Oleh: Alfiyu Nengsi
Perempuan dari tepian pesisir pantai yang telah berada di dalam kapal menuju kota tempat dia menggapai cita dan harapannya telah meninggalkan dermaga tempat kapal itu bersandar.
Kapal yang mulai berlayar di lautan luas membuat perempuan dari tepian pantai ini tersenyum memandang keluar lewat jendela kapal di samping tempat duduknya. Sesekali melihat pulau-pulau yang berjajar dari sebagian perjalanannya.
Sekedar untuk melepas penat yang mulai dirasakan oleh tubuh mungil perempuan tepian pantai ini, dia mencoba berdiri dan berjalan menaiki tangga dan berdiri di atas anjungan kapal. Angin laut menerbangkan rambut hitam panjangnya yang terurai indah.
Perempuan itu tetap berdiri di sana menantikan matahari tenggelam meninggalkan bumi, dia menyaksikan betapa indahnya cahaya senja itu, seindah harapannya di kota tujuannya.
Matahari telah kembali ke peraduannya, perempuan itu tetap berdiri di anjungan kapal sambil melihat lampu-lampu kapal di kegelapan malam dengan indahnya.
Di saat perempuan ini telah merasakan dinginnya angin malam yang meniup tubuh mungilnya, dia kembali ke tempat duduknya, kemudian memakai baju mantel yang tadi ditinggalkan di kursinya.
Perempuan tepian pantai itu memejamkan matanya untuk melepaskan kantuk dan berusaha menahan rasa lelah yang dirasakan oleh tubuh mungilnya.
Perempuan itu tertidur dan bermimpi dengan indahnya, tentang Vita dan harapannya di kota tujuannya. (Bersambung)
*Penggiat literasi menulis di Minangkabau
