Di balik meja guru SDN 31 Koto Merapak, saya sering terdiam sejenak, memandang langit Pesisir Selatan yang luas. Di sana, saya merasa ada doa-doa yang terbang menembus awan. Doa seorang ibu, seorang istri, dan seorang anak yang sedang berjuang menjemput keberkahan.
Rumah kontrakan kami mungkin sederhana, namun di dalamnya ada cinta yang kokoh. Ada Uda Zaipel Hendri, sosok suami yang setia menemani di setiap pasang surut kehidupan. Di sana pula, tawa tiga gadis kami—Husnul Maulida, Nuri Maulida, dan Azikra Maulida—menjadi penawar lelah setelah seharian mengajar di Sutera.
Mengenang Ulid dan Ketabahan Hati
Namun, ada ruang sunyi di hati kami yang selalu menyebut satu nama: Nurdinda Maulidis, yang akrab kami panggil Ulid. Kepergiannya di usia 15 bulan pada tahun 2018 adalah luka terdalam yang pernah saya dan Uda rasakan. Kehilangan Ulid, disusul ujian keguguran di tahun 2019, mengajarkan saya bahwa hidup ini hanyalah titipan.
Justru karena kesadaran itulah, saya tidak ingin lagi terjerat dalam sisa-sisa riba. Saya ingin penghasilan saya sebagai guru benar-benar bersih dan berkah untuk membesarkan ketiga kakak Ulid. Tahun ini, tekad saya sudah bulat: Saya ingin menarik SK itu dari bank. Saya ingin merdeka secara finansial, demi masa depan Husnul, Nuri, dan Azikra.
Pulang ke Bukitogang dan Panggilan Baitullah
Impian saya sederhana namun mulia. Saya ingin membawa keluarga kecil kami pulang ke rumah di Bukitogang, Jorong Simpang Kapuak. Saya ingin mengajak anak-anak berlari di tanah kelahiran saya di Kabupaten Lima Puluh Kota tanpa beban hutang yang membayangi.
Dan di atas segalanya, ada satu amanah cinta yang ingin saya tunaikan. Sebagai bentuk bakti yang tak terhingga, saya ingin mengetuk pintu hati langit agar diberikan jalan untuk mengumrohkan Aba Afrizal dan Ibu Imdawati.
“Aba, Ibu… terima kasih sudah menjadi penguat saat saya jatuh karena kehilangan Ulid. Terima kasih sudah mendoakan perjuangan saya di perantauan. Semoga tahun ini, Allah izinkan saya mengantar kalian bersimpuh di depan Ka’bah sebagai tanda terima kasih saya.”
Penutup
Masa lalu telah memberi saya duka, namun masa depan menjanjikan harapan. Dengan dukungan Uda Zaipel dan semangat dari ketiga putri kami, saya akan terus mengajar dan berjuang. Semoga tahun ini menjadi saksi kembalinya SK itu ke tangan, hilangnya jeratan riba, dan berangkatnya Aba serta Ibu ke tanah suci.
Untuk Ulid di surga, Ibu sedang berjuang agar keluarga kita selalu dalam keberkahan. Amin.
