Plato (428 SM – 348 SM) adalah seorang filsuf, penulis, guru, pembicara publik dan murid Socrates yang paling cemerlang. Karena tidak ada sumber biografi dari zamannya, kita bisa tahu lebih banyak tentang Plato dari tulisan dan biografi yang ditulis 500 tahun setelah kematiannya.
Rangga Putra
PROLOG
Sarapan pagi dengan menu berat pemikiran Plato, filsuf dan matematikawan Yunani, secara spesifik dari Athena. Dilihat dari perspektif sejarah filsafat, Plato digolongkan sebagai filsuf Yunani Kuno. Ia adalah penulis, Hampir semua karya Plato ditulis dalam nada dialog.
Dalam Surat VII, Plato berpendapat bahwa pena dan tinta membekukan pemikiran sejati yang ditulis dalam huruf-huruf yang membisu.Olehnya itu, menurutnya, jika pemikiran itu perlu dituliskan, maka yang paling cocok adalah tulisan yang berbentuk dialog.
Menarik untuk jadi asupan suplemen bagi keluarga besar Bengkel Narasi, yang tiap hari menulis. Dalam sebuah tulisan Dwi Masrina (2020),
Plato pernah menulis sebuah dialog imajinatif berjudul “Phaedrus” yang berisi obrolan antara gurunya, Socrates, dengan kawannya, Phaedrus.
Awalnya keduanya membicarakan tentang Cinta namun berakhir dengan saling mendebat bagaimana cara paling baik dalam menyampaikan sebuah pidato.
Dari banyak hal yang dibicarakan oleh keduanya, apa yang paling mengusik pikiran Plato di dalam masyarakat Yunani kuno adalah “menulis”.
Dengan menulis orang-orang akan berhenti untuk melatih ingatan mereka. Orang-orang akan lebih bergantung pada tulisan daripada harus mengingat-mengingat hal-hal yang seharusnya mereka pikirkan.
Proses memanggil ingatan tidak lagi berada dalam pikiran mereka, namun berada di luar diri mereka yaitu mengandalkan tanda-tanda eksternal berupa tulisan tersebut. Ingatan menjadi tidak lagi terlatih
Plato khawatirkan adalah ketika seseorang menuliskan sesuatu, akan ada orang-orang lain yang tidak bertanggung jawab yang akan menggunakan tulisan itu di luar konteks yang seharusnya.
Plato pernah menulis sebuah dialog imajinatif berjudul “Phaedrus” yang berisi obrolan antara gurunya, Socrates, dengan kawannya, Phaedrus.
Awalnya keduanya membicarakan tentang Cinta namun berakhir dengan saling mendebat bagaimana cara paling baik dalam menyampaikan sebuah pidato.
Dari banyak hal yang dibicarakan oleh keduanya, apa yang paling mengusik pikiran Plato di dalam masyarakat Yunani kuno adalah “menulis”.
Menurutnya, dengan menulis orang-orang akan berhenti untuk melatih ingatan mereka. Orang-orang akan lebih bergantung pada tulisan daripada harus mengingat-mengingat hal-hal yang seharusnya mereka pikirkan.
Proses memanggil ingatan tidak lagi berada dalam pikiran mereka, namun berada di luar diri mereka yaitu mengandalkan tanda-tanda eksternal berupa tulisan tersebut. Ingatan menjadi tidak lagi terlatih.
Apa yang Plato khawatirkan adalah ketika seseorang menuliskan sesuatu, akan ada orang-orang lain yang tidak bertanggung jawab yang akan menggunakan tulisan itu di luar konteks yang seharusnya.
Pada era Plato, informasi dibagi dari mulut ke mulut, bukan melalui tulisan. Manuskrip tertulis masih minim dan belum aksesibel bagi banyak orang seperti saat ini.
Namun Plato telah memiliki kekhawatiran terhadap informasi berbentuk tulisan. Baginya, informasi yang penting tidak seharusnya ditulis karena akan rawan disalah-gunakan.
“Kesempurnaan bukanlah bakat, tetapi keterampilan yang membutuhkan latihan. Kita tidak bersikap patut karena kita sudah sempurna. Faktanya, kita hanya bisa sempurna hanya dengan bertindak patut.”
plato
Sekilas tentang PLATO
Lahir sebagai keturunan terkemuka di Athena, Plato cukup beruntung karena dapat memulai karir akademiknya sebagai murid dari Socrates. Setelah kematian Socrates, Plato menyerap banyak sekali ide baru ketika ia berkunjung ke Mesir dan Italia kala itu.
