Di Soppeng, di sebuah kampung kecil bernama Lajoa yang dibelai kabut pagi dan dikelilingi bukit hijau, lahirlah seorang anak perempuan. Ayah dan ibunya memberinyq nama Jumraini. Di matanya, cahaya masa depan menetes seperti embun yang enggan jatuh. Ia tidak lahir dari kemewahan, tetapi dari doa panjang ibu yang tak pernah tidur sebelum fajar.

Sejak kanak-kanak, Jumraini hidup seperti sungai yang tahu ke mana ia akan bermuara. Di taman kanak-kanak, ia mengeja huruf-huruf bukan untuk menghafal, melainkan untuk memahami bisikan kehidupan. Di sekolah dasar, ia mengumpulkan nilai bukan demi angka, melainkan demi cahaya pengetahuan.

Di bangku SMP dan SMA, namanya menjadi gema yang lembut. Ia tak perlu berlari untuk menjadi juara; keberaniannya menatap masa depan telah menjadikannya juara dalam diam. Di setiap ujian, ia berdialog dengan semesta: “Berikan aku hikmah, bukan sekadar nilai.”

Ketika tiba saatnya melangkah ke perguruan tinggi, langit seolah-olah membukakan jalan baginya. Ia menembus seleksi ketat dan berdiri di gerbang Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, tempat para pejuang ilmu menakar batas diri. Di sana, ia belajar bahwa manusia bukan hanya tubuh dan daging, melainkan rahasia yang ditulis Tuhan di dalam otak dan hati.

Setelah mengenakan jas putih, ia kembali ke kampungnya. Di Soppeng, ia menjadi Dokter PTT, berjalan menembus hujan dan debu, menolong dengan tangan yang mungkin lelah tapi hatinya tak pernah letih. Ia menyapa pasien di rumah-rumah kayu, menyalakan kembali semangat hidup dari tubuh-tubuh yang hampir menyerah.

Tiga tahun ia berbakti. Lalu tahun 2000, takdir mengetuk lembut: ia kembali ke Unhas, mengikuti jejak suaminya menjadi dosen. Namun di persimpangan ilmu, ia memilih jalan yang paling sunyi — Neurologi. Sebagian orang bertanya sinis, “Mengapa memilih bagian kecil? Mengapa bukan Kandungan, Bedah, Anak, atau Interna yang lebih bergengsi?”

Ia tersenyum. Ia tahu, cahaya tidak selalu datang dari lampu besar; kadang dari lilin kecil yang bertahan di tengah angin. Neurologi adalah lilin itu — ilmu yang menelusuri misteri saraf, bahasa otak, dan keajaiban kesadaran manusia.

Waktu berjalan, dan dunia berputar. Neurologi yang dulu dianggap sempit kini menjelma samudra. Gelombang teknologi datang: neuroimaging, neuroengineering, neurorestorasi — tiga sayap baru bagi ilmu otak. Di atas gelombang itulah Dokter Jumraini berdiri, menahkodai perubahan dengan hati yang penuh cinta.

Ia terpilih memimpin Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Unhas. Di ruang-ruang kuliah, suaranya lembut tapi tegas; seperti biola yang mengajarkan harmoni. Ia membimbing mahasiswa bukan hanya dengan pengetahuan, tapi juga dengan keteladanan yang menumbuhkan keberanian.

Hampir tiap bulan ia terbang — dari Makassar menuju Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Bandung, Bali. Di setiap panggung ilmiah, ia bukan sekadar berbicara tentang neuron dan sinaps, tetapi tentang kehidupan: bagaimana setiap sel saraf adalah saksi dari perjuangan manusia untuk terus belajar, berdoa, dan bertahan.

Dunia pun membuka pintu. Ia diundang ke Eropa — Milan, Prancis, Swiss, Kanada — bukan karena nama besar, tapi karena keilmuannya yang menyentuh hati. Ia berbicara tentang otak yang bisa belajar memulihkan dirinya, tentang manusia yang bisa sembuh karena harapan, tentang ilmu yang hanya bermakna bila ia menjadi cahaya bagi sesama.

Hari ini, pesawat Asiana Air yang ia tumpangi akan menuju Korea. World Congress of Neurology menantinya. Ia diundang sebagai pembicara tingkat dunia. Namun di balik segala kebesaran itu, ia tetaplah perempuan Soppeng yang sederhana — yang selalu menunduk sebelum berangkat, mencium tangan suami, dan menatap langit sambil berbisik, “Ya Tuhan, jadikan perjalananku manfaat bagi manusia.”

Di atas langit biru, awan berarak menyapa. Burung-burung menari di sisi pesawat, seakan tahu bahwa di antara penumpang itu ada jiwa yang pernah bermimpi di tanah kecil, dan kini membawa harapan ke langit luas.

Ia menatap keluar jendela, melihat bumi menjauh, lalu tersenyum. “Beginilah hidup,” gumamnya, “kita semua belajar terbang tanpa sayap — hanya dengan doa, tekad, dan keyakinan.”

Bila kelak orang bertanya siapa itu Dokter Jumraini, katakanlah: ia adalah perempuan yang mengubah keterbatasan menjadi kekuatan, yang menjadikan ilmu sebagai sayap dan pengabdian sebagai langitnya. Ia bukan malaikat, bukan pula dewi. Ia hanyalah manusia yang tahu, bahwa Tuhan memberi kita semua sepasang sayap tak terlihat — sayap kerja keras dan cinta kasih — agar kita pun bisa terbang tanpa sayap. [HTB]

(Visited 15 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.