Saya mengenal Bapak Sumardi tiga tahun yang lalu. Kami bertatap muka di layar Zoom meeting dalam kegiatan webinar Satu Birokrat Satu Buku (Sabisabu). Salah satu Asisten Komisioner KASN RI ini terlihat sangat humble. Sebagai seorang pejabat, tidak terlihat sombong, justru memperlihatkan sikap sebagai seorang pemelajar sejati.

“Saya sedang belajar menulis. Saya baru menghasilkan satu judul buku, itu pun masih jauh dari kategori baik, apalagi sempurna. Alhamdulillah, saya mendapat banyak insight dari para narasumber hari ini,” ungkap Sumardi dengan mata berbinar.

Selang beberapa bulan kemudian, walaupun sungkan, saya memberanikan diri menyapanya di aplikasi perpesanan WhatsApp. “Bapak, kiranya berkenan bergabung bersama kami di komunitas menulis Bengkel Narasi?”

Di luar dugaan, beliau langsung mengiyakan. Sejak itu, rumah jiwa kami di angkasa yang bernama Bengkel Narasi yang dibangun oleh Ruslan Ismail Mage (RIM) menjadi semakin hangat dengan kehadiran beliau. Kami menyapanya dengan sebutan “Bapak ASN Indonesia”.

Sejak saat itu, Bapak Sumardi terlihat rajin menulis dan membagikannya di situs www.bengkelnarasi.com. Menulis dan terus menulis, hingga pada hari kelahirannya di tanggal 17 Agustus 2020, tepat di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75, buku kedua yang berjudul “101 Pengalaman & Pemikiran PNS Sontoloyo” di-launching. Walaupun pelaksanaan webinarnya digeser satu hari ke tanggal 18 Agustus mengingat semua orang pasti punya kesibukan merayakan HUT RI pada tanggal 17 Agustus.

Tidak sampai setahun, beliau meluncurkan lagi buku “PSN Lengser Keprabon”. Buku ini terbit dalam dua edisi: edisi pertama dan edisi revisi. Kemudian disusul dengan buku “Analisis Employee Retention di Kalangan Auditor Pemerintah” yang merupakan hasil konversi karya tulis ilmiah program doktoral.

Satu hal yang menarik buku-buku beliau adalah judulnya yang agak nyeleneh. “Kok PNS Sontoloyo? Kenapa PNS lengser keprabon? Apa lagi ini buku terbarunya? Si Boncos?”

Ada pula beberapa rekannya yang berbisik, “Pak Sumardi, nggak takut diperkarakan? Itu judul bukunya lho…”

“Ya kalau judul buku biasa-biasa aja, nggak akan menarik minat pembaca, dong? Insya Allah isinya dapat dipertanggungjawabkan karena saya menulis sejalan dengan tugas dan fungsi, juga berdasarkan pengalaman saya bertugas sehari-hari. Semoga bermanfaat. Tentunya saran dan masukan akan sangat berharga agar buku-buku saya selanjutnya bisa lebih baik lagi,” jawab Sumardi dengan ramah.

Saya pun berpikir begitu. Bapak Sumardi adalah tipe orang yang tahu bagaimana “Tulis apa yang kamu kerjakan. Kerjakan apa yang kamu tulis.” Termasuk apa yang beliau tulis dalam buku “Boncos tanpa Followership“. Betul sekali, seorang pemimpin (leader) yang baik berawal dari seorang pengikut (follower) yang baik.

Tidak hanya dalam pekerjaan, bagaimana beliau meniti karier dari bawah di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) hingga kemudian dipekerjakan sebagai Asisten Komisioner di Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), followership pun beliau terapkan dalam aktivitas/hobi kepenulisan. Saya ingat betul bagaimana beliau menjadi seorang follower Sabisabu, hingga kemudian beliau berhasil menemukan tema dan topik tulisan yang menjadi andalannya, yaitu di bidang manajemen sumber daya manusia aparatur. Perlahan namun tidak perlu waktu lama, Sumardi muncul ke permukaan sebagai salah satu penulis yang leading di bidang tersebut.

Kita bisa mengambil hikmah dari proses yang dijalaninya: dari kesediaannya menjadi pemelajar sejati (follower) dalam kepenulisan, bahkan manut-manut saja ketika saya memberi koreksi pada tulisannya, hingga saat ini menjadi penulis buku-buku hits (saya tidak mengatakan best seller) di kalangan pembaca aparatur sipil negara. Betul sekali, kita (pasti) boncos tanpa followership. Bangga padamu, Bapak ASN Indonesia! []

(Visited 109 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

One thought on ““Si Boncos”, Bukti Sumardi sebagai Great Follower dalam Kepenulisan”
  1. Aa Iyan bagus banget pilihan kosakata. Pas sebagai editor plus pengamat. Eeeh, boleh dong Manini minta resensi novel JEJAK CINTA SEVILLA?
    Buat promosi ke Produser.
    Hatur nuhun Aa Iyan nan bening.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.