Oleh : Mardiati
Ketika berbicara tentang sahabat yang terlintas dalam pikiran adalah ikatan erat tujuh gadis dari dua daerah berbeda yang berjuang di perantauan menuntut ilmu pengetahuan. Kebiasaan memiliki sahabat untuk jalan dan berbagi segalanya sudah kulakukan sejak duduk di SD, SMP, SMA. Namun yang paling berkesan dan tak akan pernah tergantikan adalah persahabatanku saat kuliah. Persahabatan kami terbentuk bukan karena sengaja, tetapi karena terbiasa bertemu. Dari mulai mata terbuka sampai tertutup lagi pasti kami bertemu. Maklum kami satu kontrakan.
Kuliah di tempat yang sama UNISSULA dan berasal dari kota yang sama yaitu Kolaka Utara. Menariknya, ada satu orang penduduk asli Demak yang tidak tahu bagaimana caranya bisa terselip diantara kami. Walaupun karakter dan kepribadian beraneka ragam, tetapi kami satu hati dalam memupuk nilai-nilai persahabatan. Layaknya persahabatan pada umumnya yang dipenuhi tawa, tangis, konflik, dan perdebatan, kami juga seperti itu. Kadang berselisih paham, saling berdiam diri ,lalu berbaikan, kemudian berdebat lagi, tidak saling menyapa lagi, bermaafan lagi. Begitulah warna-warni persahabatan yang mendewasakan kami.
Apabila persahabatan bagi orang lain adalah keluar jalan-jalan atau traveling, tidak demikian dengan kami. Harus berhemat agar bisa bertahan hidup. Hiburan kami adalah adalah nonton film drakor (drama Korea) seharian saat libur. Sebulan sekali adalah waktu untuk menghilangkan rasa kejenuhan dari rutinitas kampus. Jalan-jalan ke Botorejo Demak adalah wisata yang sudah sangat berarti bagi kami. Botorejo adalah kampung halaman salah satu dari kami berasal. Seorang gadis Botorejo tetapi terdengar fasih berbicara sulawesi, walaupun dia adalah orang Jawa asli. Bagiku , Botorejo adalah kampung kedua kami setelah Kolaka Utara.
Begitulah persahabatan kami. Tidak ada jarak yang memisahkan. Satu baju untuk semua. Makanya, orang-orang berfikir kalau kami mempunyai baju yang sama padahal yang sebenarnya hanya ada satu baju. Bukan hanya baju, tetapi tas, sendal, sepatu dan parfum juga seperti itu. Tidak termasuk pakaian pribadi ya. Jadi istilahnya, milikmu, milikku kecuali pacar.
Persahabatan ini seperti tempat kredit uang. Saling meminjamkan jika membutuhkan dan berbagi makanan. Aku makan, kamu juga harus makan. Persahabatan adalah satu rasa, satu hati.Tidak ada kata munafik dalam kamus persahabatan kami. Tidak ada sifat apapun yang tersembunyi. Baik dan buruknya saling mengenal satu sama lain. Kami akan saling menegur dan menguatkan jika sedang sedih. Tidak pernah ada kata tertawa di atas penderitaan yang lain, tetapi selalu tertawa bersama walau dalam keadaan yang terpuruk sekalipun. Kami adalah Esse, Regilia, Ria, Yuyu, Wanti, Ati dan si bontot Ayu yang merupakan anak puponnya bapak Sugiyanto dan ibu Rumiyanti.
Kini, satu demi satu telah membina rumah tangga dan memiliki keluarga. Tetapi jarak dan keadaan tidak akan pernah melunturkannya. Semoga persahabatan ini akan terus berlanjut sampai kepada generasi selanjutnya. Persahabatan yang seperti saudara yang tidak akan pernah tergantikan.
Sahabat, senyummu senyumku, tangismu tangisku, deritamu deritaku, bahagiamu bahagiaku. Benar kata orang bijak, “Saudara sesungguhnya adalah sahabat-sahabat sejati yang menyiapkan ruang dalam jiwanya untuk selalu berbagi”. Sahabat, selalu ada ruang dalam jiwaku untukmu. (Ruslan Ismail Mage)
You are my bestfriends since 2011 until now and forever.
