Oleh : Rosmawati*

Dalam kesibukan hidup, aku menemukan ketenangan dalam kata-kata. Membaca dan menulis, dua hal yang menjadi terapi jiwaku. Aku percaya, kata-kata memiliki kekuatan untuk menyembuhkan dan menginspirasi.

Ketika kondisi fisik sedang tidak baik-baik saja, aku langsung mengambil pena dan menuangkan segala keluh kesah di lembaran. Mengadukan segala keluh kesah kepada Yang Maha Menguasai Alam Semesta, karena Dia-lah yang paling mengerti.

Setiap buku adalah perjalanan baru, setiap tulisan adalah ekspresi jiwa. Membaca membawa aku ke dunia lain, menulis membuatku menemukan diriku sendiri.

Aku menulis untuk mengungkapkan apa yang tak bisa diucapkan, membaca untuk memahami apa yang tak bisa dijelaskan. Kata-kata adalah terapiku, jendela ke dalam jiwa yang paling dalam.

Dengan membaca, aku belajar; dengan menulis, aku tumbuh. Setiap kata yang tertulis adalah langkah menuju kedamaian. Dalam keheningan kata-kata, aku menemukan diriku.

Membaca dan menulis, bukan sekadar hobi, tapi kebutuhan jiwa. Aku percaya, setiap kata yang kita tulis dan baca membawa inspirasi bagi jiwa.

Jika kamu ingin merasakan seperti apa yang kurasakan bahwa menulis, membaca, dan menginspirasi adalah terapi jiwa, maka mulailah menuliskan hal-hal yang ada di pikiran. Biarkan kata-kata menjadi terapimu, dan rasakan kedamaian yang datang. Jadi benar kata sang inspirator Ruslan Ismail Mage (RIM) bahwa membaca dan menulislah untuk menjadi manusia paripurna.

Kolaka Utara, 28 Desember 2025

*Penulis adalah Penggerak literasi dan koordinator Pena Anak Indonesia Kolaka Utara

(Visited 9 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.