Malam itu di Surantiah, udara Pesisir Selatan terasa lembap setelah hujan gerimis menyapu jalanan. Aroma tanah basah tercium hingga ke dalam rumah. Tak jauh dari dapur, aku baru saja berbagi sedikit lauk pauk dengan tetanggaku—seorang orang tua yang baru pulang dari sawah dengan tubuh yang tampak amat letih. Beliau tak lagi punya tenaga untuk menyalakan tungku, dan aku merasa itulah saatnya tangan ini bergerak untuk memberi.
“Terima kasih banyak, Nak. Semoga Allah melindungimu,” ucap beliau sebelum melangkah pulang ke rumahnya. Doa itu terasa tulus, mengalir begitu saja dari lisan yang jujur.
Malam semakin larut. Suara jangkrik di balik rimbunnya pohon kelapa terdengar bersahut-saling. Aku sedang bersantai di dalam rumah, menikmati ketenangan setelah hari yang panjang. Namun, entah mengapa, tiba-tiba pandanganku tertuju ke lantai.
Detik itu juga, jantungku seolah berhenti.
Di atas lantai yang gelap, seekor kalajengking hitam dengan ekor melengkung tajam sedang bergerak mendekat. Ia muncul entah dari mana, merayap dengan pasti menuju arahku duduk. Dalam hitungan detik, jika aku tidak waspada atau sedang terlelap, bisa mematikan itu pasti sudah bersarang di kulitku.
Namun, ada sesuatu yang ajaib. Biasanya, makhluk seperti itu luput dari pandangan mata hingga semuanya terlambat. Tapi malam itu, seolah-olah ada cahaya yang menuntun mataku untuk melihat gerakannya tepat sebelum ia sampai di jangkauanku. Aku menyadari kehadirannya sebelum ia sempat menyerang.
Aku segera bertindak untuk mengamankan diri, sembari napasku tersengal karena kaget. Setelah keadaan tenang, aku terduduk lama merenungkan apa yang baru saja terjadi.
Aku teringat pada lauk yang kuberikan sore tadi. Aku teringat pada raut wajah lelah tetanggaku yang berubah menjadi syukur. Di Surantiah malam itu, aku membuktikan sendiri sebuah kebenaran yang tak terbantahkan: bahwa sedekah bukan sekadar memberi, tapi juga membangun benteng perlindungan yang tak terlihat.
Jika bukan karena sedikit kebaikan tadi sore, mungkinkah mataku akan sewaspada itu? Atau mungkinkah kalajengking itu akan menyerang lebih awal? Hanya Allah yang tahu. Namun yang pasti, tadi malam aku selamat karena doa tulus dari perut yang tidak lagi lapar. []
