cinta, sebab ia tahu: cinta sejati tak pernah benar-benar pergi, hanya berubah bentuk.
Buta bukanlah ciri cinta, melainkan tanda dari jiwa yang belum dewasa. Jiwa yang belum belajar bahwa cinta bukanlah permainan perasaan, melainkan perjalanan kesadaran. Jika engkau jatuh cinta, jatuhlah dengan mata terbuka. Lihatlah keindahan dan kekurangannya, terimalah keduanya dengan jiwa yang lapang.
Cinta adalah ujian bagi jiwa — apakah engkau mencintai karena ingin memiliki, atau karena ingin memberi? Apakah engkau mencintai karena takut kehilangan, atau karena ingin membahagiakan? Jawaban dari pertanyaan itulah yang menentukan apakah cintamu buta, atau justru melek dalam cahaya kebenaran.
Jangan salahkan cinta ketika manusia tersesat karenanya. Salahkan hatimu yang tidak kau bersihkan, dan akalmu yang tidak kau dengarkan. Sebab cinta, sebagaimana cahaya, tidak pernah buta. Hanya manusia yang menutup matanya sendiri ketika cahaya itu datang menyilaukan. [HTB]
