“Bilang sama mama, saya mau pulang”. Kalimat ini selalu saya kirim lewat SMS, chat atau telepon setiap hari Sabtu pagi. Dulunya saya selalu telepon kakak perempuan yang kedua, tapi karena sudah duluan meninggakan kami, jadi info kepulanganku lewat ipar yang tinggal dekat rumah mama.

Kalau tidak ada kegiatan yang terlalu penting, saya dan anakku selalu pulang menjenguk mama di kampung yang jaraknya sekitar 80 km dari kota tempatku tinggal. Sudah sering minta mama tinggal bersama kami, tetapi beliau lebih suka tinggal di rumahnya sendiri. Katanya banyak yang bisa dikerjakan kalau di kampung.

Saya Sembilan bersaudara, dan sisa satu orang perempuan yang belum nikah. Pernah mama diajak kakak perempuan yang ketiga tinggal di Jakarta, namun baru tiga bulan mama sudah minta pulang, karena selama di Jakarta, selalu merasa kurang sehat. Begitu sampai di kampung, Alhamdulillah langsung bugar dan bersemangat.

Jika mama tahu anaknya mau datang, betapa sibuknya, semua jenis makanan dimasak. Mama sangat bahagia bila kami anak-anaknya mengunjunginya. Walau terus dimakan usia, tetapi semangat kerjanya tetap tinggi.

Mama tidak bisa duduk diam, selalu ada saja yang dikerjakannya. Tubuhnya kecil kurus, sangat kasihan melihatnya bergerak ke sana kemari dengan tubuh ringkihnya, tetapi semangatnya berlipat-lipat bila anaknya ada datang. Saya sering melarang memasak bila kami datang, biarkan anak-anaknya yang merawat dan memasakkan makanan untuknya, tetapi mama tetap mencari pekerjaan lain.

Seperti hari-hari biasanya, ketika saya pulang menjenguknya, selalu membawakan kue atau makanan yang sudah jadi. Tujuannya agar begitu sampai, mama bisa langsung memakannya. Namun hanya mencicipi sedikit lalu sibuk lagi memasak untuk kami.

Cinta mama yang begitu tulus, tidak dapat diukur dengan apapun, tidak bisa digantikan dengan apapun. Cintanya membuat saya bahagia dan sedih. Bahagia karena memiliki cintanya, sedih karena belum bisa berbuat banyak untuk membalasnya.

Rindu mama begitu kuat, saking kuatnya, saat sakit pun langsung sembuh begitu tahu anaknya-anaknya datang. Sakitnya hilang berganti dengan bahagia dan semangat yang luar biasa. Saya melihat dan merasakan semua itu. Hati saya remuk karena belum merasa punya cinta dan rindu seperti yang dimiliki mama.

Sejak bapak meninggalkan kami, mamalah satu-satunya yang kami punya, tempat kami mengadu, tempat kami mencurahkan kasih sayang, tempat kami menabung pahala. Walaupun kami anak-anaknya sudah mandiri, tapi kami tetap membutuhkan mama.

Saya tidak dapat membayangkan bila mama tidak ada. Semoga mama selalu sehat dan Panjang umur. Mama yang masih selalu menganggap anaknya masih kecil, selalu melakukan sesuatu yang bisa buat anaknya senang dan bahagia, selalu memaksa anaknya untuk makan.

Masih saja memberikan uang pada anak dan cucunya, walau kami sudah mempunyai penghasilan cukup. Mama selalu menolak bila diberikan uang, katanya masih punya uang, dan selalu sibuk menyiapkan oleh-oleh ketika anak cucunya pulang. Tidak pernah merasa terbebani bila anak cucunya datang rombongan, tidak pernah mengeluh tentang makanan atau pun keuangan.

Saya akan selalu berdoa kepada Tuhan agar mama tetap sehat dan berumur Panjang. Ketika menoleh ke masa lalu, betapa banyaknya dosa saya kepada bapak terlebih mama. Ketika sudah berkeluarga dan punya anak, saya sangat merasakan cinta dan kasih sayang mama yang sesungguhnya.

Jika waktu bisa berputar kembali, saya akan mengulangi cerita-cerita masa lalu dengan cerita penuh cinta dan bahagia bersama mama. Saya tidak akan menorehkan luka walau setipis silet pun pada mama. Sekarang yang bisa saya lakukan hanya terus mendo’akan mama. Mengucap nama mama di setiap desah nafasku, di setiap denyut nadiku, agar setiap melihat mama, selalu dalam keadaan sehat.

Saya akan melihat di mata mama ada beribu kebahagian, melihat selalu semangat di masa tuanya, tetap melihat senyumnya, tetap merasakan pelukannya, tetap mau selalu dan selamanya mendengar suara lembut mama, tetap membelai rambut putih mama.

Teruslah bernafas malaikat dan bidadariku, tetaplah ukir senyum tulus di bibir mama, tetaplah merindu buat anak-anakmu, sebar selalu cinta mama untuk kami anak-anaknya. Cinta dan rindu mama tidak seindah dan tidak sekuat cinta dan rindu anak-anakmu, Do’a mama juga tidak sedalam do’a kami anak-anakmu, tapi percayalah, anak-anak mama adalah anak-anak yang sholeh sholehah, seperti yang bapak dan mama inginkan.

Mataku tiba-tiba basah, butiran-butiran kristal mulai menyeruak di sudut mataku. Teringat ketika mama berkata setengah berbisik kepadaku, “Nak jangan menyiksaku dengan setumpuk rindu untukmu”.

By Khatimah Bakri

(Visited 240 times, 1 visits today)
One thought on “Jangan Menyiksaku dengan Setumpuk Rindu”
  1. tulisan ini membuatku teringan akan mama yang tenang di alam sana
    tak ada sosok anak yg tak rindu akan ibunya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.