Dunia seakan terhenti, ketika Sri Paus Fransiskus berpulang ke rumah Bapa di surga pada 21 april 2025 lalu. Tetapi tak lama kemudian sesudah kematiannya, para Kardinal mengadakan konklaf dan memilih pemimpin baru, pengganti Paus Fransiskus, paus ke-266 itu kini telah tenang di taman surga bersama Allah Tri Tunggal Mahakudus, Bunda Maria, para kudus dan malaikatnya di sana.
Ketika dunia menanti hasil dari Kapel Sistina Vatikan, harapan akan gembala barupun datang pada tanggal 8 mei 2025, terdengarlah lonceng berdentang , asap putih menggepul, dari balkon Vatikan terdengar suara “Habemus Papam”, berarti “Kita Memiliki Paus”, terpilihlah Paus Leo XIV, Paus ke-267 yang bernama Robert Francis Prevost,OSA, dari Ordo Santo Agustinus.

Reaksi umat Katolik sangat bersyukur, berterima kasih Pada Tuhan, dan bahagia, karena gereja Katolik telah memiliki lagi Paus, setelah kematian Paus Fransiskus tanggal 21 april 2025 lalu. Saat kehilangan Paus, semua pekerjaan menjadi tertunda, tetapi dengan terpilihnya paus baru, semua pekerjaan kembali menjadi normal. Paus Leo XIV dari Chicago, Ilinois AS, Paus pertama dari Amerika Serikat.
Paus yang berasal dari benua Amerika inipun langsung menyapa umatnya, dengan kata-kata yang diucapkan oleh Yesus, ketika bangkit dari alam maut, “Damai sejahtera bagi kalian semua”. Damai inilah yang disampaikan oleh Paus baru Leo XIV, pada ribuan umat yang telah menanti kehadirannya, untuk menyapanya.
Sorak-soraipun menyambut salam damai dari gembala yang rendah hati ini. Paus penerus terdahulunya Paus Fransiskus inipun, langsung menyapa para umatnya (dombanya) yang lemah, disabilitas, untuk menyampaikan kabar sukacita kebangkitan Kristus pada mereka. Kini mereka telah menemukan kembali gembala baru yang akan menuntun mereka ke padang rumput hijau, ke taman firdaus yang penuh dengan kedamaian.

Roh Kudus memilihnya sangat tepat pada waktunya, pada konteksnya, hanya tiga kali putaran pegambilan suara, kita mendapat seorang Paus yang luar biasa, yaitu Paus Leo XIV. Kali ini Roh Kudus bekerja lebih cepat, tepat dan akurat. Dimana Roh Kudus melihat kerendahan hati, bukan melihat fisik, karir, gelar dan pendidikannya.
Hal ini merupakan suatu kejutan bagi kita semua, semacam kontradiksi sedikit dalam situasi ekstrim saat ini. Hatinya berpaut pada orang-orang sederhana di Peru. Dalam dirinya ada jembatan untuk perdamaian. Di balik ideologi sosialisme dan kapitalisme ternyata ada ideologi Kasih.
Ketika dunia dalam keadaan perang antar negara, bisnis oleh AS, tiba-tiba muncul figure dari negara yang sama, yang mengatakan aku mengasihimu tanpa batas. Istilahnya “Papa Americano”. Ada bela rasa dan keberpihakan pada kaum miskin, bersumber pada kerendahan hati serta pelayanan.
Pesan perdamaian, dan penghormatan pada pendahulunya, Paus Fransiskus. Seorang pemimpin yang tenang namun berprinsip, lahir di Chicago pada 14 september 1955, membawa semangat kesederhanaan dan spiritual ala ordo Agustinian. Ia bukan sosok asing di Vatikan.

Sebelumnya ia menjabat sebagai private diskateri untuk pemilihan uskup sedunia, dan Presiden Komisi Kepausan untuk Amerika Latin. Pengalamannya memimpin ordo Agustinian selama 12 tahun yaitu dari tahun 2001-2013, membentuk dirinya sebagai pemimpin yang mengutamakan kebijaksanaan komunitas dan pelayanan secara diam-diam namun berdampak besar.
Alasan memilih nama Paus Leo XIV, karena nama ini penuh makna, mencerminkan visi dan misi serta arah kebijakan kepausannya. Pemilihan nama paus memiliki arti penting, karena mencerminkan karakter dan semangat yang ingin diusun oleh sang Paus.
Nama yang dipilihnya menjadi tonggak gembalanya, dari Paus Leo XIII, dengan ajaran Sosial Katolik “Rerum Novarum”, dimana harga buruh diijnjak-injak, mereka bergumul untuk hak hidup. Nama yang dipilih sering menjadi petunjuk pertama bagi dunia, mengenai prioritas dan arah kepemimpinan gereja yang dibawanya. Mottonya adalah, “In Illo Uno Unun”, berarti “Dalam Dia Kita Bersatu”, kesatuan dalam misi Kristus untuk mewartakan KasihNya pada dunia yang sedang bergejolak.
Dengan adanya Paus Leo XIV ini, dapat membawa kita umat katolik dan umat-umat lainnya, menuju ke padang rumput hijau yang Allah sediakan bagi kita semua yang percaya akan kasihNya yang tak terbatas, dimana dunia sedang mencari “jalan, kebenaran dan hidup”, yaitu Yesus Kristus sendiri, jalan satu-satunya, menuju ke rumah Bapa.
Sumber: dari berbagai info di medsos dan pengalaman pribadi penulis.
By prof.EdoSantos’25
