Oleh: Tammasse Balla

Dalam penerbangan menuju Bandung sore ini, saya berkontemplasi di udara, di atas ketinggian 36.000 kaki dpl. Penerbangan kali ini amat istimewa. Di samping karena kami berempat bersama istri dan kedua buah hati tercinta, juga amat istimewa karena untuk pertama kalinya kami sekeluarga menempuh rute Makassar-Bandung (Direct Flight). Selama ini, kalau ada urusan di Bandung, wajib transit di Jakarta.

Sahabat PEMELAJAR, saya curi start dalam tulisan ini dengan ungkapan Bugis “Pada Lao, Teppada Upe”. Artinya, bersama-bersama pergi (merantau), tetapi belum tentu sama rezeki yang didapat.

Setiap orang mempunyai rezeki masing-masing yang sudah ditentukan Allah Swt. Namun, rezeki itu harus diusahakan, diperjuangkan dengan keras. Jangan pernah karena hanya mendengar guntur di langit, lalu air di tempayan dicurahkan. Ada pula orang yang pasrah pada takdirnya. Ingat, takdir dapat diubah dengan doa dengan kerja keras. Doa dan ikhtiar. Ini pun masih perlu didiskusikan, hehehe…

Di kehidupan dunia ini, pada dasarnya manusia perlu bekerja keras. Ingat pemeo lama, “Apakah kita di dunia ini sekadar ‘makan untuk hidup’ atau kita hidup di dunia sekadar ‘hidup untuk makan’?” Sejarah telah membuktikan bahwa siapa pekerja keras pada usia usia mudanya, merekalah menjadi pemenang pada masa tuanya.

Sahabat PEMELAJAR, bisa saja hari ini atau nanti kita akan mengalami suatu titik dimana kita membandingkan diri dengan pencapaian teman, keluarga, atau orang lain. Seolah-olah hidup ini adalah sebuah pertandingan yang harus saling berlomba mencapai garis finish. Setiap orang merasa berhak menentukan standarnya pada orang lain. Akhirnya, kita berlomba terus-menerus hingga membuat stres diri sendiri karena tak mampu bertahan untuk mencapai tujuan.

Hidup bukan ajang perlombaan lari. Hidup bukan kompetisi adu cepat. Pemenang sejati bukanlah yang tercepat. Pihak yang kalah juga bukan karena gagal menyentuh garis finish

Dunia memang menuntut kita untuk terus cepat bergerak maju. Ada pemeo, “Siapa cepat, dia dapat.” Beberapa tahun lalu, viral ungkapan tokoh kebanggaan dari Tanah Bugis, JK: “Lebih Cepat, Lebih Baik.”

Namun, sering kali kita lupa, untuk bergerak maju tidak selalu harus dengan berlari. Kadang kala, berjalan juga bisa bergerak maju. Bahkan, tidak kalah cepat dari yang lari juga. Untuk mencapai puncak Mount Everest, selalu diawali dengan langkah setapak. Setitik demi setitik, lama-lama jadi bukit.

Masih ingat dongeng lawas tentang perlombaan lari kura-kura dan kelinci? Kura-kura yang berjalan lambat ternyata bisa mencapai garis finish terlebih dahulu dari kelinci yang berlari. Kuncinya adalah berfokus dengan urusan sendiri yang ada di depan kita dan tidak menengak-nengok mengintip urusan orang lain. Jangan “kepo” kata anak muda zaman sekarang.

Saya pribadi mengajak para sahabat PEMELAJAR BN untuk menjadikan rumah jiwa jiwa kita BN ini lebih subur lagi. Jangan pernah merasa sungkan mengirimkan tulisan tentang hal apa saja yang dialami.

Warga BN adalah kumpulan manusia rendah hati, tenggang rasa, menghargai setiap karya. Kita semua adalah PEMELAJAR sejati yang selalu mau belajar. Jangan takut salah. Lebih baik kita pernah salah (menulis) karena telah berbuat (menulis), daripada tidak pernah salah (menulis) karena tidak pernah berbuat (menulis).

Dengan berjalan pelan pun akan bisa lebih fokus dengan lebih memperhatikan keadaan di sekitar. Dengan berfokus juga akan bisa menghasilkan karya yang jauh lebih baik dibandingkan saat sedang terburu-buru. Semua orang memiliki pengalaman dan keadaan masing-masing yang membantu menentukan bagaimana kelanjutannya. Beberapa orang mungkin menemukan keberhasilan sebelum Anda, tetapi itu bukan berarti Anda telah gagal.

Hidup bukan perlombaan. Hidup kita dengan hidup orang lain pun sangat jelas berbeda. Tidak ada yang namanya istilah saling mendahului atau mengungguli karena setiap orang mempunyai tujuan hidup dan zona waktunya sendiri-sendiri. Ada seseorang yang baru sukses pada usia 50 tahun, ada pula yang sejak usia 17 tahun telah memiliki karier yang cemerlang.

Setiap orang lahir dengan porsi gagal dan porsi berhasilnya masing-masing. Mungkin ini hanya perihal waktu saja, kapan porsi kegagalan tersebut dihabiskan dan kapan keberhasilan akan tercapai. Seperti halnya orang Bugis telah meneorikan, “Pada Lao Teppada Upe”. Bersama-sama pergi (merantau), tapi belum tentu sama rezeki yang didapat.

Tulisan ini segera saya kunci. Beberapa saat lagi pesawat segera landing di Bandara Husein Sastranegara International Airport, Bandung, Jawa Barat. Selamat membaca! [HTB]

(Visited 1,221 times, 1 visits today)
2 thoughts on “Pada Lao, Teppada Upe’”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.