Beberapa saat kemudian, beliau kembali ke Athena setelah perjalanan cukup panjangnya dan mendirikan Academia. Disini, ia menjadi guru dari Aristoteles. Keduanya dikemudian hari dikenal sebagai 2 orang terbesar peletak dasar pemikiran etika Barat.
Plato juga merupakan seorang filsuf moral, karena pada saat itu moralitas kurang lebih merupakan jangkauan filsafat. Filsafat belum mencapai titik level pertanyaan “mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan?” kala itu.
Moralitas saat itu lebih tentang bagaimana kita harus berperilaku sebaik mungkin sehingga membuat diri kita sendiri bahagia dan puas di dunia yang membingungkan dan kejam.
Plato awalnya lebih banyak membahas tentang pengajuan pertanyaan. Periode selanjutnya, ia memberikan kesimpulan dan jawaban atas banyak teka-teki.
Plato mempertahankan format dialog untuk membahas masalah filosofis, memperluas ide-ide yang pertama kali dieksplorasi Socrates.
THE REPUBLIC
Karya Plato yang paling berpengaruh di era “middle dialogue” ini adalah The Republic.
The Republic adalah buku tentang keadilan, baik dalam pemerintahan dan individu yang ideal.
Karya ini dimulai dengan percakapan Sokrates tentang sifat keadilan sebelum berlanjut ke diskusi panjang tentang keadilan, kebijaksanaan, dan keberanian.
Plato mengikatkan etika ke dalam ranah politik. Baginya, etika sangat penting untuk konsep keadilan. Ia berpendapat bahwa individu yang adil membentuk masyarakat yang adil, dan keduanya harus didorong oleh 3 kebajikan utama: kesederhanaan, kebijaksanaan, dan keberanian.
Tiga yang pertama ini, jika dikembangkan dan diseimbangkan dengan benar, menghasilkan kebajikan keempat: keadilan. Plato juga menggunakan The Republic untuk menunjukkan gagasan tentang kota yang adil, atau Kallipolis.
Dalam model ini, kota dibagi menjadi tiga kelas:
1). Guardians
Guardians ini adalah penguasa Kallipolis. Bagi Platon, seorang penguasa haruslah seseorang yang perhatian utamanya adalah keadilan dan kebenaran, dan yang telah mempelajari lebih banyak pengetahuan esensial. Hanya filsuf yang benar-benar memenuhi syarat untuk memerintah.
2). Auxiliaries
Prajurit atau kelas militer, bertugas mempertahankan kota dari invasi musuh dan menjaga perdamaian di dalam kota.
3). Producers
Kelas terbesar dalam masyarakat, sekarang kita sebut sebagai kelas pekerja. Di sini, Plato memasukkan semua orang yang bukan penguasa/pejuang, semua orang mulai dari dokter, seniman, hakim, hingga pengrajin. Mereka dinamai demikian karena memproduksi barang & jasa.
Demikian sarapan pagiku hari ini, dengan menulis aku juga dengan sendirinya membaca, terjadi proses pembelajaran.
Merawat ingatan jadi folder tersendiri untuk tulisan setelah sarapan pagi!! Sarapan ibarat amunisi dan bahan bakar sebelum memulai hari. Untuk itu, penting bagi kita mengonsumsi karbohidrat yang berfungsi sebagai energi dan makanan untuk suplemen otak.
Jangan lupa sarapan, Bahagia juga butuh Energi
Diberdayakan :
Sudirman Muhammadiyah
Sumber:
1. https://t.co/HMEt0tkmoC.
2. Ethics 101 (Brian Boone)
3. Konten oleh @NathPribady

Plato terkenal dengan pemikiran-pemikirannya yang hebat….
Mungkin bapak bisaTambahkan contoh praktis atau studi kasus
Bisa ambil kisah seorang keluarga atau sekolah yang menerapkan ritual sarapan berdasarkan gagasan Plato, kemudian dicontohkan dampak dari implementasinya. Justru darisini akan menjadikan artikel lebih hidup dan aplikatif.