Oleh: Dev.Seixas’25
Hari-hari terus berlalu, anak-anak makin berpikir dewasa.Tidak ingin saling berpisah kecuali pagi hingga sore karena kami memiliki kegiatan masing-masing.
Putraku ke kampus bersama aku jika ada jam kuliah pagi, sedangkan putriku, ke sekolah dengan jalur yang berbeda.Tapi jam 17.00 kami semua bersama melewati malam bersama.
Putraku sudah berusia 18 tahun, tapi aneh dia tidak bisa tidur sendiri di kamar. Katanya,” ma aku tidak ngantuk dari malam hingga pagi jika tidur di kamar sendiri.” Kalau putri sudah 15 tahun,dan ini memang tidak pernah sekalipun tidur terpisah, jadi kami beriga memiliki ikatan batin yang erat.
Setiap sore kami menunggu sang adik, jika aku yang tiba duluan,sebagai ibu terkadang aktivitas full jadi aku tidak balik di siang hari karena mondar-mandir, jadi terkadang aku makan gorengan bersama peserta kursus ketika pulang. Jadi saat mereka tak makan aku hanya bawa yang menjadi bagian mereka.Tiba di rumah tergantung mana yang lebih duluan tapi satu pasti makan bagian dan tinggalkan bagian untuk yang satu lagi.
Kegiatan yang terjadi tiap malam adalah kami tidak bisa tidur lagi di kamar yang berbeda.Kami bertiga selalu bersama di saat malam. Putraku sering lebih suka tanya agar aku cerita tentang keturunan kakek dan nenek tujuannya agar dia tahu. Sedangkan putriku hobinya jajan jadi balik pasti bawa makanan ringan untuk aku dan kakaknya.Kami bertiga menikmati malam bersama dengan cerita masing-masing.
Kami menciptakan kamar bagai dunia. Keika kami bertiga sehabis makan masing-masing ada cerita sendiri. Putraku main game, dan putriku membaca jika tidak, ia pijit aku lalu aku nulis di halaman ia juga ngintip diam-diam dan aku tahu itu adalah bekal yang sedang dia persiapkan untuk hari esok.
Berbagi cerita hingga Putraku memang merasakan jika ketika kami bertiga dalam satu kamar seolah ada kebahagian kecil yang kami petik tiap malam,tak peduli lagi selangkah dari kamar apa yang terjadi.
Terdengar suara kucing di luar kami tak peduli begitu juga suara anjing yang datang mencari sisa makanan.Kami menikmati moment bersama di dalam kamar bagai satu dunia.Kami bisa nonton bareng,kami bisa membagi cerita bersama,kami bisa tertawa bersama dan kami enjoy yang namanya hidup.
Hidup bahagia itu tidak mahal harganya,simpel aja yakni ada kebersamaan di setiap waktu,di mana kita bisa mewujudkan bahagia itu bersama.
Dunia bahagia itu cukup sederhana karena kebahagian itu tidak dapat kita ukur dengan nilai mata yang baik yang logam atau kertas tapi cukup kamu menciptakan dunia itu sesederhana mungkin asalkan bisa makan,minum,tertawa, tersenyum, bahkan menangis bersama itulah yang kita katakan dunia bahagia itu sederhana saja.
Kalau satu nonton, kisah yang bagus kami pasti nonton bersama jika tidak aku nulis sambil bercerita bagaimana cara ampuh untuk bahagia kelak jika mereka dewasa.
Dalam situasi sulit apapun kami tak pernah hidup berpisah jadi seolah kamar kami adalah dunia kebahagian kami ketika menjelang malam.Saling rebutan bantal serta selimut sering terjadi karena sudah musim dingin.Aku bahagia bisa berada di samping mereka di masa pertumbuhan putra dan putri bukan karena memiliki harta berlimpah untuk kebahagian mereka tapi karena aku menyaksikan cara mereka makan dan minum serta mandi dan berpakaian hingga mereka tumbuh remaja.
Bahagia itu sederhana,kita mampu melewati hidup bersama dan memiliki cerita bersama agar kelak bisa jadikan cerita ketika kita sudah tiada karena moment ini yang akan membuat mereka tak ingin saling menjauh meskipun dalam situasi sulit.
Di kamar kami bisa menciptakan dunia kebahagian kami sendiri tanpa harus menghayal mau hidup ke depan seperti apa karena kami sadar sudah ada yang mengaturnya jadi kami bertiga jalani saja.Yang jelas kami bahagia dengan dunia kami sendiri karena bahagia itu sederhana pula tidak harus menggunakan rumus.
Dengan kebahagian yang amat sederhana ini,aku yakni anak-anakku sudah memiliki kekuatan dan kasih sayang masing-masing untuk persiapan di hari esok jika kelak aku sudah tak ada.Mereka tahu apa yang baik dan apa yang buruk karena aku sering mengajari mereka dengan sederhana pula layaknya apa yang aku petik dari kedua orang tuaku.
Dulu beda ketika aku memiliki impian yang ada di otak aku di mana letak kota Yogyakarta tempat atau letak UGM, sekarang di kamar sederhana ini, kami bertiga bukan lagi berhayal tidak karena klik aja semua letak dan kehidupan masing-masing dunia nampak dengan sendirian lewat akses internet jadi kami anggap kamar kami adalah dunia kebahagian kami.Ketika kami bersama kami bisa nonton bareng tentang corak kehidupan dari negara mana yang kami suka.
Jadilah kita jangan terlalu mempersulit suasana kalau mau bahagia harus ribet caranya hanya simple yakni kebersamaan dan membagi cerita bersama ketika kita di takdirkan sebagai satu misi. Jadi bahagia itu sederhana.
