Kolom Ruslan Ismail Mage*
Segerombolan burung yang terbang melintasi langit Indonesia tiba-tiba bertasbih memuji Tuhan. “Maha Besar Engkau ya Allah telah menciptakan negeri seindah dan sekaya ini. Maha Kuasa Engkau ya Allah memindahkan surgamu ke negeri ini.”
Bangga menjadi orang Indonesia, itu sudah pasti dan tidak perlu diragukan lagi. Rasa cinta tanah air tidak pernah akan bergeser sejengkal pun walau rupiah semakin tidak mencintai kami rakyat kecil yang meskipun sudah bekerja seharian namun uang yang didapat hanya cukup untuk tidak kelaparan malam ini. Bangga menjadi orang Indonesia, karena pendiri bangsa ini menyiapkan konsep kenegaraan yang jelas, menitipkan filosofi hidup yang agung, menyiapkan navigasi penunjuk arah perjalanan bangsa ke depan, dan mewariskan ideologi negara yang luar biasa dahsyatnya.
Kalau sejarah perjalanan bangsa Indonesia mampu melewati beberapa badai, itu karena kekuatan Pancasila dengan lima silanya dan 36 butirnya. Lalu kenapa mesti ada pemikiran ngawur (menurut istilah Prof. Dr. Yudi Latif) yang hendak memeras lima silanya?
Jika si burung garuda bisa berteriak, ia pasti sudah kehabisan suara mengingatkan, “Wahai anak-anak bangsa yang hidup di negeri surga, kalian telah melakukan kesalahan fatal jika membiarkan lima silaku diperas menjadi trisila yang berujung ekasila. Suatu saat tanah negeri yang engkau cintai sebatas mulut saja, akan menghilang dalam peta dunia.”
Menyedihkan sekaligus mengkhawatirkan. Menyedihkan karena ada kecederungan penguasa pascareformasi hanya membiarkan Pancasila sebagai bangkai ideologi dan seakan-akan lebih tertarik memilih ideologi liberal dan sosialis yang ditawarkan oleh negara investor. Mengkhawatirkan karena dalam Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (HIP) yang dulu di gagas oleh DPR mengabaikan TAP/MPR Nomor 25 tahun 1966 tentang dilarangnya ideologi komunis di Indonesia.
Membayangkannya saja tidak kuat, apalagi jika menjadi kenyataan. Pancasila sudah final. Jangan pernah membiarkan kelompok tertentu mengutak-atik lagi lima silanya, apalagi memerasnya menjadi trisila yang berujung ekasila. Tugas pemerintahan sekarang adalah mengembalikan lima sila dan 36 butir Pancasila ke dalam dada setiap anak-anak bangsa melalui jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, bukan memeras silanya.
Salam kebhinnekaan: bersatu dalam perbedaan tiada akhir.
*Penulis adalah founder Sipil Institute.
