Oleh : Rivaldi*

Sejak masuk kuliah sampai sekarang semester tiga, sudah banyak bertemu dosen dengan karakter dan cara mengajar yang berbeda-beda. Bagi kami sebagai mahasiswa apa dan siapa pun dosen yang mengajar harus tetap fokus mengikuti pembelajarannya, karena yang penting adalah ilmunya.

Namun, tidak bisa juga dipungkiri kalau cara mengajar bisa mempengaruhi proses penerimaan mata ajar bagi mahasiswa. Satu di antara dosen yang memiliki metode ajar yang lain dari pada yang lain adalah Bapak Ruslan Ismail Mage yang kami panggil Pak RIM.

Pertama kali mengikuti mata kuliah, “Resolusi Manajemen Konflik” yang diasuhnya, tidak langsung mengajarkan teori-teori keilmuan, tetapi terlebih dahulu memetakan jalan masa depan yang akan kami lalui. Yang ditrigger lebih dalam dulu adalah kesadaran mahasiswa sebagai seorang anak yang menjadi duta orang tuanya di kampung.

Saya melihat dan merasakan langsung ada tiga fase dalam proses pembelajaran Pak RIM setiap masuk kelas. Pertama, ia memposisikan dirinya dulu sebagai ayah atau kakak yang memberikan nasihat dan pencerahan jiwa kepada mahasiswanya. Dengan kata-kata yang menyentuh hati, saya sampai menangis teringat orang tua di kampung dan bertekad tidak akan mengecewakan mereka.

Fase kedua, ia menjadi inspirator yang bertugas membakar semangat kami dalam belajar. Bahasa verbalnya membahana sinergis dengan bahasa non-verbalnya yang penuh semangat mengalirkan energi penggerak dalam jiwa kami. Fase ketiga adalah fase mengupas teori-teori keilmuan yang berkaitan mata kuliah. Begitu lihai memetakan potensi konflik negeri yang memiliki seribu macam perbedaan dan kepentingan ini, terlebih menjelang pemilu serentak 2024 nanti. Tentu dengan resolusi konfliknya.

Dengan merasakan tiga fase pembelajarannya itu, Saya kemudian menyebutnya, “Seniman Ilmu dan Inspirator kehidupan”. Disebut seniman ilmu, karena Pak RIM sangat lihai mengentertain teori-teori keilmuannya sehingga kami menikmati setiap alur narasinya. Kami happy, senang dan fresh tidak pernah mengantuk mengikuti kuliahnya. Disebut inspirator kehidupan, karena Pak RIM tidak hanya ingin melahirkan sarjana, tetapi orang sukses. Karena itu, di samping mengajarkan teori-teori ilmiah sesuai mata kuliah yang diampuhnya, juga mengajarkan teori-teori atau strategi menaklukkan gelombang kehidupan.

Setiap kata dan kalimatnya menjadi penyemangat bagi kami untuk maju menjemput masa depan. Hampir semua celah ditutup yang bisa memicu keraguan kami menatap masa depan. Terima kasih Pak RIM, sang seniman ilmu dan inspirator kehidupan. Semoga Allah Swt, selalu memberkati setiap langkahnya dalam mencerdaskan anak bangsa. Aamiin ya Rabbal alamiin.

*Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Ekasakti

(Visited 62 times, 1 visits today)

By Rivaldi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.