Oleh: Ruslan Ismail Mage

Entah sengaja atau tidak, yang pasti tanggal cantik 12-12-2022 menjadi momen berharga dan terindah bagi keluarga besar komunitas menulis Bengkel Narasi Indonesia untuk wilayah berkarya Kolaka Utara.

Betapa tidak! Bengkel Narasi (BN) Kolaka Utara kembali membuat sejarah baru di jagad literasi Kolaka Utara. Setelah mentor kreatif BN Andi Akbar Herman mempersembahkan suvenir buku karyanya sendiri di hari pernikahannya beberapa waktu yang lalu, kini di tanggal cantik itu bapak pembina BN Kolaka Utara Sabrie Mustamin yang juga Ketua Komisi 1 DPRD Kolaka Utara kembali memberikan kado ulang tahun sang istri berupa buku hasil karya mereka berdua berjudul “Ketika Mata Pena Mendua”.

Suvenir dan kado buku ini adalah kado teristimewa, terindah, dan termahal nilainya di dunia sebagai lambang cinta kasih. Teristimewa karena terbuat dari olah pikiran yang digerakkan hati. Terindah karena kerja cerdas otak dan jiwa sebagai manivestasi dari rasa cinta.

Lalu, mengapa buku dikatakan suvenir atau kado termahal di dunia? Karena buku adalah kepingan jiwa dan racikan otak. Sesungguhnya tidak ada orang yang mau menukar emas permata, intan berlian, atau rumah mewah dengan sekeping otak dan jiwanya. Itulah kenapa kado buku ini menjadi kado termahal dan terindah.

Kado istimewa ini dirancang dan didesain sejak bulan Juni lalu. Ada kurang lebih lima bulan tim arsitek BN yang dikomandoi Adinda Iyan Apt dan Bunda Gusnawati Lukman bekerja dalam sunyi untuk melahirkan karya hati dari buah pena pasangan suami-istri Bapak Sabrie Mustamin dan istri tercinta Bunda Islamiati.

Kemesraan mereka berdua terkadang membuat pasangan muda baper dengannya. Bagi keluarga besar BN, mereka berdua di-branding sebagai pasangan Romeo and Juliet Kolaka Utara. Begitu seirama, senapas, dan senyawanya dalam berkarya menulis buku berdua untuk menginspirasi kehidupan.

Menariknya, karena tanpa sepengetahuan sang istri, Bapak Sabrie Mustamin berkolaborasi dengan BN menerbitkan buku kumpulan tulisan mereka berdua sebagai kado ulang tahun Bunda Islamiati.

Alhamdulillah, skenario yang di rancang dari awal oleh BN dengan sutradara Bapak Sabrie Mustamin berhasil memukau tamu undangan dalam perayaan atau tepatnya syukuran milad Bunda Islamiati. Penyerahan kado istimewa dari Bapak Sabrie Mustamin kepada Bunda Islamiati berupa buku hasil karya mereka berdua, sekaligus menandai dimulainya launching buku “Ketika Mata Pena Mendua”.

Keluarga besar Bengkel Narasi dan Pena Anak Indonesia (PAI) Kolaka Utara pun bersyukur dan bergembira berkumpul bersama, makan bersama, dan tentunya menerima semua kado buku dari penulisnya.

Sebagai pendiri rumah jiwa di angkasa bernama Bengkel Narasi, saya dari jauh di Bumi Minangkabau, hanya bisa mengirim tulisan ini sebagai ucapan selamat milad Bunda Islamiati sekaligus selamat launching bukunya. Batinku pun berbisik, “Sungguh tajam mata pena pasangan suami-istri.” []

*Akademisi, inspirator dan penggerak, founder Bengkel Narasi dan Pena Anak Indonesia.

(Visited 2,004 times, 1 visits today)
3 thoughts on “Tajamnya Mata Pena Pasangan Suami-Istri”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.