Secara psikologis, hampir semua orang memiliki tokoh idola dalam menjalani hidup dan kehidupan. Bahkan selalu mengidentifikasikan dirinya dengan sang idola yang dikaguminya. Terlebih kalau tokoh kekagumannya itu mampu mengalirkan energi yang memicu semangat hidupnya berkarya.

Hal ini pun terjadi dalam diriku sejak dalam masa pertumbuhan. Aku mengagumi, memuja, memuliakan, dan menginginkan bisa menjelma seperti tokoh atau sosok yang aku kagumi dan muliakan itu. Tentu aku punya alasan batin kenapa mengidolakan dan menginginkan diriku seperti dia. Ia sosok yang tangguh, pejuang sejati, pekerja keras, tetapi sangat lembut penuh kasih dan sayang. Energi positif itu semuanya menyatu di dalam dirinya. Itulah pahlawan abadiku sepanjang masa dunia dan akhirat seorang ibu tangguh yang tidak pernah jenuh menengadahkan tangan ke Tuhannya dalam mendoakanku.

Mungkin hampir semua sosok ibu sama sepertimu, tetapi yang paripurna kerja kerasnya dan kasih sayangnya hanya sosok sepertimu ibu. Guratan tanganmu sebagai saksi bisu bagaimana engkau merawat lima buah hatimu seorang diri, tanpa didampingi sosok seorang ayah. Keriput di punggung tanganmu menjadi bukti bagaimana engkau berjuang mencari sesuap nasi untuk anak-anakmu.

Ibu, engkau menjadikan dirimu dua sosok sekaligus. Sosok seorang ibu yang penuh kasih sayang dan sosok seorang ayah yang pekerja keras, banting tulang hingga keringat menetes di sekujur tubuhmu. Kadang aku menangis melihatmu bekerja sekuat tenanga tanpa mengenal lelah. Jika hujan tubuhmu basah menggigil, jika terik panas kulitmu pun terbakar matahari. Namun sepanjang napasku, engkau tidak pernah mengeluh.

Engkau yang selalu mengutamakan anak-anakmu di atas segala-galanya, bahkan untuk nyawa sekalipun. Tidak ada tenang dalam dadamu ketika anakmu pergi tanpa ada kabar. Dari mulutmu tidak pernah terdengar keluh kesah atas semua nasib buruk yang menimpamu. Ibu selalu berdamai dengan kenyataan hidup, walau teramat sangat perih menghimpit.

Ibu, Selama 29 tahun umurku tidak pernah sekali pun bibir manismu mengeluarkan kata-kata yang akan membuat anakmu sakit hati. Justru sebaliknya kamilah anak-anakmu yang tidak mempunyai rasa terima kasih, sering menyakiti hatimu karena nada kami tinggi membentakmu. Kami bahkan pernah membuatmu menangis terseduh-seduh. Maafkan kami ibu, sungguh betapa berdosa diri ini kepadamu.

Masihkah ada cahaya surga itu untuk kami di telapak kakimu, ibu? Masihkah Allah Swt mengasihi kami yang begitu durhaka kepadamu, ibu? Ibu, sekali lagi dan seterusnya, maafkan kami.

Ibu, doakan anakmu, agar disisa usiamu, aku bisa memaksimalkan pengabdianku kepadamu. Cukuplah sudah sewaktu kecil ibu merawatku, sekarang saatnya aku ingin selalu mencium pintu surgaku dibawa telapak kakimu, ibu.

Ibu, Bagiku engkau adalah sosok ibu yang luar biasa sempurna. Jadi panutanku ketika aku nanti membangun keluarga. Tapi ibu, dapatkah diriku seperti dirimu? Dapatkah aku sesabar dirimu, ibu?

Ibu, harapan terbesarku di tahun 2022 ini, engkau selalu bahagia dan anak-anakmu dapat membuatmu menegakkan kepala di hadapan dunia ibu. Cukup sudah cacian, hinaan, derita dan air mata yang engkau dapatkan karena kebodohan anak-anakmu ini ibu. Tersenyumlah ibu. Aku akan selalu menghiasi dan melukis senyum di wajahmu ibu, agar Allah Swt tersenyum kepadaku.

Mom, you are my hero in my life. Thank you so much for everything in my life. I am nothing without you, mom and only you. I love you so much.

(Visited 50 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.