Di bawah langit yang gelap seolah tak pernah lelah menumpahkan tangisnya, sebuah lorong sempit menjadi saksi bisu perjuangan hidup yang getir. Paving block basah mengilap memamerkan keremangan, sementara aroma tanah basah bercampur dengan bau sampah yang menyengat.

Di sudut lorong itu, di bawah tempias atap seng yang sudah berkarat, seekor induk kucing berwarna putih dengan bercak hitam di bagian kepalanya, sebut saja dia Si Putih, sedang meringkuk berusaha melindungi anak-anaknya.

Dingin musim penghujan tahun ini terasa jauh lebih tajam dari biasanya. Hujan turun hampir sepanjang hari, membuat lubang-lubang jalan tergenang air keruh. Si Putih menjilati bulu-bulu anaknya satu per satu, sebuah insting purba untuk memberikan kehangatan yang sebenarnya tak seberapa.

Di sekelilingnya, ada tiga ekor anak kucing yang masih sangat kecil. Tubuh mereka gemetar hebat, bulu-bulu halus mereka lepek terkena percikan air hujan. Namun, ada sebuah kekosongan yang menyesakkan di dada Si Putih.

Kemarin, anak kucingnya berjumlah empat. Kini, hanya tersisa tiga.
Satu anak kucingnya, yang paling kecil dan paling lemah, telah hilang. Si Putih sempat mencarinya di balik tebalnya tembok batu bata dan di bawah tong sampah besar yang sudah berlumut, namun hasilnya nihil. Ia tidak tahu apakah anak keempatnya itu terseret arus air selokan yang deras semalam, mati kedinginan karena suhu yang anjlok, atau justru menyerah pada rasa lapar yang sudah berhari-hari melilit perut kecil mereka.

Di dunia kucing kampung, kematian adalah bayangan yang selalu mengikuti, dan musim hujan adalah panggung utamanya. Kehidupan di lorong ini adalah miniatur dari kerumitan hati manusia. Kucing-kucing ini hidup di antara kaki-kaki manusia yang berlalu-lalang, namun keberadaan mereka seringkali dianggap sebagai angin lalu atau bahkan gangguan.

Setiap pagi, saat pintu-pintu rumah mulai terbuka, harapan Si Putih melambung. Ia akan mendekat, mengeong lemah sambil menggosokkan tubuhnya ke kaki siapa pun yang lewat, berharap ada secuil sisa makanan atau setidaknya tatapan iba. Namun, realitanya jauh lebih beragam.
Ada kelompok manusia yang memandang mereka dengan tatapan jijik. Bagi kelompok ini, kucing jalanan tak lebih dari hama pembawa penyakit dan kotoran. Ketika Si Putih mencoba mendekat untuk meminta perlindungan dari hujan, sebuah hardikan atau bahkan siraman air seringkali menjadi jawaban.

“Hus…hus! Pergi sana! Bikin kotor saja!” teriak seorang pria sambil mengibaskan payungnya. Bagi mereka, kemiskinan dan penderitaan makhluk hidup lain adalah sesuatu yang mengganggu estetika lingkungan mereka.

Lalu, ada pula kelompok manusia yang mengaku cinta kucing, namun cinta mereka hanyalah sebatas kulit. Mereka akan berkata, “Duh, kasihan ya anak kucingnya lucu sekali,” sambil mengambil foto untuk diunggah di media sosial, mencari simpati dari balik layar ponsel. Setelah tombol “post” ditekan, mereka pergi begitu saja tanpa meninggalkan sebutir pun makanan atau mencoba memindahkan keluarga kecil itu ke tempat yang lebih kering. Cinta mereka adalah cinta yang pasif—cinta yang hanya ingin merasakan keindahan tanpa mau berbagi beban.

Bagi kelompok ini, rasa iba adalah aksesori, bukan aksi.
Siang itu, hujan mulai mereda menjadi gerimis tipis. Si Putih melihat ada piring plastik hijau yang tergeletak di tanah, berisi sisa nasi putih yang sudah dingin. Induk kucing dengan sabar menunggu anak-anaknya makan terlebih dahulu. Satu per satu anak kucingnya mendekat, mencoba mengunyah nasi yang dingin itu. Di sisi lain, salah satu anak kucingnya yang bercak hitam-putih menemukan potongan kecil gorengan yang jatuh di sela-sela paving block yang basah. Mereka makan dengan tergesa-gesa, seolah takut makanan itu akan direbut oleh takdir yang kejam.

Di tengah keputusasaan itu, munculah kelompok manusia ketiga. Mereka yang benar-benar mencintai dan merawat.
Seorang wanita paruh baya keluar dari salah satu rumah sederhana di ujung gang. Ia membawa sebuah wadah plastik berisi makanan kucing kering yang aromanya langsung menusuk penciuman tajam Si Putih. Tanpa banyak bicara, ia berjongkok di atas paving yang basah, mengabaikan cipratan lumpur yang mengotori kainnya.
“Sini, manis… makan dulu ya,” bisiknya lembut.

Wanita ini bukan orang kaya. Rumahnya paling kecil di antara yang lain. Namun, di matanya ada binar yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang jijik maupun mereka yang cinta hanya di lisan. Ia mengerti bahwa memberi makan adalah bentuk tanggung jawab moral sebagai sesama makhluk Tuhan. Baginya, kucing-kucing ini adalah titipan yang kelaparan di depan matanya sendiri. Ia tidak hanya memberi makan; ia juga membawa sebuah kardus bekas yang dialasi kain kering, meletakkannya di tempat yang paling terlindung dari angin.

Si Putih mendekat, bukan karena lapar semata, tapi karena ia merasakan keamanan. Ia membiarkan wanita itu mengelus kepalanya yang basah. Ada sebuah dialog tanpa kata yang terjalin sebuah pengakuan bahwa di dunia yang dingin ini, masih ada kehangatan yang tulus.

Malam kembali turun, dan hujan kembali menderu. Si Putih membawa ketiga anaknya masuk ke dalam kardus pemberian wanita tadi. Meskipun hatinya masih perih mengingat anak keempatnya yang hilang, setidaknya malam ini ketiga anaknya tidak perlu menggigil di atas semen yang dingin.

Cerita tentang Si Putih dan anak-anaknya adalah cermin bagi kita semua. Musim hujan akan selalu datang, dan kucing-kucing malang akan selalu ada di pojok-pojok gelap pemukiman kita. Namun, karakter kita sebagai manusialah yang menentukan apakah dunia ini akan tetap terasa dingin bagi mereka, atau sedikit lebih hangat karena kepedulian yang nyata.

Satu ekor yang hilang mungkin tak akan pernah kembali, namun tiga ekor yang tersisa kini memiliki harapan. Bukan karena keajaiban langit, melainkan karena tangan manusia yang memilih untuk tidak sekadar merasa kasihan, tetapi benar-benar bertindak.

Karena pada akhirnya, cinta yang sejati tidak diukur dari seberapa banyak kita bicara tentang “kasihan”, tapi dari seberapa banyak piring yang kita isi dan seberapa banyak tempat teduh yang kita bagi.

Yang jelas, memberi makan kucing kampung yang kelaparan ditengah guyuran hujan tak membuat kita miskin.

(Visited 24 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.