Keluarga Besar Bengkel Narasi

Kolom Ruslan Ismail Mage*

Sebuah video pendek inspiratif menarasikan bahwa salah satu negara paling makmur di dunia adalah Finlandia walaupun tidak memiliki sumber kekayaan seperti sumber daya alam yang melimpah. Bahkan, iklim di negara ini termasuk sangat ekstrim karena dekat dengan kutub utara.

Fakta menunjukkan Fillandia adalah negara paling makmur, paling nyaman, paling bersih, paling tertib, dan paling bahagia di dunia. Lalu, di mana rahasianya negara yang terletak di Eropa Utara ini, berbatasan darat dengan Swedia di barat, Norwegia di utara, dan Rusia di timur, menjadi negara paling nyaman ditempati di dunia?

Rahasia besarnya ternyata terletak pada “kekayaan hati” penduduknya, bukan pada tingginya pendidikan warganya, bukan pula pada tingginya pendapatan warganya. Kehidupan di Finlandia menyampaikan pesan bahwa kemakmuran dan kenyamanan hidup tidak ditentukan oleh seberapa besar pendapatan dan kekayaan kita, seberapa tinggi pangkat dan jabatan kita, atau seberapa banyak gelar akademik berjejer mengapit nama kita, tetapi seberapa rendah hati kita membumi.

Warga Finlandia menyingkirkan ego untuk saling menghormati, membuang fitnah untuk saling menghargai satu sama lain, menyingkirkan kebohongan untuk berpegang pada kejujuran. Mereka percaya bahwa kejujuran hidup, saling menghormati, dan saling menghargai adalah sumber kemakmuran. Semua itu bermuara pada dua kata “kekayaan hati” yang telah membuat mereka hidup bahagia, nyaman, tenteram, dan makmur.

Efek dari nonton video singkat itu, saya membayangkan hidup dalam suatu lingkungan perumahan sederhana, dimana semua warga memiliki kekayaan hati, menyingkirkan egonya, membuang keangkuhannya, menyingkirkan kebohongannya hingga hidup makmur, nyaman, dan bahagia dengan lingkungan yang tertib, bersih, dan tertata rapi.

Menyadari itu hanya mimpi di dunia nyata, Sipil Institute bersama Elfatih Media Insani menginisiasi rumah jiwa di angkasa bernama “www.bengkelnarasi.com” yang sudah mulai dihuni oleh orang-orang yang memiliki kekayaan hati dari lintas profesi, suku, dan agama. Alhamdulillah, ternyata masih banyak sahabat-sahabat yang sepaham untuk menyingkirkan ego, membuang keangkuhan, menyingkirkan kebohongan, untuk bersatu dalam perbedaan, bersama dalam keragaman, memajukan kegitan literasi untuk peradaban.

Untuk menjaga kebersamaan, kenyamanan, dan kebahagiaan, semua penghuni rumah bengkel narasi (BN) sepakat menggunakan “manajemen satu rasa” dari anggota oleh anggota untuk keluarga besar BN. Sesungguhnya manajemen satu rasa terinspirasi dari sabda Rasulullah saw, ”Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inti manajemen satu rasa BN adalah silaturahmi jiwa tanpa batas tanpa syarat. Suara jiwa, suara alam, suara Tuhan, tidak menuntut dinarasikan tapi dirasakan. Itulah sebabnya pesan yang selalu berhembus melalui kisi-kisi jendela rumah BN di angkasa adalah, “Senyummu senyumku, air matamu air mataku, sehatmu sehatku, sakitmu sakitku, bahagiamu bahagiaku, deritamu deritaku.”

Sahabat, walau beberapa di antara kita secara fisik belum pernah bertemu, tetapi jiwa kita telah disatukan oleh BN di angkasa. Setiap Subuh pemegang kunci BN selalu membuka pintu dengan senyum familiarnya menyambut semua anggota keluarga saling berbagi cerita inspiratif.

Saudaraku, jangan pernah saling melepas tangan, genggam terus jemariku, kita bangun rumah BN di angkasa di atas pondasi dada kita yang lapang, hingga ia bebas nilai. []

*Penulis, inspirator, dan peggerak.

(Visited 393 times, 1 visits today)
3 thoughts on “Membangun Rumah Jiwa di Angkasa”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.