Catatan batin Rosmawati*
Setiap masuk bulan suci Ramadan, sketsa wajah Ambo (Ayah) selalu kulukis di atas kanvas jiwa. Butiran-butiran keringatnya terasa membasahi pipi setiap aku menyandarkan kepala di pundak kokohnya.
Azan Magrib menyadarkanku dari lamunan mengenang masa-masa kuliah ketika masih berbuka bersama dengan Ambo. Aku pun bergegas menyantap hidangan berbuka puasa bersama keluarga kecilku (suami setiaku dan seorang bidadariku yang baru saja menyelesaikan studinya di Fakuktas Satra Inggris Universitas Hasanuddin Makassar).
Ambo, sudah lama engkau meninggalkan kami. Namun, setiap Ramadan aku selalu teringat kepadamu. Ramadanku kali ini terasa aku teramat sangat rindu mengingatmu. Tanpa terasa air mataku meleleh mengingat kebersamaan denganmu setiap hari-hari terakhir puasa.
Ambo selalu menanyakan, “Apa sudah ada pembeli baju lebaranmu, Nak?” Aku hanya senyum-senyum tidak menjawabnya. Jika sudah seperti itu, maka esoknya sudah ada uang di tangan Ambo dari hasil mengantarkan penumpang pete-pete (sopir angkot) jurusan Perumnas Antang.
Sekarang tidak ada lagi bahu kuat tempatku bersandar dan bermanja. Bahkan, aku masih naik dan berdiri di bahunya sementara Ambo merasa lelah seharian penuh membawa penumpang angkot untuk menghidupi anak-anaknya.
Ambo, ketulusan dan keikhlasanmu mencari rezeki untuk menyekolahkan anak-anakmu sampai berhasil semuanya membawa berkah. Jerih payah dan setiap tetesan keringatmu mencari rezeki yang halal tidak ada yang sia-sia. Dari semua yang telah Ambo lakukan, semua menjadi berkah karena hasil dari keringat yang murni.
Teringat setiap kali aku melangkahkan kaki menuju kampus IKIP Parangtambung, aku selalu menunggumu di Perempatan Tallo Jalan Urip Sumiharjo Ujung Pandang kala itu. Ketika ada yang bertanya, “Siapa yang kamu tunggu?” Dengan bangga dan tidak sedikit pun merasa malu aku menjawab, “Amboku (Ayahku).”
Entahlah, aku tidak suka memanggilnya “Bapak” atau “Ayah”. Bagiku, panggilan “Ambo” menggambarkan kekokohan atau ketangguhan beliau dalam menghantarkan kami menjadi pribadi yang tangguh menghadapi gelombang kehidupan.
Ambo, engkau bukan hanya sopir angkot yang cekatan di jalan membawa penumpang dengan selamat sampai ke tujuan. Lebih dari itu, engkau adalah sopir jiwa anak-anakmu yang tangguh hingga bisa menghantarkan anak-anakmu menjemput cita-citanya.
Ambo, maafkan anakmu yang belum sempat membalas jasa-jasamu sebelum kepergianmu menghadap Tuhan. Ya Allah ya Rabb, jadikan setiap tetesan air mataku sebagai tasbih doa tak terputus untuk Ayahku (Amboku) yang telah berbaring di sisi-Mu.
Sahabatku yang membaca tulisan ini, jika masih bersama ayah bunda, jangan menunda waktu memaksimalkan pengabdia kepada mereka. Jika di antara jarak dan waktu, jangan pernah menunda untuk pulang memeluk mereka, terlebih jelang Hari Raya. Pesanku sebagai anak yang telah ditinggal oleh orang tua, “Jangan pernah menyiksa perasaan ayah bunda dengan rindu.”
Al-fatihah tanpa batas buatmu, Ambo.
*Penulis adalah pegiat literasi di Kolaka Utara

Aamiin…Alfatihah tuk Almarhum……
Amin
Amin
Amin…
Alfatihah untuk Ambo….
Berlinang air mata baca tulisan ta Bu🙏🙏