Oleh: Sabrie Mustamin

Dalam konteks sejarah dan perjuangan umat manusia dari zaman ke zaman melakukan kebaikan dan kebenaran, tidak jarang menghadapi tantangan yang cukup berat. Memerlukan energi besar dalam memperjuangkan kebenaran, bahkan tidak sedikit berakhir di tiang gantungan.

Dalam menjalankan perintah “amar makruf nahi mungkar”, agama mengajarkan kepada kita untuk mengajak kepada orang lain melakukan kebaikan dengan cara yang benar dan bijaksana. Begitu pula berusaha mencegah terjadinya kejahatan dan kemungkaran berdasarkan kekuasaan dan wewenang serta kemampuan yang dimiliki masing-masing.

Pada era informasi yang terbuka dan mudah diakses oleh semua orang, peran dan fungsi untuk melakukan “amar makruf dan nahi mungkar” juga terbuka lebar. Dalam kondisi seperti itu, seorang muslim dituntut untuk membuktikan keimanan dan ketakwaan yang dimilikinya.

Rasulullah Muhammad Saw mengajarkan kepada umatnya untuk mencegah kejahatan yang terjadi dengan kekuatan dan kekuasaan yang kita miliki, bukan hanya diam lalu menggerutu. Diam dan menggerutu tanda dari keimanan yang lemah.

Seorang pemimpin dengan kekuasaan, maka cegahlah kejahatan dengan kekuasaan yang engkau miliki, bukan menjadi bagian dari kejahatan itu sendiri. Jika seorang pemimpin agama, cegahlah dengan memberikan nasihat yang baik dan benar berdasarkan perintah Allah Swt dan rasul-Nya, bukan berdasarkan permintaan sponsor dan kepentingan kelompok tertentu.

Bagi para akademisi, aktivis, dan jurnalis, berlombalah menggunakan segala daya untuk mencegah terjadinya kejahatan, bukan justru menjadi bagian dari kejahatan itu sendiri.

Karena itu, masyarakat dan umat dalam menggunakan hak pilihnya, tidak memberikan dukungan kepada seseorang atau sekelompok orang yang berpotensi untuk merusak tatanan kehidupan yang baik dan benar. Masyarakat yang cerdas adalah masyarakat visioner yang mampu mengemas perbedaan menjadi kekuatan dalam membangun daerah dan bangsa.

Ketika negara dilanda berbagai “kelangkaan”, sah-sah saja rakyat menuntut negara turun tangan mengatasi kelangkaan minyak goreng, kelangkaan kedelai, atau kelangkaan harga kebutuhan pokok yang bersahabat kepada rakyat kecil. Yang tidak sah itu ketika negara diam tidak menyelesaikan masalah kelangkaan yang dialami rakyatnya.

Era disrupsi yang menuntut inovasi dan perubahan secara masif yang datang dari luar ini, kita dituntut mandiri dan berani menghadapi tantangan dengan bersatu merawat ibu Pertiwi dari segala bentuk kejahatan, baik yang terorganisir maupun yang sporadis dari kelompok yang ingin merusak keutuhan bangsa.

Karena diam merupakan tanda kelemahan iman dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Menganjurkan amar maruf dan nahi mungkar sungguh sangat mahal nilainya di hadapan Allah Swt, dan pahalanya adalah sorga firdaus.

(Visited 89 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.